AAJI Ungkap Pendapatan Asuransi Jiwa Turun 11,2 Persen, Kenapa?

CNN Indonesia
Selasa, 01 Sep 2026 14:16 WIB
Petugas keamanan berjalan di depan berbagai logo perusahaan asuransi di kantor Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Jakarta, Senin (6/7/2020). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Pendapatan asuransi jiwa turun 11,2 persen di semester I 2026, namun premi tumbuh 8,2 persen. (FOTO:ANTARA/Dhemas Reviyanto).
Jakarta, CNN Indonesia --

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) bukukan pendapatan asuransi jiwa turun Rp96,39 triliun secara year-on-year (yoy) di semester I 2026. Angka tersebut turun 11,2 persen dibandingkan capaian periode yang sama tahun lalu yakni Rp108,51 triliun.

Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo mengatakan penurunan tersebut sebagian besar dipengaruhi instrumen investasi yang banyak mengalami tekanan.

"Penurunan ini kita lihat dalam konteks tekanan pada hasil investasi, bahwa paruh pertama 2026 ini instrumen investasi banyak mengalami penyusutan, baik itu saham, obligasi, SBN (Surat Berharga Negara) dan sebagainya " ujar Albertus dalam Konferensi Pers Kinerja Industri Asuransi Jiwa Periode Semester I 2026 (31/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adapun untuk membaca kondisi industri asuransi keseluruhan, Albertus menilai pentingnya melihat indikator-indikator yang berkaitan langsung dengan kebutuhan perlindungan masyarakat. Salah satunya pendapatan premi yang tumbuh positif.

AAJI mencatat pendapatan premi secara unweighted atau tanpa pembobotan mencapai Rp94,75 triliun, alias tumbuh 8,2 persen secara tahunan.

Sementara secara pembobotan, pendapatan premi tercatat Rp58,06 triliun atau turun tipis 0,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

[Gambas:Youtube]

"Dari sisi pendapatan premi kita melihat adanya pertumbuhan positif yang tercermin dari meningkatnya pendapatan premi, jumlah polis, dan jumlah tertanggung. (Itu) menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap perlindungan asuransi tetap kuat," katanya.

Berdasarkan jenis produknya, premi produk tradisional meningkat 6,9 persen menjadi Rp59,03 triliun. Sementara premi unit link tumbuh lebih tinggi, yakni 10,3 persen menjadi Rp35,73 triliun.

Pertumbuhan juga terlihat pada bisnis baru. Premi bisnis baru produk tradisional tumbuh 14,2 persen menjadi Rp37,97 triliun. Adapun premi bisnis baru unit link melonjak 34,5 persen menjadi Rp19,78 triliun.

AAJI menilai kenaikan bisnis baru menunjukkan permintaan masyarakat terhadap perlindungan asuransi jiwa masih tertangani.

Namun, pertumbuhan tersebut tetap perlu diikuti dengan peningkatan kualitas penjualan serta pemahaman nasabah terhadap produk yang dibeli.

Di sisi lain, premi lanjutan secara unweighted turun 6,7 persen menjadi Rp37,01 triliun. Menurut AAJI, kondisi ini perlu menjadi perhatian karena premi lanjutan mencerminkan keberlanjutan perlindungan yang telah dimiliki nasabah.

Adapun kinerja dari sisi pembayaran, industri asuransi jiwa mencatat pertumbuhan klaim dan manfaat sebesar Rp75,57 triliun per Juni 2026. Nilai tersebut meningkat 4,3 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Jumlah penerima manfaat juga naik dari sekitar 4,82 juta orang menjadi 5,01 juta orang.

Klaim kesehatan menjadi salah satu komponen yang mengalami peningkatan. Nilainya mencapai Rp13,58 triliun atau naik 11,3 persen secara tahunan.

Klaim kesehatan dari segmen perorangan tercatat Rp8,74 triliun atau turun 8,6 persen. Sementara klaim kesehatan segmen kumpulan meningkat signifikan sebesar 83,1 persen menjadi Rp4,84 triliun.

Selain klaim kesehatan, pembayaran klaim meninggal dunia juga meningkat 25,5 persen menjadi Rp6,5 triliun.

AAJI mengatakan peningkatan klaim kesehatan perlu dilihat bersama dengan kenaikan biaya pelayanan kesehatan dan pola pemanfaatan layanan kesehatan oleh masyarakat.

Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan SDM (Center of Excellence) AAJI Freddy Thamrin menilai kondisi industri asuransi jiwa secara keseluruhan masih sehat. Pertumbuhan klaim juga masih berada di bawah pertumbuhan premi.

"Jumlah klaim itu peningkatannya masih jauh dibawah peningkatan premi, jadi under control. Secara keseluruhan klaim asuransi masih sehat, masih baik," tandas Freddy.

(lil/ins)