Abu Vulkanik Perburuk Kualitas Udara, Dokter Bagikan Tips Jaga Paru

Advertorial | CNN Indonesia
Jumat, 11 Sep 2026 16:22 WIB
Abu Vulkanik Perburuk Kualitas Udara, Dokter Bagikan Tips Jaga Paru
Ilustrasi. (Foto: Istockphoto/Jun)
Jakarta, CNN Indonesia --

Erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Jumat (4/9), menyebabkan abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah. Berdasarkan pemantauan BMKG hingga Senin (7/9) pagi, abu pada lapisan permukaan hingga sekitar 15.000 kaki terpantau meluas ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup sebagian Banten, Jawa Barat bagian barat-selatan, Lampung, dan Bengkulu. BMKG terus memantau pergerakan abu vulkanik.

Kondisi ini perlu diwaspadai karena paparan abu dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan partikel halus yang terhirup. Menurut Dokter Spesialis Paru Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Sondang Ruth Angelia Sirait, semakin kecil ukuran partikel, semakin jauh partikel dapat masuk ke saluran pernapasan.

"Bahkan sebagian partikel yang sangat halus dapat mencapai saluran napas kecil yang disebut alveolus yang akan menyebabkan peradangan dan stres oksidatif. Karena itu, saat terjadi paparan abu vulkanik, prinsip utama yang perlu dilakukan adalah mengurangi paparan sebaik mungkin," jelasnya.

Sebagai informasi, abu vulkanik terdiri dari campuran partikel dengan ukuran dan komposisi yang beragam. Sebagian fraksi abu yang tersuspensi di udara dapat berada dalam rentang particulate matter (PM).

PM10 adalah partikel dengan diameter aerodinamik 10 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Sementara itu, PM2.5 memiliki diameter aerodinamik 2,5 mikrometer atau lebih kecil dan dapat menembus lebih dalam hingga ke saluran napas kecil di paru.

Semakin kecil partikelnya, semakin besar kemungkinannya mencapai saluran napas yang lebih dalam. Namun, dampak abu vulkanik terhadap kesehatan tidak hanya ditentukan oleh ukuran partikel, tetapi juga konsentrasi di udara, lama paparan, komposisi mineral dan kimia abu, serta kondisi kesehatan individu.

Paparan abu vulkanik dalam jangka pendek dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, rasa tidak nyaman di dada, mengi, hingga sesak napas. Selain pada saluran napas dapat menyebabkan gangguan pada mata dan kulit.

Pada penderita asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), atau penyakit paru kronik lainnya, paparan abu dapat memicu atau memperberat gejala.

Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit paru atau kardiovaskular perlu lebih berhati-hati karena dapat lebih rentan terhadap dampak paparan partikel di udara.

Perlindungan Abu Vulkanik

Cara terbaik melindungi paru adalah dengan mengurangi jumlah abu yang terhirup. Batasi aktivitas di luar ruangan dan hindari aktivitas fisik berat di luar karena peningkatan frekuensi dan kedalaman nafas dapat meningkatkan jumlah partikel yang terhirup.

Jika harus berada di luar ruangan atau membersihkan abu, gunakan masker respirator partikulat seperti KN95, N95 atau standar setara. Pastikan masker menutup hidung dan mulut dengan baik serta tidak terdapat celah besar di sisi masker.

Saat berada di dalam rumah, tutup pintu dan jendela serta kurangi masuknya udara luar yang membawa abu. Bila menggunakan pendingin udara, hindari mode yang mengambil udara langsung dari luar selama kualitas udara masih buruk.

Abu yang telah mengendap dapat kembali beterbangan akibat angin, kendaraan, atau aktivitas pembersihan. Karena itu, hindari menyapu abu dalam keadaan kering. Basahi atau lembapkan abu secukupnya sebelum dibersihkan dan gunakan masker serta pelindung mata saat melakukan pembersihan.

Setelah beraktivitas di luar, bersihkan diri dan ganti pakaian yang terpapar abu. Hindari pula asap rokok dan sumber polusi lain yang dapat semakin mengiritasi saluran pernapasan.

Bagi penderita asma, PPOK, atau penyakit paru kronik lainnya, tetap gunakan obat rutin maupun inhaler sesuai anjuran dokter dan pastikan obat pelega tersedia bila memang telah diresepkan.

Paparan abu juga dapat menyebabkan tenggorokan terasa kering atau teriritasi. Minum air putih yang cukup dapat membantu menjaga hidrasi dan mengurangi rasa tidak nyaman pada tenggorokan, meskipun tidak menggantikan upaya utama untuk menghindari paparan abu.

Pemeriksaan medis sebaiknya dipertimbangkan apabila setelah terpapar abu vulkanik muncul batuk atau sesak napas yang menetap atau semakin berat, mengi, rasa berat atau tidak nyaman di dada, penurunan toleransi aktivitas, atau penyakit paru yang sebelumnya terkontrol menjadi lebih sering kambuh.

Dalam pandangan dr. Sondang, sebagian keluhan akibat paparan abu dapat bersifat sementara dan membaik setelah paparan dihentikan.

"Namun, apabila keluhan menetap, semakin berat, atau terjadi pada seseorang yang memiliki penyakit paru sebelumnya, pemeriksaan diperlukan untuk menentukan apakah terdapat gangguan saluran napas atau fungsi paru yang membutuhkan penanganan lebih lanjut," tuturnya.

Ia pun menyarankan untuk segera mencari pertolongan medis apabila terjadi sesak napas berat, kesulitan berbicara karena sesak, nyeri dada berat, bibir atau ujung jari tampak kebiruan, kebingungan, atau penurunan kesadaran.

Pemeriksaan dan Penanganan

Klinik Paru Bethsaida Hospital Gading Serpong menyediakan pemeriksaan dan penanganan berbagai gangguan pernapasan. Evaluasi dilakukan berdasarkan gejala dan indikasi klinis pasien serta dapat didukung oleh pemeriksaan seperti spirometri, rontgen dada, CT Scan thorax, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan penunjang lainnya sesuai kebutuhan.

Layanan mencakup antara lain penanganan asma, PPOK, pneumonia, tuberkulosis, serta berbagai gangguan paru dan pernapasan lainnya.

Menurut Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, paparan abu vulkanik mengingatkan kita bahwa kondisi lingkungan dapat berdampak langsung terhadap kesehatan paru.

"Bethsaida Hospital Gading Serpong berkomitmen menghadirkan layanan paru terintegrasi, mulai dari konsultasi dan pemeriksaan diagnostik hingga penanganan sesuai kondisi pasien. Masyarakat diharapkan tidak mengabaikan keluhan pernapasan yang menetap atau memburuk dan segera melakukan pemeriksaan bila diperlukan," pungkas dia.

(adv/adv)