Pertamina Sebut Konsumsi Biosolar Subsidi Naik akibat Beda Harga

CNN Indonesia
Rabu, 09 Sep 2026 05:45 WIB
Petugas melakukan pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite ke mobil tangki di Integrated Terminal Balongan, Indramayu, Jawa Barat. Jumat (30/1/2026). PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal (IT) Balongan setiap harinya mampu mendistrib
Pertamina Patra Niaga laporkan peningkatan permintaan Biosolar subsidi akibat disparitas harga. Hal ini didukung 94 persen SPBU yang telah beralih ke B50. (FOTO:ANTARA/Dedhez Anggara).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Pertamina Patra Niaga mengungkapkan permintaan terhadap Biosolar subsidi meningkat seiring adanya disparitas harga yang cukup tinggi dengan produk bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.

Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam implementasi biodiesel B50 yang kini telah menjangkau sebagian besar SPBU di Indonesia.

"Namun memang saat ini dengan adanya disparitas harga yang cukup tinggi antara Biosolar B50 subsidi dengan produk-produk nonsubsidi tentu saat ini ada peningkatan demand dari sektor Biosolar subsidi," ujar Mars Ega dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI, Selasa (8/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, peningkatan permintaan tersebut perlu menjadi perhatian dalam menjaga kelancaran pasokan B50 kepada masyarakat. Terlebih, Pertamina Patra Niaga saat ini menjadi badan usaha dengan jaringan distribusi Biosolar yang sangat luas.

Sebanyak 6.050 dari total 6.412 SPBU yang menyalurkan Biosolar telah beralih ke B50 per Sabtu (5/9). Dengan demikian, sekitar 94 persen SPBU Pertamina Patra Niaga sudah menyalurkan Biosolar B50.

Sementara itu, masih terdapat 362 SPBU yang menyalurkan B40. Mars Ega mengatakan sebagian besar SPBU tersebut berada di wilayah remote area sehingga masih menghadapi tantangan dalam proses handling dan distribusi.

[Gambas:Youtube]

Secara regional, penyaluran B50 telah mencapai 96 persen SPBU di Sumatera bagian utara, 93 persen di Sumatera bagian selatan, 99 persen di Jawa bagian barat, 98 persen di Jawa bagian tengah, 95 persen di Kalimantan, 96 persen di Sulawesi, serta 96 persen di wilayah Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, dan sekitarnya.

Untuk menjaga ketersediaan Biosolar, Pertamina juga mendorong perubahan mekanisme pengelolaan bahan baku biodiesel atau fatty acid methyl ester (FAME).

Ia mengatakan saat ini FAME yang diterima dan disimpan di terminal Pertamina sudah dibedakan menjadi FAME subsidi dan nonsubsidi. Padahal, menurut dia, kebutuhan antara kedua jenis produk tersebut dapat berubah secara dinamis.

"Kami berharap FAME yang masuk ke terminal kami itu belum dibedakan mana FAME subsidi dan FAME nonsubsidi. Jadi perhitungan mana FAME subsidi maupun nonsubsidi dilakukan penyaluran kepada konsumen," jelas Mars Ega.

(ldy/ins)