43 Ribu Orang Kena PHK, Pengusaha Beber Alasannya
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani membeberkan alasan angka pemutusan hubungan kerja (PHK) menembus puluhan ribu sejak awal tahun.
Menurut Shinta, PHK merupakan persoalan di hilir. Sementara itu, berbagai masalah yang mendorong perusahaan melakukan PHK justru banyak berasal dari sisi hulu.
Karena itu, Apindo mendorong pemerintah dan pelaku usaha melakukan debottlenecking atau mengatasi berbagai hambatan yang dihadapi industri.
"Makanya kita debottlenecking ini kita fokus banget, karena banyak PHK itu terjadi karena hulunya tidak bisa diselesaikan. Jadi, saya tidak mau melihat hanya angka, kita mesti melihat bagaimana solusinya, jangan sampai PHK itu bisa terjadi," ujar Shinta di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (21/8).
Shinta menilai angka PHK tidak cukup hanya dilihat dari jumlah pekerja yang terdampak. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), sebanyak 43 ribu pekerja terkena PHK sepanjang Januari-Juli 2026.
Menurutnya, dunia usaha saat ini lebih fokus mencari solusi untuk mencegah PHK daripada sekadar melihat jumlah pekerja yang telah kehilangan pekerjaan.
"Kami sekarang sudah tidak mau lihat cuma data, karena kami melihat adalah bagaimana nih solusi antisipasi kita, jangan sampai PHK itu terjadi," ujarnya.
Shinta menegaskan PHK merupakan pilihan terakhir bagi pengusaha karena berdampak terhadap keberlangsungan usaha dan pekerja.
"PHK itu selalu adalah opsi terakhir untuk pengusaha, tidak ada yang mau PHK kalau bisa," katanya.
Shinta mengingatkan industri padat karya menjadi salah satu sektor yang membutuhkan perhatian khusus. Industri tekstil dan garmen, kata dia, masih menghadapi sejumlah persoalan yang dapat memengaruhi keberlangsungan usaha dan penyerapan tenaga kerja.
Ia menyebut ketersediaan bahan baku dan pasokan gas industri sebagai sejumlah persoalan yang perlu diselesaikan.
"Tekstil garmen, salah satu yang dari dulu masih menjadi isu. Jadi banyak sekali kalau industri padat karya itu kan kaitan dengan ketersediaan bahan baku, kaitan kepada gas industri, ini kan semua besar, jadi tentunya akan sangat berdampak kalau ini tidak diselesaikan," ujarnya.
(lau/sfr)