PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mengungkap tiga hal yang harus dipenuhi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu menembus pasar ekspor.
Direktur Commercial Banking BRI Alexander Dippo Paris mengatakan tiga hal tersebut mencakup kapasitas dan kualitas produksi, literasi keuangan, serta akses bisnis ke pasar luar negeri.
"Kalau dikaitkan, sebenarnya apa sih tantangannya untuk mendorong UMKM kita ini untuk bisa lebih didorong untuk ekspor? Sebenarnya ada tiga," ujar Alexander dalam Indonesia Economic Forum 2026: The Future of Indonesia's Exports, Senin (7/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama, UMKM harus memiliki kapasitas usaha dan kualitas produksi yang memadai. Menurut Alexander, peran perbankan diperlukan untuk membantu pelaku usaha memperoleh modal sehingga dapat meningkatkan kapasitas produksi sekaligus kualitas barang.
"Kapasitas usaha pasti ada kaitannya dengan kemampuan dia mendapatkan modal. Dan di sinilah kita berfungsi," katanya.
Ia mengatakan semakin baik faktor produksi yang dimiliki UMKM, semakin besar peluang produk tersebut dapat diterima oleh pasar, termasuk pasar internasional.
Alexander menyebut BRI terus mendorong pembiayaan bagi sektor UMKM. Berdasarkan data internal perseroan, hampir 65 persen pembiayaan UMKM tahunan disebut berasal dari BRI.
Kedua, UMKM dinilai perlu meningkatkan literasi keuangan. Alexander menilai kemampuan mengelola keuangan menjadi semakin penting ketika pelaku usaha mulai masuk ke pasar ekspor.
"Ekspor itu bukan hanya menjual barang zaman sekarang. Pihak pembeli di luar negeri juga menuntut adanya transparansi keuangan. Kemampuan dari produsen menjelaskan bagaimana cara memproduksi, bagaimana keuangannya, sumbernya dari mana itu juga penting untuk dilihat dari sisi bayar," jelasnya.
Oleh sebab itu, BRI tidak hanya memberikan pembiayaan, tetapi juga pendampingan dan edukasi kepada pelaku UMKM. Perseroan punya sejumlah program pendampingan, di antaranya Klasterku yang telah mencakup sekitar 44 ribu klaster, Desa BRILiaN di sekitar 5.700 desa, serta program LinkUMKM yang telah menjangkau 17,3 juta UMKM.
Lihat Juga :ERUPSI ANAK KRAKATAU Penerbangan Internasional ke Soetta Dialihkan ke 5 Bandara Alternatif |
"Kami tidak hanya memberikan pinjaman kepada UMKM, kami juga membimbing mereka," imbuhnya.
Ketiga, UMKM membutuhkan akses bisnis ke pasar luar negeri. Alexander mengatakan modal dan kapasitas produksi yang baik belum cukup apabila pelaku usaha tidak memiliki akses kepada calon pembeli atau pasar ekspor.
"Punya modal yang cukup, kapasitasnya baik, secara keuangan juga tertata baik, tapi kalau tidak punya akses ke pangsa-pangsa luar negeri juga tidak bisa ekspor," tuturnya.
Untuk membuka akses tersebut, BRI memiliki sejumlah program, salah satunya BRI UMKM Expo. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang pameran produk, tetapi juga mempertemukan UMKM dengan calon mitra bisnis.
Lihat Juga :ERUPSI ANAK KRAKATAU Airlangga Sebut Logistik RI Mulai Terhambat Akibat Abu Vulkanik |
"Di UMKM Expo yang terakhir kami mencatatkan sebesar US$90,6 juta dan itu terus meningkat. Artinya UMKM kita secara granular dan pasti ini memang sudah melihat pasar ekspor ini sebagai the next," terangnya.
Selain itu, BRI mengembangkan konsep One BRI Solution untuk menghubungkan nasabah UMKM dengan ekosistem bisnis yang dimiliki perseroan, termasuk nasabah korporasi dan komersial yang berpotensi membuka akses pasar bagi UMKM.
"Ketika kita punya nasabah UMKM, kita akan coba mencocokkan dengan ekosistem prinsip yang ada. Kita punya nasabah korporasi, komersial, dan di dalam situ kita punya akses yang bisa kita berikan, termasuk sampai dengan ke level ekspor," pungkas Alexander.