Harga Minyak Bertahan di Atas US$100 Imbas Selat Hormuz Kian Mencekam

CNN Indonesia
Kamis, 10 Sep 2026 10:06 WIB
A projectile is fired during what the U.S. Central Command (CENTCOM) said was a third round of strikes this week against Iran, in this screen grab taken from a handout video released on July 11, 2026. U.S. Central Command/Handout via REUTERS    THIS
Harga minyak dunia bertahan di atas level US$100 per barel pada Kamis (10/9) imbas eskalasi serangan AS dan Iran ke kapal-kapal di kawasan Teluk. (Foto: via REUTERS/U.S. Central Command)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia bertahan di atas level US$100 per barel pada perdagangan Kamis (10/9).

Kenaikan harga minyak terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan yang semakin parah akibat eskalasi serangan Iran dan Amerika Serikat (AS) terhadap kapal-kapal di kawasan Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 0,1 persen menjadi US$101,34 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level US$96,55 per barel atau naik 0,5 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rabu kemarin (9/9), Iran mengatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz. Serangan tersebut terjadi setelah Amerika Serikat menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga menyatakan akan meningkatkan respons apabila serangan lebih lanjut dilakukan terhadap negaranya.

"Serangan balasan yang dilakukan kedua pihak menunjukkan bahwa aliran minyak dari Teluk Persia kemungkinan akan tetap terganggu untuk waktu yang belum dapat diperkirakan," kata analis ANZ Daniel Hynes dalam catatan kepada klien.

Hynes mengatakan meluasnya konflik meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak yang lebih besar. Padahal, pasar minyak global sebelumnya sudah kesulitan menyesuaikan diri dengan hilangnya pasokan dari Timur Tengah.

"Meluasnya konflik mengancam risiko gangguan yang lebih dalam terhadap pasokan minyak yang sebelumnya sudah membuat pasar minyak kesulitan untuk menyesuaikan diri," ujarnya.

Kekhawatiran tersebut juga tercermin dari langkah Administrasi Informasi Energi AS (EIA) yang menaikkan proyeksi harga minyak untuk tahun ini dan tahun depan.

EIA menaikkan proyeksi tersebut karena persediaan minyak global terus menurun akibat hilangnya pasokan dari Timur Tengah.

Dengan eskalasi serangan terhadap kapal dan terganggunya jalur perdagangan di Selat Hormuz, pelaku pasar kini bersiap menghadapi kemungkinan gangguan pasokan yang lebih panjang.

[Gambas:Video CNN]

(ldy/pta)