Pertamina Mulai Siapkan Infrastruktur E20

ldy | CNN Indonesia
Jumat, 04 Sep 2026 18:41 WIB
Senior Vice President Business Development PT Pertamina (Persero) Ary Kurniawan dalam Panel Diskusi 'Strategi Implementasi Biofuel untuk Ketahanan Indonesia' di EBTKE ConEx 2026, Kamis (3/9).
PT Pertamina (Persero) mulai menyiapkan infrastruktur untuk mendukung implementasi bahan bakar campuran bioethanol hingga E20. Persiapan dilakukan mulai dari fasilitas terminal BBM hingga infrastruktur di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). (CNN Indonesia/Lidya Julita Sembiring).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Pertamina (Persero) mulai menyiapkan infrastruktur untuk mendukung implementasi bahan bakar campuran bioethanol hingga E20. Persiapan dilakukan mulai dari fasilitas terminal BBM hingga infrastruktur di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Senior Vice President Business Development PT Pertamina Ary Kurniawan mengatakan Pertamina saat ini telah menyiapkan fasilitas untuk penyaluran bioethanol di Jakarta dan Surabaya melalui program Pertamax Green 95 (PG95).

"Kalau kita lihat bagaimana kita bisa mensukseskan E20 seperti B20, kita harus melihat ekosistemnya secara komprehensif juga seperti biodiesel," ujar Ary dalam Panel Diskusi 'Strategi Implementasi Biofuel untuk Ketahanan Indonesia' di EBTKE ConEx 2026, Kamis (3/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, Pertamina juga mulai mempersiapkan terminal-terminal agar dapat menerima produk bioethanol untuk mendukung implementasi E20. Namun, jika program tersebut nantinya diperluas ke seluruh wilayah Jawa dan Bali hingga secara nasional, diperlukan penyesuaian lebih lanjut terhadap sejumlah terminal.

"Untuk terminal-terminalnya ini sudah disiapkan untuk nanti bisa menerima E20. Memang butuh waktu, butuh waktu 1-2 tahun untuk proses penyiapannya," imbuhnya.

Ary mengatakan kesiapan terminal bukan menjadi satu-satunya pekerjaan dalam pembangunan infrastruktur E20. Pertamina juga perlu menyiapkan fasilitas di SPBU agar dapat menerima dan menyalurkan bahan bakar dengan campuran bioethanol.

Penyesuaian tersebut mencakup kesiapan tangki, fasilitas penyaluran, hingga dispenser yang digunakan untuk melayani konsumen.

"Yang jadi isu itu adalah di SPBU. Nah ini yang perlu kita dapatkan juga dukungan dari pemerintah, dan juga nanti dari Hiswana Migas dan juga dari SPBU, bagaimana kita menyiapkan SPBU untuk bisa menerima produk bioethanol," jelas Ary.

Ary menjelaskan pengembangan infrastruktur E20 memiliki tantangan tersendiri karena karakter bioethanol berbeda dengan bahan bakar minyak konvensional.

Bioethanol memiliki sifat lebih higroskopis, sehingga lebih mudah menyerap air. Kondisi tersebut membuat proses penyimpanan dan penyaluran harus dilakukan dengan penanganan khusus untuk menjaga kualitas bahan bakar.

Karena itu, Pertamina juga perlu memberikan pelatihan kepada petugas SPBU mengenai tata cara penanganan bioethanol.

"Kita perlu memberikan pelatihan kepada teman-teman yang akan melakukan pengisian itu. Supaya bisa menjaga kualitas dari biodiesel itu sendiri. Karena memang kalau kita lihat yang namanya bio ini kan dia lebih higroskopis," kata Ary.

Menurutnya, pelatihan tidak hanya dilakukan di SPBU, tetapi juga mencakup terminal Pertamina hingga kapal yang mengangkut produk tersebut. Dengan demikian, infrastruktur E20 akan jadi satu kesatuan mulai dari fasilitas penerimaan, penyimpanan, pengangkutan, hingga penyaluran kepada konsumen.

"Jadi ini kita melihat infrastruktur ini sebagai satu kesatuan yang perlu diintegrasikan sehingga dalam penanganannya itu juga jauh lebih baik," pungkasnya.

(agt)