AS Ajak Negara G20 'Keroyokan' Lawan Banjir Produk China
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent mendorong negara-negara anggota G20 untuk meninjau kembali hubungan dagang dengan China.
Langkah tersebut dinilai perlu dilakukan untuk mengurangi ketidakseimbangan perdagangan global dan membendung derasnya banjir ekspor China.
Bessent mengatakan surplus perdagangan China yang mencapai sekitar US$1,2 triliun atau setara Rp21.298,8 triliun (asumsi kurs Rp17.750 per dolar AS) tidak dapat dipertahankan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ekonomi dunia tidak bisa memiliki China dengan surplus perdagangan US$1,2 triliun. Di China, ekonominya cukup lemah, dan mereka mencoba mengekspor untuk keluar dari kondisi tersebut. Mereka perlu menyeimbangkan kembali ekonominya," kata Bessent dalam wawancara menjelang pertemuan para menteri keuangan G20, dikutip Reuters, Senin (31/8).
Bessent menilai negara-negara yang menjadi tujuan ekspor produk China perlu memberikan tekanan agar Beijing mengubah model ekonominya, mengikis ketergantungan terhadap ekspor dan menjadi lebih mengandalkan konsumsi domestik.
"Seluruh dunia perlu meninjau kembali ketentuan perdagangan mereka dengan China," ujarnya.
Dorongan tersebut muncul ketika kebijakan tarif tinggi AS terhadap produk China justru mendorong sebagian barang asal Tiongkok mengalir ke negara-negara lain, terutama Eropa dan Amerika Latin.
AS sendiri telah menerapkan tarif tinggi dan pelarangan terhadap sejumlah produk China, termasuk kendaraan. Menurut Bessent, negara-negara industri lain kini menghadapi dampak dari lonjakan banjir impor produk China tersebut.
Menurutnya, negara-negara lain perlu mendorong China untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor dan memperkuat permintaan domestik yang selama ini lemah.
Bessent juga mengatakan AS tengah mendorong penyusunan pernyataan bersama G20 mengenai upaya mengurangi ketidakseimbangan perdagangan dan transaksi berjalan.
"Negara-negara lain di dunia harus meninjau kembali ketentuan perdagangan mereka dengan China," katanya.
Data Biro Sensus AS menunjukkan tarif yang diberlakukan sejak Presiden Donald Trump kembali menjabat pada 2025 telah membantu memangkas defisit perdagangan AS dengan China.
Dalam enam bulan pertama 2026, defisit perdagangan AS dengan China turun sekitar sepertiga dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi US$73,9 miliar.
Meski demikian, Bessent menilai persoalan ketidakseimbangan perdagangan global tidak cukup diselesaikan melalui penguatan nilai tukar yuan China. Ia bahkan menolak gagasan pembentukan kesepakatan seperti Plaza Accord 1985 yang bertujuan memperkuat mata uang negara-negara tertentu terhadap dolar AS.
Menurutnya, fokus utama seharusnya diarahkan pada persoalan subsidi industri China yang besar dan lemahnya konsumsi domestik.
"Itu merupakan cara mudah untuk menghindari penanganan masalah perdagangan yang sebenarnya," ujar Bessent.
Di sisi lain, Bessent mengatakan AS dan China akan tetap melanjutkan pembicaraan terkait kemungkinan pengurangan tarif untuk barang-barang yang tidak strategis serta pengamanan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Ia memperkirakan terdapat sekitar US$30 miliar barang nonstrategis dan nonkritis dari masing-masing negara yang berpotensi dibebaskan dari tarif.
Pertemuan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping juga dijadwalkan berlangsung pada akhir September mendatang. Sebelum pertemuan tersebut, pejabat AS dan China akan melanjutkan dialog mengenai perdagangan dan aturan AI.
(lau/pta)