Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih memiliki ruang untuk menghadapi lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus US$100 per barel.
"Anggarannya masih cukup seperti yang kita hitung sebelumnya," ujar Purbaya saat ditemui di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (10/9).
Purbaya mengatakan pemerintah belum berencana menambah kuota subsidi energi meski harga minyak global meningkat. Namun, pemerintah akan terus memantau perkembangan harga minyak untuk menentukan langkah selanjutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belum (ada rencana menambah kuota subsidi). Kita harus pantau terus perkembangannya. Jangan sampai naik lebih tinggi lagi," ujar Purbaya saat ditanya mengenai kemungkinan penambahan kuota subsidi energi.
Purbaya menjelaskan perhitungan fiskal pemerintah telah mempertimbangkan asumsi harga minyak sekitar US$100 per barel. Dalam asumsi tersebut, defisit APBN dipatok sebesar 2,85 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"Dengan asumsi pada waktu itu kan 2,85 persen itu asumsi US$100 per barel. Walaupun diturunkan sedikit, kan rata-rata sekarang masih di bawah US$90 kalau tidak salah harga minyak dunianya yang kita bayar untuk asumsi APBN. Jadi, masih ada ruang," jelasnya.
Ia menilai pemerintah memiliki pengalaman dalam menghadapi periode harga minyak tinggi sehingga kenaikan harga saat ini belum perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
"Seandainya naik ke level yang sekarang dan bertahan di sini pun, kita kan sudah pernah mengalami. Jadi jangan terlalu khawatir. Kita akan atur anggaran kita tetap berkesinambungan dengan defisit tetap ditekan di bawah 3 persen," terangnya.
Purbaya mengatakan posisi fiskal saat ini juga masih relatif terjaga. Defisit APBN hingga Juli-Agustus masih berada di bawah 1 persen.
"Sekarang saja defisitnya baru 0,91 persen. Juli-Agustus 0,95 lah, enggak naik banyak," ujarnya.
Menurut Purbaya, kenaikan harga minyak dunia juga belum akan langsung menekan daya beli mayoritas masyarakat. Pasalnya, pemerintah masih memberikan subsidi untuk bahan bakar minyak (BBM) tertentu.
"Kalau di-absorb di APBN kan enggak. Sebagian mungkin yang Pertamax yang nggak bersubsidi akan terkena. Tapi kan masyarakat umum daya belinya nggak terganggu. Yang umum yang pakai Pertalite masih disubsidi," ujarnya.
Harga minyak dunia kembali di atas level US$100 per barel pada perdagangan Kamis (10/9). Kenaikan harga minyak terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan yang semakin parah akibat eskalasi serangan Iran dan Amerika Serikat (AS) terhadap kapal-kapal di kawasan Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 0,1 persen menjadi US$101,34 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level US$96,55 per barel atau naik 0,5 persen.
(lau/sfr)