Kisah Leni Ubah Kondisi Danau Sipin Bersama Holding Ultra Mikro

PNM | CNN Indonesia
Senin, 14 Sep 2026 13:29 WIB
(Foto: dok PNM)
Jakarta, CNN Indonesia --

Di tepi Danau Sipin, Jambi, Leni yang pernah kehilangan hampir segalanya, memilih untuk tetap mendayung.

Sebelum menjadi Ketua Bank Sampah Dayung Habibah yang sehari-hari mengolah sampah yang ada di Danau Sipin, Leni pernah membesarkan mimpinya di danau yang sama sebagai atlet nasional dayung.

Mimpi itu bermula dari ajang pencarian bakat atlet muda Jambi, di mana Leni keluar sebagai juara. Ia lalu berangkat ke Jakarta untuk mematangkan persiapan mengikuti berbagai kejuaraan, termasuk SEA Games, sebelum anaknya didiagnosis mengidap kondisi kulit langka.

Melepas medali-medali kebanggannya, Leni kemudian menerima undangan Menpora menjadi pelatih dayung di Jambi. Ia pun pulang ke Danau Sipin, yang saat itu dipenuhi sampah.

Merespons kondisi itu, Leni mendirikan Dayung Habibah, gabungan dari kecintaannya pada dayung dan nama sang anak, Habibah. Niat sederhana mengumpulkan sampah perlahan tumbuh menjadi cita-cita mendirikan bank sampah.

Warga sekitar memandang sebelah mata, dan mempertanyakan mengapa anak-anak dilibatkan dalam pekerjaan yang dianggap rendah, sebuah penolakan yang nyaris membuat usaha Leni berhenti bahkan sebelum dimulai.

Tahun 2018 menjadi titik balik kehidupan Leni, setelah berkenalan dengan program pembiayaan dan pemberdayaan Mekaar dari PT Permodalan Nasional Madani (Persero), yakni pembiayaan ultra mikro tanpa agunan yang dirancang khusus bagi perempuan dengan usaha kecil.

Modal awal Rp2,5 juta menjadi benih yang tumbuh bertahap hingga Rp10 juta, sejalan dengan usaha pengolahan sampah yang kini mempekerjakan empat karyawan tetap.

Modal itu pun turut mengubah wajah komunitas di sekitarnya. Sebanyak 15 perempuan yang mulanya bergabung dan menjalani proses pembekalan sebelum pencairan dana kini menjelma jadi kelompok yang perlahan menggerakkan ekonomi warga sekitar Danau Sipin.

Kepercayaan yang bertumbuh membuka pintu lebih lebar bagi Leni untuk terus berkembang, menjadi bagian dari ekosistem layanan keuangan yang lebih luas. Dari Mekaar, langkah Leni berlanjut ke layanan lain dalam satu ekosistem yang sama.

"Sekarang alhamdulillah sayang dapat tambahan pemasukan jadi agen BRILink Mekaar, tetangga yang mau bayar listrik dan biaya sekolah anak tidak perlu jauh-jauh ke kota," tutur Leni.

Sebagai bekal masa depan keluarganya, Leni juga mulai menabung emas lewat Tabungan Emas Pegadaian, yang kini semakin mudah diakses dan dipantau lewat aplikasi digital.

Kerja keras yang dulu dipandang sepele kini menuai pengakuan, termasuk penghargaan Kalpataru. Sementara bagi Leni, penghargaan sesungguhnya adalah danau yang kembali hidup dan anak-anak yang memiliki masa depan lebih cerah.

"Saya menangis, kenapa Allah punya cerita untuk saya begitu. Jadi saya bisa membantu teman-teman," ujar Leni.

Kisah Leni yang berawal dari satu perahu dan satu genggam sampah itu menjadi cerminan dari perjalanan lebih besar yang dirayakan tahun ini. Tanggal 13 September lima tahun lalu, Holding Ultra Mikro (UMi) lahir dari sinergi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero), dengan visi pendampingan bagi pengusaha kecil.

Group CEO BRI, Hery Gunardi menegaskan bahwa lima tahun pertama Holding UMi merupakan fondasi membangun fase pertumbuhan berikutnya. Dengan skala ekosistem yang telah terbentuk, fokus selanjutnya adalah memastikan semakin banyak masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih dalam dari integrasi BRI, Pegadaian, dan PNM.

"Pada akhirnya, tujuan Holding Ultra Mikro bukan sekadar menjadi ekosistem keuangan dengan skala yang besar. Kami ingin menjadi ekosistem yang mampu membuka jalan bagi masyarakat untuk bergerak dari akses keuangan menuju pemberdayaan, dan dari pemberdayaan menuju kesejahteraan. Inilah kontribusi BRI Group untuk memperkuat ekonomi kerakyatan dan menciptakan pertumbuhan yang semakin inklusif," kata Hery.

Direktur Utama PNM, Kindaris, menyatakan Holding UMi belajar dari proses yang terjadi selama lima tahun, bahwa pemberdayaan sejati adalah tentang seberapa jauh ia menuntun seseorang kembali berdiri.

"Kisah Ibu Leni mengingatkan kita, di balik setiap danau yang kembali jernih, ada perempuan yang memilih untuk terus berjuang, dan PNM bersama BRI dan Pegadaian akan selalu berusaha untuk hadir menemani perjuangan itu," pungkas Kindaris.

(rea/rir)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK