Duduk Perkara Investasi Felda hingga PM Malaysia Minta Bantuan Prabowo
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim meminta bantuan Presiden RI Prabowo Subianto terkait investasi lembaga pengelola dana Malaysia, Federal Land Consolidation and Rehabilitation Authority (Felda) di perusahaan perkebunan kelapa sawit Indonesia.
Investasi Felda di PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) berpotensi menimbulkan kerugian hingga RM2,5 miliar atau sekitar Rp10,9 triliun.
Anwar telah mengirim surat kepada Prabowo untuk meminta perhatian pemerintah Indonesia terhadap investasi Felda yang kini tengah menghadapi proses hukum di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, bagaimana duduk perkara investasi Felda di Eagle High hingga berujung pada permintaan bantuan kepada Prabowo?
Felda melalui anak usahanya, FIC Properties Sdn Bhd, membeli saham Eagle High pada Desember 2016. Nilai transaksi tersebut mencapai US$505,4 juta atau sekitar Rp8,9 triliun (asumsi kurs Rp16.750 per dolar AS).
Investasi tersebut saat itu menuai kritik karena nilai pembelian saham dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan nilai pasar dan harga saham Eagle High.
Investasi itu kemudian menjadi persoalan yang berkepanjangan bagi Felda dan kini berkaitan dengan proses hukum di Indonesia.
Anwar mengatakan investasi tersebut berpotensi membuat Felda mengalami kerugian hingga RM2,5 miliar. Sementara itu, pengembalian yang diperkirakan dapat diperoleh hanya sekitar RM200 juta.
"Investasi ini sedang dalam proses pengadilan di Indonesia. Saya telah menulis surat kepada Presiden Prabowo untuk meminta beliau melihat masalah ini," kata Anwar dalam pertemuan dengan manajemen senior dan para manajer Felda di sebuah hotel di Bangi, Malaysia, seperti dikutip The Star, Sabtu (22/8).
"Jika tidak ditangani, kita berpotensi kehilangan RM2,5 miliar dan hanya mendapatkan kembali RM200 juta," imbuhnya.
Besarnya potensi kerugian tersebut membuat investasi Eagle High menjadi salah satu persoalan yang disoroti dalam upaya pemulihan Felda.
Anwar bahkan menyebut persoalan tersebut sebagai contoh buruk pengelolaan investasi Felda pada masa lalu. Namun, dia menegaskan persoalan tersebut bukan kesalahan para manajer Felda yang saat ini bertugas.
"Saya ingin para manajer memahami betapa sulitnya pemulihan ini. Ini bukan masalah yang disebabkan oleh para manajer," ujarnya.
Menurut Anwar, para manajer Felda di berbagai wilayah Malaysia tidak memiliki keterlibatan langsung dalam keputusan investasi sebelumnya. Kendati demikian, mereka tetap harus menghadapi dampak dari keputusan tersebut.
"Apa hubungannya seorang manajer Felda di Pahang atau Johor dengan hal ini? Namun, kitalah yang harus menanggung konsekuensinya ... itulah masalahnya," katanya.
Anwar juga menegaskan proses penyelidikan, penegakan hukum, dan pengadilan terkait investasi Eagle High merupakan perkara yang terpisah dari upaya pemulihan Felda.
Dia meminta seluruh jajaran manajemen memahami persoalan tersebut sekaligus tetap menjalankan agenda pemulihan lembaga.
"Yang ingin saya tekankan adalah semua manajer Felda harus memahami sepenuhnya persoalan ini. Mereka tidak boleh berkecil hati, tetapi harus menyadari bahwa masalah-masalah ini harus diselesaikan," jelasnya.
Di sisi lain, pemerintah Malaysia tetap berkomitmen mempercepat berbagai proyek kesejahteraan dasar bagi masyarakat Felda tanpa harus menunggu anggaran tahun depan.
Anwar juga menekankan pentingnya tata kelola, integritas, dan akuntabilitas dalam proses pemulihan Felda. Menurutnya, langkah tersebut bukan semata-mata untuk mencari kesalahan pihak tertentu, melainkan menjaga kepercayaan publik dan mengembalikan Felda sebagai institusi yang dapat dibanggakan Malaysia.
(ldy/pta)