Harga Minyak Dunia Meroket ke US$97 Imbas Perang Berkepanjangan

CNN Indonesia
Selasa, 08 Sep 2026 10:27 WIB
Oil Refinery, Chemical & Petrochemical plant abstract at night.
Harga minyak dunia kembali menguat ke US$97 pada Selasa (8/9), di tengah meningkatnya risiko perang berkepanjangan di Timur Tengah. (Foto: iStock/zorazhuang)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (8/9), di tengah meningkatnya risiko perang berkepanjangan di Timur Tengah.

Hal itu memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 34 sen atau 0,35 persen menjadi US$97,34 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) naik US$1,15 atau 1,26 persen menjadi US$92,63 per barel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenaikan harga minyak terjadi setelah Iran mengancam akan melakukan pembalasan jika AS kembali melancarkan serangan terhadap aset-asetnya.

Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak, khususnya di kawasan Teluk Persia yang menjadi salah satu jalur penting pengiriman minyak dunia.

Harga Brent bahkan telah mencapai level tertingginya sejak 24 Juli pada perdagangan sebelumnya. Pelaku pasar terus memasukkan premi risiko ke dalam harga minyak seiring meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz.

Iran pada Senin (7/9), memperingatkan bahwa infrastruktur energi di kawasan Teluk, termasuk kepentingan minyak dan gas milik AS, rentan menjadi sasaran.

Peringatan itu muncul setelah terjadi aksi saling serang antara AS dan Iran sepanjang akhir pekan. Hingga kini belum terlihat adanya terobosan diplomatik yang dapat meredakan konflik.

Pada Sabtu (5/9), pasukan AS dilaporkan menyerang tiga kapal tanker minyak Iran, termasuk satu kapal yang berada di dekat Pulau Kharg. Pulau tersebut merupakan pusat utama ekspor minyak Iran.

Serangan tersebut dilakukan setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan terhadap kapal perang AS yang beroperasi di kawasan tersebut.

Analis ANZ Daniel Hynes menilai eskalasi konflik terbaru meningkatkan kemungkinan terjadinya kebuntuan yang berlangsung lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi membuat pasokan minyak dari kawasan Teluk tetap terbatas hingga akhir 2026.

"Kami tidak memperkirakan arus pasokan kembali sepenuhnya ke tingkat sebelum perang hingga akhir kuartal I atau awal kuartal II 2027," kata Hynes dalam catatannya.

Risiko gangguan pasokan yang berlangsung lebih lama juga mendorong sejumlah lembaga menaikkan proyeksi harga minyak.

Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak Brent dan WTI masing-masing US$5. Untuk Desember 2026, Goldman Sachs kini memperkirakan harga Brent berada di level US$85 per barel dan WTI US$80 per barel.

Untuk 2027, Goldman Sachs memproyeksikan harga Brent berada di US$80 per barel dan WTI US$75 per barel.

[Gambas:Video CNN]

(ldy/pta)