BNI Kucurkan Kredit Ekspor Rp181 T per Juni, Rp36 T Mengalir ke UMKM
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatat total kredit atau pembiayaan yang masih berjalan untuk mendukung kegiatan ekspor mencapai sekitar Rp181 triliun hingga semester I 2026 atau Juni tahun ini.
Direktur Commercial Banking BNI Muhammad Iqbal mengatakan pembiayaan tersebut setara sekitar 20 persen dari total kredit yang disalurkan perseroan.
Menurutnya, dari total pembiayaan Rp181 triliun tersebut, sekitar Rp36 triliun merupakan pembiayaan untuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Per semester I kemarin, outstanding credit kami yang terkait ekspor itu lebih kurang Rp181 triliun. Jadi lebih kurang 20 persen dari total kredit yang kami biayai. Dan dari nilai itu, Rp36 triliun adalah kontribusi dari UMKM," kata Iqbal dalam diskusi Indonesia Economic Forum 2026: The Future of Indonesia's Exports, Senin (8/9).
Iqbal mengatakan aktivitas ekspor Indonesia masih banyak didorong oleh komoditas. Sementara itu, ekspor dari segmen UMKM masih didominasi produk-produk tradisional.
Meski demikian, ia melihat terdapat peluang besar untuk meningkatkan kontribusi UMKM dalam perdagangan internasional melalui penguatan ekosistem ekspor. Menurutnya, volume transaksi yang tercatat dalam sistem BNI menunjukkan peningkatan signifikan.
Dibandingkan tahun sebelumnya, volume transaksi perdagangan yang dicatat perseroan meningkat hampir 50 persen.
"Secara volume, ada peningkatan luar biasa. Dibandingkan tahun lalu, volume yang kami catat di sistem kami itu naik lebih kurang hampir 50 persen. Sekarang nilainya sudah Rp45 triliun. Nilai ekspor kita itu sesungguhnya bisa kita maksimalkan jika kita melakukan pendekatan secara ekosistem," katanya.
BNI juga mendorong ekspor UMKM melalui program business matching yang menghubungkan pelaku usaha dalam negeri dengan pasar internasional. Program tersebut dilakukan dengan memanfaatkan jaringan kantor BNI di sejumlah pusat bisnis dunia.
Iqbal mengatakan program tersebut telah berjalan sejak masa pandemi dan menunjukkan perkembangan signifikan.
Pembiayaan yang disalurkan BNI melalui segmen tersebut, kata dia, awalnya berada di bawah Rp5 triliun dan kini telah mencapai sekitar Rp36 triliun.
"Kami melihat ada kesempatan buat BNI untuk mendorong, menyambungkan pengusaha lokal UMKM dengan market yang ada di luar," ujarnya.
Ia menyebut Amerika Serikat dan Hong Kong masih menjadi pasar terbesar bagi UMKM yang terhubung melalui jaringan BNI. Selain itu, terdapat peluang yang berkembang di Belanda, London, dan Sydney.
Menurut Iqbal, penguatan business matching secara efektif, efisien, dan rutin dapat membantu UMKM Indonesia memperluas pasar ekspor sekaligus meningkatkan nilai perdagangan.
"Kalau kita bisa bikin business matching yang efektif dan efisien dan reguler, ternyata market dari UMKM ini di luar itu bagus sekali," pungkasnya.