Harga Minyak Turun Tipis ke US$95, Pasar Cermati Eskalasi AS-Iran

CNN Indonesia
Kamis, 03 Sep 2026 11:16 WIB
A picture taken on May 10, 2016 shows over Shaybah, the base for Saudi Aramco's Natural Gas Liquids plant and oil production in the surrounding Shaybah field in Saudi Arabia's remote Empty quarter desert close to the United Arab Emirates, on May 10,
Harga minyak turun tipis ke US$95 pada Kamis (3/9), investor mencermati ketidakpastian akibat kembali pecahnya serangan militer antara AS dan Iran. (Foto: IAN TIMBERLAKE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak turun tipis ke US$95 per barel pada Kamis (3/9), karena investor mencermati ketidakpastian akibat kembali pecahnya serangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Panasnya perang kedua negara berisiko mengganggu pasokan minyak dari Timur Tengah. Serangan terbaru tersebut menjadi baku tembak terbesar antara Amerika Serikat dan Iran sejak Juli, sementara perang kini telah memasuki bulan ketujuh.

Harga minyak mentah Brent berjangka turun 43 sen atau 0,45 persen menjadi US$95,20 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 24 sen atau 0,26 persen menjadi US$90,77 per barel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Harga Brent dan WTI bergerak naik-turun pada sesi perdagangan sebelumnya, dengan masing-masing sempat menguat hingga US$2 per barel dan turun hingga US$1 per barel.

Harga minyak kemudian melemah setelah muncul tanda-tanda sementara bahwa eskalasi terbaru mulai mereda.

"Jika kondisi mereda, meski hal itu masih sangat bergantung pada perkembangan berikutnya, arus minyak yang keluar melalui Selat Hormuz menggunakan kapal yang menyamarkan identitasnya (dark ships) serta transfer minyak antarkapal (ship-to-ship transfers) kemungkinan segera kembali ke level yang terlihat pada akhir pekan lalu." kata analis IG Tony Sycamore dikutip Reuters.

Data awal perusahaan pelacak pelayaran Kpler pada Rabu menunjukkan hanya empat kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz, jauh di bawah rata-rata 10 hari terakhir yang mencapai sekitar 13 kapal.

Iran juga menambah daftar kapal yang dianggap tidak mematuhi aturan. Kapal-kapal tersebut terancam denda, penyitaan, atau penahanan jika mencoba melintasi selat tersebut.

Sementara itu, Amerika Serikat mengatakan pada Selasa bahwa 17 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz pada Senin. AS menyebut volume tersebut sebagai jumlah minyak mentah terbesar yang melewati jalur tersebut sejak perang AS-Israel terhadap Iran dimulai.

Kemarin, Presiden AS Donald Trump mengatakan kampanye militer terbaru AS terhadap Iran tidak akan berlangsung 'terlalu lama. Ia juga mengatakan pasukan AS telah menargetkan sistem radar dan rudal Iran.

"Kami menghancurkan seluruh peralatan baru yang mereka coba bangun di sepanjang Selat Hormuz, sebagian untuk pertahanan, sebagian untuk menyerang... Itu merupakan serangan yang sangat besar tadi malam, dan kami siap melakukan serangan berikutnya kapan pun kami mau," kata Trump.

[Gambas:Video CNN]

(pta)