Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.669 per dolar AS pada perdagangan Senin (14/9) sore. Mata uang Garuda melemah 58 poin atau 0,33 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Penguatan rupiah terjadi sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang kawasan Asia di zona hijau terhadap dolar AS.
Yuan China menguat 0,01 persen, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,13 persen, dolar Singapura turun 0,31 persen, dan yen Jepang melemah 0,63 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, won Korea Selatan turun 0,30 persen, peso Filipina terdepresiasi 0,24 persen, dan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen terhadap dolar AS.
Senada, mayoritas mata uang utama negara maju juga melemah terhadap dolar AS. Euro Eropa turun 0,52 persen, poundsterling Inggris melemah 0,32 persen, dolar Australia terdepresiasi 0,52 persen, dolar Kanada turun 0,14 persen, dan franc Swiss melemah 0,29 persen.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah melemah terhadap dolar AS terjadi seiring dengan antisipasi kenaikan suku bunga oleh The Fed, bank sentral AS.
Selain itu, rupiah juga tertekan imbas dari harga minyak mentah dunia yang terus melonjak seiring dengan eskalasi di Timur Tengah
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS yang menguat oleh antisipasi kenaikan suku bunga pada FOMC minggu ini. Harga minyak mentah dunia yang terus meningkat oleh eskalasi di Timteng ikut menekan rupiah," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (14/9).
(fln/sfr)