Harga Minyak Dunia Menyala ke US$95,67 per Barel Hari Ini

CNN Indonesia
Jumat, 04 Sep 2026 09:15 WIB
Oil Refinery, Chemical & Petrochemical plant abstract at night.
Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 26 sen atau 0,3 persen menjadi US$91,56 per barel. (FOTO:iStock/zorazhuang).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak mentah dunia kembali naik pada perdagangan Jumat (4/9), dan menuju kenaikan mingguan terbesar sejak pertengahan Juli 2026. Penguatan harga dipicu meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran yang berisiko mengganggu pasokan minyak dari Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent berjangka naik 15 sen atau 0,2 persen menjadi US$95,67 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 26 sen atau 0,3 persen menjadi US$91,56 per barel.

Dalam sepekan, harga Brent tercatat melonjak 7,1 persen. Sementara itu, WTI melesat 9,8 persen. Keduanya berada di jalur kenaikan mingguan terbesar sejak pekan yang berakhir pada 20 Juli.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lonjakan harga minyak terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap perkembangan konflik AS-Iran. Serangan AS sepanjang pekan ini yang menewaskan dan melukai puluhan orang, termasuk warga sipil Iran, menjadi salah satu bentrokan paling sengit antara kedua negara sejak Juli.

Perang tersebut telah berlangsung selama tujuh bulan. Konflik bermula setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

Ketegangan juga meningkat setelah Menteri Pertahanan Israel Israel Katz kembali mengeluarkan peringatan bahwa Israel akan 'melumpuhkan' infrastruktur militer dan sipil Iran, termasuk fasilitas energi.

[Gambas:Youtube]

Ancaman terhadap fasilitas energi tersebut menjadi perhatian pasar minyak karena eskalasi konflik berpotensi mengganggu produksi maupun distribusi minyak di kawasan Timur Tengah.

Investor kini mencermati perkembangan konflik AS-Iran untuk mengukur seberapa besar dampaknya terhadap pasokan minyak global. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan membuat pelaku pasar kembali memasukkan risiko geopolitik sebagai salah satu faktor utama yang menopang harga minyak.

Jika eskalasi terus berlanjut dan menyasar fasilitas energi atau jalur distribusi minyak, tekanan terhadap pasokan global berpotensi semakin besar dan mendorong harga minyak untuk kembali naik.

(ldy/ins)