Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengakui laju pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tertinggal dibandingkan Vietnam. Meski demikian, bank sentral menilai struktur dan kompleksitas perekonomian nasional memiliki fundamental yang berbeda dengan negara tetangga tersebut.
"Dari sisi pertumbuhan ekonomi, ya kita mungkin kalah sama Vietnam tadi disampaikan. Tapi kan karakter kita beda dengan Vietnam ya, kompleksitas juga masih beda," ujar Destry dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Hotel Kempinski Jakarta Pusat, Kamis (3/9).
Destry menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I tercatat sebesar 5,45 persen dengan kualitas indikator makroekonomi yang jauh lebih terjaga. Salah satunya dari sisi inflasi, yakni tingkat inflasi domestik dinilai jauh lebih terkendali dibandingkan Vietnam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Vietnam dia boleh ekonomi tinggi tapi inflasi dia di atas, 4,5-5 persen seperti itu," tuturnya.
Selain inflasi yang terjaga, ketahanan ekonomi Indonesia juga ditopang oleh disiplin fiskal pemerintah. Defisit anggaran tetap dijaga secara prudent di level 2,8 persen pada 2024 dan diproyeksikan sekitar 2,85 persen pada tahun ini yang disertai rasio utang yang sangat terukur.
Kendati demikian, BI menggarisbawahi bahwa aktivitas ekonomi dalam negeri saat ini sebenarnya masih beroperasi di bawah kapasitas potensialnya (below potential level). Artinya, ruang akselerasi untuk memacu Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia agar tumbuh lebih tinggi dibanding capaian saat ini masih sangat terbuka lebar.
Untuk memacu laju pertumbuhan tersebut, bank sentral menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar mesin ekonomi tidak hanya bergantung pada stimulus pemerintah (state-led).
"Jadi kalau kita bandingkan negara lain, Indonesia itu sebenarnya posisinya tidak jelek. Nah nanti bersama-sama, mari kita bersama-sama kita mendorong pertumbuhan ekonomi kita dan kita enggak bisa bergerak sendiri-sendiri," kata Destry.