Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.632 per dolar AS pada perdagangan Selasa (8/9) sore. Mata uang Garuda menguat 8 poin atau 0,05 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Penguatan rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang bervariasi terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,11 persen. Sementara itu, won Korea Selatan bergerak datar.
Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia melemah terhadap dolar AS. Yuan China turun 0,02 persen, peso Filipina melemah 0,03 persen, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,40 persen, dolar Singapura turun 0,04 persen, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,02 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, seluruh mata uang utama negara maju yang tercatat bergerak melemah terhadap dolar AS. Euro Eropa turun 0,09 persen, poundsterling Inggris melemah 0,12 persen, dolar Australia terkoreksi 0,12 persen, dolar Kanada melemah 0,09 persen, dan franc Swiss turun 0,27 persen.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah pada perdagangan hari ini masih terbatas.
"Rupiah ditutup menguat tipis didukung oleh dolar AS yang relatif masih melemah. Namun, rupiah tertekan oleh kenaikan harga minyak mentah dunia WTI yang mencapai level tertinggi dalam tiga bulan," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Selasa (8/9).
Menurutnya, pelaku pasar juga cenderung menunggu dan melihat perkembangan terbaru karena tidak ada data ekonomi penting yang dirilis dari dalam maupun luar negeri.
"Investor cenderung wait and see di tengah absennya data ekonomi penting, baik dari luar maupun dalam negeri," katanya.
(lau/ins)