Mendag Buka Suara soal Maraknya Kehadiran Beras Khusus di Ritel

CNN Indonesia
Kamis, 27 Agu 2026 19:40 WIB
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso dalam konferensi pers di Kemendag, Jakarta Pusat, Rabu (12/8).
Mendag Budi Santoso menegaskan beras khusus tidak menggeser penjualan beras medium dan premium. Keberagaman produk memenuhi kebutuhan pasar yang berbeda. (FOTO:CNN Indonesia/Dela Naufalia Fitriyani).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso buka suara soal semakin beragamnya beras khusus yang dijual di ritel modern.

Ia menilai kemunculan beras dengan karakteristik tertentu tidak serta-merta menggeser penjualan beras medium dan premium karena masing-masing memiliki segmen pasar berbeda.

"Saya pikir pasarnya beda, pangsanya berbeda. Makanya sekarang juga (Perum) Bulog juga sudah menyediakan untuk beras premium dan medium. Saya pikir itu pangsanya berbeda," kata Budi di Kemendag Jakarta Pusat, Kamis (27/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Budi, keberadaan beras khusus merupakan bagian dari variasi produk yang disediakan produsen untuk memenuhi kebutuhan pasar. Ia mengatakan produsen tetap dapat mengembangkan produk selama tidak melanggar ketentuan yang berlaku dan memenuhi standar yang dicantumkan.

"Bukan semata-mata mengisi market ya, tapi kan namanya produsen itu kan kreatif, ya namanya orang jualan. Tetapi (beras) medium-premium tetap jalan. Silakan saja itu kan sesuai, enggak melanggar aturan ya, sepanjang tadi diikuti standar sesuai dengan yang dia tentukan. Jangan sampai juga enggak sesuai dengan apa yang disampaikan," ujarnya.

Beras khusus kini semakin banyak ditemukan di ritel modern, mulai dari beras long grain hingga produk yang dipasarkan untuk kebutuhan tertentu, seperti beras untuk penderita diabetes dan beras fortifikasi yang diperkaya vitamin.

[Gambas:Youtube]

Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah sebelumnya juga menilai keberadaan produk tersebut tidak otomatis menggeser beras medium maupun premium. Menurutnya, konsumen memiliki daya beli dan kebutuhan yang berbeda.

"Sebenarnya kalau anggota Hippindo mempunyai konsep ya, setiap market tuh punya kelas ya. Jadi ada beras yang (harus sesuai) HET (harga eceran tertinggi), ada beras yang memang mahal. Konsumen itu mempunyai daya beli masing-masing. Ya ada yang memang (mencari beras) organik misalnya," kata Budihardjo, melansir CNBC Indonesia.

Ia mengatakan ritel memiliki tanggung jawab memastikan produk yang dijual sesuai dengan informasi pada kemasan, terutama untuk beras yang membawa klaim khusus seperti organik atau memiliki kandungan tertentu.

"Namun yang kami harapkan, sebagai sektor ritel kami kan bukan produsen, menjualnya harus sesuai. Kalau ngomongnya organik harus organik. Jadi itu adalah perlindungan konsumen," ujarnya.

Budihardjo menilai beragamnya beras khusus muncul mengikuti kebutuhan konsumen yang semakin spesifik. Ia mencontohkan konsumen dengan kebutuhan pangan tertentu hingga warga negara asing yang tinggal di Indonesia dan mencari beras sesuai preferensi asal negaranya.

Dengan demikian, menurut Budihardjo, beras khusus dan beras medium maupun premium dapat tetap berjalan karena menyasar konsumen yang berbeda. Ia juga meminta produk dengan klaim tertentu benar-benar memenuhi informasi yang dicantumkan agar tidak merugikan konsumen.

(del/ins)