Blak-blakan Pertamina NRE soal Upaya Percepatan Pengembangan EBT
Pertamina NRE menggeber diversifikasi energi domestik sekaligus mempercepat transisi menuju energi baru dan terbarukan (EBT).
Direktur Perencanaan Strategis & Pengembangan Bisnis Pertamina NRE, Harsono Budi Santoso mengatakan sejatinya upaya transisi telah dilakukan sejak 2008 melalui pengembangan biodiesel.
Saat itu, pemanfaatan biodiesel dimulai dengan campuran 2,5 persen atau B2,5 dan kini telah berkembang menjadi B50.
"Jadi perjalanan cukup panjang, 16-17 tahun, dan setelah itu kita tentunya punya program yang lain lagi. Kalau sebelumnya di sisi BBM diesel, tentunya hari ini kita akan mulai masuk ke BBM gasoline atau bensin," jelasnya dalam acara IndoEBTKE ConEx 2026, Rabu (2/9).
Lihat Juga :IndoEBTKE ConEx 2026 Pertamina NRE Sukses Terangi Pulau Sembur 24 Jam, Siap Sasar Desa Lain |
Pertamina NRE juga mulai mendorong penggunaan bioetanol sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM berbasis fosil.
Harsono mengatakan sejak 2023 Pertamina mulai mencampurkan etanol sebesar 5 persen ke dalam BBM. Produk Pertamax Green 95 dengan campuran tersebut saat ini telah didistribusikan di lebih dari 180 SPBU.
Ia mengatakan pengembangan bioetanol ke depan akan diarahkan tidak hanya pada perluasan distribusi, tetapi juga peningkatan kadar campuran dan pengembangan varian produk baru.
Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, Pertamina menargetkan adanya tambahan sejumlah fasilitas produksi etanol. Salah satunya pabrik etanol di Banyuwangi dengan kapasitas 30 ribu KL yang diharapkan dapat beroperasi dalam dua tahun mendatang.
"Dengan sebaran BBM yang tentunya nanti akan menggunakan etanol di dalamnya baik itu dengan komposisi yang lebih tinggi ataupun dengan sebaran yang lebih luas ataupun dengan varian produk yang nantinya tidak hanya di RON 95," tutur Harsono.
Namun, ia menilai percepatan pengembangan bioetanol masih membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, terutama terkait regulasi, harga, infrastruktur, dan ketersediaan bahan baku.
"Ini tentunya akan membutuhkan support dan juga kerjasama dari kita semua tidak hanya dalam hal regulasi mandatori dari penyerapan etano akan tetapi juga nanti dari sisi pricing policy kemudian dari sisi infrastruktur kemudian juga tentunya dari feedstock yang saat ini masih sangat terbatas," pungkasnya.