Gelaran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 resmi ditutup setelah berlangsung selama empat hari, 20-23 Agustus 2026, di Hall A dan B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.
Bank Indonesia (BI) mencatat adanya peningkatan transaksi penjualan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya.
Deputi Gubernur BI Aida S Budiman mengatakan nilai transaksi penjualan yang tercatat jelang penutupan KKI 2026 mencapai Rp144,2, naik 46 persen dibandingkan KKI 2025. Aida yakin nilai penjualan akan naik setelah dihitung secara menyeluruh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Artinya 3 hari dibandingkan 4 hari 2025. Itu saja sudah menghasilkan untuk penjualan ya Bapak-Ibu naik 46 persen. 144,2 miliar rupiah," ujar Aida saat penutupan KKI 2026, Minggu (23/8).
Berdasarkan data terbaru BI hingga Minggu malam setelah acara penutupan, total transaksi penjualan UMKM selama penyelenggaraan KKI 2026 tercatat mencapai Rp177,21 miliar.
Peningkatan tersebut terutama ditopang penjualan secara offline yang mencapai Rp57,76 miliar atau melonjak 94% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan secara online mencapai Rp119,45 miliar atau meningkat 18% dibandingkan KKI 2025.
Capaian itu menunjukkan penyelenggaraan KKI dengan konsep hybrid semakin membuka peluang bagi UMKM untuk menjangkau konsumen, baik secara langsung melalui pameran maupun melalui kanal digital.
Selain transaksi penjualan, BI mencatat business matching ekspor UMKM mencapai Rp169,9 miliar.
Di sisi lain, business matching pembiayaan mencatat hasil lebih signifikan. Nilainya mencapai Rp285 miliar atau meningkat 30,3 persen dibandingkan rata-rata tiga tahun terakhir.
Menurut Aida, capaian tersebut menunjukkan UMKM Indonesia tetap memiliki daya saing di tengah berbagai tantangan global, termasuk ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung sepanjang 2026.
"Tahun ini kita punya geopolitik yang sangat susah tapi intinya dengan angka yang terjaga tersebut UMKM Indonesia ini berdaya saing," kata Aida.
KKI 2026 Libatkan Lebih dari 1.860 UMKM
KKI 2026 ini menjadi penyelenggaraan ke-11 sejak pertama digelar pada 2016. KKI tahun ini mengusung tema 'Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing'. Acara ini menghadirkan 260 booth dengan partisipasi 560 UMKM secara luring dan 1.300 UMKM lainnya melalui kanal daring.
KKI 2026 turut mengangkat semangat 'Beudaya Meusare Sare' dari Aceh, yang bermakna berdaya bersama-sama. Ungkapan tersebut dipilih sebagai simbol kebangkitan pelaku usaha di Aceh yang belum lama ini terdampak bencana banjir bandang.
Pada sambutannya, Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan pentingnya sinergi seluruh pihak untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional di tengah situasi global yang penuh tantangan.
"Di tengah ketidakpastian ekonomi dan tantangan geopolitik global, kita perlu meningkatkan sinergi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional agar bisa tetap tumbuh dan mempunyai daya tahan yang kuat," ujarnya.
Ia menyebut UMKM merupakan pilar penting perekonomian nasional. Sektor ini menyerap 97 persen tenaga kerja dan menyumbang lebih dari 60 persen produk domestik bruto Indonesia dari total 64 juta pelaku usaha.
Destry menambahkan kredit UMKM masih menjadi pekerjaan rumah bersama dengan pertumbuhannya yang baru mencapai 1,62 persen. Ia mengajak kalangan perbankan yang hadir untuk lebih aktif menyalurkan kredit ke pelaku UMKM.
Direktur Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau Bank Indonesia, Kurniawan Agung, menjelaskan KKI 2026 dirancang untuk mendorong UMKM naik kelas sekaligus memperluas jangkauan pasarnya. Ia menyebut kegiatan ini bukan sekadar pameran, melainkan ruang kolaborasi lintas sektor.
"Kita tidak hanya sekadar pameran saja, KKI ini juga merupakan ajang selebrasi, kemudian merupakan ajang interaksi, jadi ada seminar, ada interaksinya, kemudian ada bisnis matching-nya, kemudian ada pertemuan-pertemuan dengan investor juga dengan agregator," kata dia.
Untuk mewujudkan hal itu, Bank Indonesia menggandeng 27 kementerian dan lembaga serta 34 mitra strategis. Kolaborasi ini mencakup pembinaan kelembagaan UMKM, digitalisasi, penguatan akses pasar, hingga fasilitasi pembiayaan lewat bank umum, lembaga pembiayaan nonbank, dan investor.
Kurniawan menambahkan, tahun ini BI turut menggandeng Kementerian Pariwisata untuk mendorong potensi desa wisata di berbagai daerah. Ia menilai banyak desa wisata binaan yang memiliki keindahan alam tidak kalah dari daerah yang sudah lebih dikenal.
Kebangkitan Aceh
Tema besar KKI 2026 turut mengangkat kekayaan budaya Provinsi Aceh, daerah yang belum lama ini terdampak bencana banjir bandang. Salah satu UMKM binaan yang hadir adalah Kelompok Bungong Geulima, binaan BI Kantor Perwakilan Wilayah Lhokseumawe yang memproduksi kerajinan anyaman pandan.
Ketua Kelompok Bungong Geulima, Ratna Dewi, bercerita usahanya mulai berkembang pesat setelah bergabung menjadi binaan Bank Indonesia pada 2019. Produk yang semula berbahan kain diarahkan memakai pandan dengan warna-warna natural sesuai selera pasar saat ini.
"Setelah kenal dengan Bank Indonesia, warnanya itu lebih ke soft, sangat natural," ucapnya.
Bungong Geulima sempat merasakan pengalaman ekspor pada 2018 lewat kerja sama dengan bank BUMN, namun terhenti akibat pandemi Covid-19. Ratna berharap usahanya bisa kembali menembus pasar ekspor agar produk anyaman pandan buatan kelompoknya memiliki nilai jual lebih tinggi.
Ia turut berencana mengombinasikan produk anyaman pandan dengan motif kerawang khas Aceh serta bahan kulit asli. Kolaborasi ini digagas usai Ratna berkeliling melihat produk UMKM lain di area pameran KKI 2026.
UMKM binaan lain yang turut memeriahkan KKI 2026 adalah Surita Bordir, binaan BI Kantor Perwakilan Wilayah Aceh. Usaha bordir rumahan ini dirintis Surita sejak duduk di bangku kelas 6 SD pada 1999 dengan modal awal hanya seratus ribu rupiah.
Surita menceritakan usahanya sempat naik turun sebelum akhirnya menjadi binaan Bank Indonesia pada 2008. Sejak saat itu, produknya mulai dikenalkan BI ke luar daerah hingga ke luar negeri.
"Kalau manfaatnya sendiri itu banyak sih mas. Selain kita dapat modal usaha, kita dapat peralatan juga, kita ada pelatihan-pelatihan juga," imbuh dia.
Kini omzet usaha bordirnya mencapai ratusan juta rupiah per tahun, dengan capaian tertinggi mencapai 30 hingga 40 juta rupiah per bulan. Meski begitu, Surita mengaku masih menghadapi tantangan mencari pengrajin muda yang mau menekuni bordir secara konsisten.
Ia berharap pemerintah dapat membantu merekrut generasi muda, termasuk anak putus sekolah, untuk menjadi pembordir baru. Menurutnya, profesi ini cukup menjanjikan dan telah membantunya membiayai pendidikan anak hingga membeli rumah.
UMKM lain yang turut hadir adalah Tenun Bungong Jaroe, binaan BI Kantor Perwakilan Wilayah Lhokseumawe. Usaha tenun ini dimiliki Khairiah, yang mengaku beberapa kali mengikuti kurasi KKI sebelum akhirnya lolos pada tahun ini.
Ia menyebut banyak bantuan yang diterima dari Bank Indonesia, mulai dari alat dan bahan produksi hingga kesempatan mengikuti pameran. Khairiah berharap usahanya terus berkembang dan tenun buatannya semakin dikenal luas.
(inh)