Utang AS Bengkak hingga Rp17.800 T dalam 5 Bulan, Buat Perang Iran?

CNN Indonesia
Jumat, 21 Agu 2026 13:03 WIB
Utang AS membengkak US$1 triliun atau sekitar Rp17.800 triliun (asumsi kurs Rp17.800 per dolar AS) hanya dalam lima bulan saja. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Utang Amerika Serikat (AS) membengkak US$1 triliun atau sekitar Rp17.800 triliun (asumsi kurs Rp17.800 per dolar AS) hanya dalam lima bulan saja.

Saat ini, utang AS tercatat tembus US$40 triliun atau sekitar Rp712 ribu triliun. Ini adalah rekor baru dalam sejarah beban utang negara tersebut.

Mengutip CNN, ledakan utang AS didorong sejumlah faktor struktural, salah satunya pergeseran demografi akibat penuaan populasi. Tidak ada penjelasan mengenai kaitannya dengan kondisi perang saat ini.

Tercatat, sekitar 10 ribu generasi Baby Boomers pensiun setiap harinya, sehingga memaksa kas negara menggelontorkan belanja jumbo untuk program Jaminan Sosial dan Medicare di saat rasio tenaga kerja produktif terus menyusut.

Kondisi tersebut diperparah oleh kebijakan fiskal Kongres AS selama beberapa dekade terakhir yang gencar memangkas pajak, tetapi tetap menggenjot belanja.

Kebijakan itu mencakup Tax Cuts and Jobs Act 2017, paket One Big Beautiful Bill 2025 di era Donald Trump hingga stimulus penanganan pandemi Covid-19 di era Trump dan Joe Biden.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) AS juga mencatat defisit anggaran pemerintah telah menembus US$1,8 triliun atau setara Rp32,05 ribu triliun hanya dalam 10 bulan pertama tahun fiskal berjalan.

Tingginya tumpukan utang yang berbarengan dengan tren suku bunga tinggi kini memicu ledakan biaya bunga pinjaman hingga diproyeksikan melampaui US$1 triliun atau Rp17,8 ribu triliun dalam setahun.

"Jika terus seperti ini, utang kita akan mencapai US$50 triliun hanya dalam enam tahun. Jika kita melihat ke belakang, utang kita masih US$20 triliun kurang dari 10 tahun yang lalu," ujar CEO Peter G Peterson Foundation Michael Peterson.

"Kita benar-benar membahayakan perekonomian dan masa depan negara kita," tambahnya.

Selain itu, tekanan utang senilai Rp712 ribu triliun ini mulai merembet ke pasar obligasi dengan melonjaknya imbal hasil atau yield surat utang pemerintah AS, termasuk US Treasury tenor 30 tahun yang menyentuh level tertinggi sejak 2007.

Kenaikan yield tersebut langsung mengerek suku bunga kredit perumahan atau hipotek, cicilan kendaraan, hingga pinjaman modal usaha bagi masyarakat.

Presiden CRFB Maya MacGuineas menegaskan ancaman fiskal ini pada akhirnya akan memukul langsung dompet konsumen secara luas.

"Utang sebesar US$40 triliun (Rp712 ribu triliun) tidak hanya tercatat di pembukuan pemerintah. Utang tersebut dirasakan di seluruh perekonomian dan pada akhirnya akan berdampak pada dompet masyarakat dengan satu atau lain cara," ungkap MacGuineas.

(ldy/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK