Ramainya kawasan Blok M usai revitalisasi membawa konsekuensi baru di balik geliat aktivitas dan ekonomi, yaitu volume sampah yang ikut meningkat.
PT MRT Jakarta (Perseroda) menyebut sampah yang dihasilkan kawasan tersebut kini mencapai ratusan kilogram per hari, terutama berasal dari sisa makanan.
Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta Samuel Ryan Pradipta mengatakan pengelolaan sampah menjadi salah satu aspek yang diperhitungkan MRT dalam konsep placemaking yang diterapkan di kawasan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang kedua waste management-nya. Bisa bayangin, sebetulnya dari satu kawasan Blok M itu sampah per hari itu luar biasa, ratusan kilogram. Sangat banyak. Apalagi sampah organiknya itu banyak, sisa makanan dan lain-lain," kata Samuel dalam workshop MRT Jakarta Fellowship Program 2026 di Kantor MRT, Jakarta Pusat, Rabu (9/9).
Ia mengatakan MRT bekerja sama dengan sejumlah pihak dalam pengelolaan sampah, mulai dari sampah organik hingga limbah elektronik atau e-waste, lalu diarahkan untuk didaur ulang.
"Kami kerja sama dengan ekosistem dengan beberapa waste management, baik itu yang organik, bahkan sampai sampah elektronik. Itu semuanya didaur ulang, di-recycle," ujarnya.
Besarnya volume sampah tersebut tak lepas dari perubahan aktivitas di Blok M. Samuel mengatakan jumlah pengunjung Blok M awalnya 400 orang per hari tetapi setelah revitalisasi meningkat menjadi sekitar 40 ribu orang per hari pada hari kerja.
"Di weekend itu 60-70 ribu tanpa event. Kalau ada event itu sempat sampai 80-90 ribu (pengunjung)," lanjutnya.
Menurut Samuel, jumlah kunjungan tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan MRT untuk melihat keberhasilan placemaking. Selain lalu lintas pengunjung, MRT juga mengukur akses dan konektivitas, kenyamanan, serta interaksi antara pengunjung, komunitas dan pelaku usaha.
Untuk aspek kenyamanan, MRT menggunakan survei kepuasan terhadap pelanggan, warga sekitar, dan mitra bisnis. Samuel menyebut survei tersebut dilakukan secara berkala dengan bantuan lembaga independen, antara lain Nielsen dan Ipsos.
Sementara aspek sociability dilihat dari jumlah dan kualitas kolaborasi dengan tenant maupun komunitas.
Keramaian Blok M juga dinilai membawa dampak ekonomi ke kawasan sekitar. Samuel menyebut salah satu festival yang digelar di kawasan Blok M diperkirakan menghasilkan dampak ekonomi sekitar Rp20 miliar hingga Rp30 miliar.
Angka tersebut bukan pendapatan atau keuntungan MRT, melainkan estimasi dampak ekonomi yang dihitung dari berbagai aktivitas selama festival,
"Dari orang inap, dari orang belanja di tenant, kan MRT bisa cek transaksi tenant-nya naik berapa sih di saat festival itu ada, transaksi di event-nya sendiri, di sekitarnya, hotel-hotel okupansinya berapa persen, karena mereka tenant-nya MRT juga, jadi kita bisa cek ke mereka, itu kurang lebih sekitar Rp20 miliar-Rp30 miliar," tuturnya.
Sebagai pembanding, Samuel mengatakan kegiatan berskala besar di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) dapat memberikan dampak ekonomi sekitar Rp70 miliar hingga Rp100 miliar dalam satu acara.
Jika menghadirkan artis internasional, dampaknya menurut dia dapat meningkat hingga sekitar Rp200 miliar, seiring pengeluaran pengunjung untuk hotel, pusat perbelanjaan, dan aktivitas lain di sekitar lokasi.
Di balik angka kunjungan dan transaksi tersebut, MRT mengakui bahwa menghidupkan sebuah kawasan tidak berhenti pada pembangunan fisik. Ada biaya operasional yang harus ditanggung, termasuk kebersihan, keamanan, pengelolaan limbah, hingga perawatan fasilitas.
Samuel mengatakan aspek lingkungan dan sosial menjadi bagian dari penerapan placemaking bersama dengan aspek ekonomi.
"Jadi memang untuk sebuah kawasan ini bisa hidup, sebetulnya mau tidak mau memang nggak bisa komersial sama sekali. Karena kalau menghidupi dirinya sendiri, kawasan itu memang harus punya pendapatan memang. Pendapatan itu yang akan dipakai untuk memelihara kawasannya," katanya.
MRT juga menghitung dampak karbon dari pengembangan kawasan yang berorientasi pada transportasi publik. Samuel mengatakan pihaknya bekerja sama dengan sejumlah lembaga untuk mengukur penurunan emisi di kawasan.
Selain pengelolaan sampah, aspek sosial juga masuk dalam skema tersebut. MRT menyebut menjalankan sejumlah kegiatan tanggung jawab sosial, termasuk donasi kepada masjid di sekitar kawasan dan anak-anak yatim piatu.
Menurut Samuel, tantangannya adalah menjaga agar pertumbuhan bisnis tidak berjalan sendiri sementara aspek lingkungan dan sosial tertinggal. Biaya untuk pengelolaan sampah organik, e-waste, maupun upaya pengurangan emisi juga disebut tidak kecil.
"Jadi kan di satu sisi, perusahaan harus nyari untung, sosialnya juga jalan. Harusnya jalan lah. Enggak bisa salah satu doang yang naik," ujarnya.
Ia mengatakan sebagian pendapatan setelah dikurangi biaya pengelolaan kawasan dapat dialokasikan kembali untuk kebutuhan sosial dan lingkungan.
"Jadi enggak semuanya diserap jadi keuntungan. Kami enggak seperti itu. Jadi tetap harus ada yang kami kembalikan lagi ke sosial dan untungannya," kata Samuel.
Bagi MRT, keramaian menjadi salah satu ukuran keberhasilan placemaking, tetapi bukan satu-satunya. Konsep tersebut juga diarahkan untuk membuat kawasan tetap terhubung dengan transportasi publik, nyaman, aktif, serta memiliki ruang bagi komunitas dan masyarakat.
(del/pta)
