The Fed AS Naikkan Suku Bunga Jadi 3,75-4%, Pertama Sejak 2023

CNN Indonesia
Kamis, 17 Sep 2026 05:38 WIB
The seal of the Board of Governors of the Federal Reserve System is seen on the lectern during a press conference September 17, 2014 at the US Federal Reserve in Washington, DC. AFP PHOTO/Paul J. Richards
Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis point ke 3,75-4,00% pada Rabu (16/9). (Foto: AFP PHOTO/Paul J. Richards)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis point ke 3,75-4,00% pada Rabu (16/9).

Kenaikan ini merupakan yang pertama sejak 2023. The Fed juga mengisyaratkan masih ada peluang satu kali kenaikan suku bunga lagi hingga akhir tahun.

The Fed menegaskan kenaikan in merupakan bagian dari upaya menekan inflasi yang dipicu lonjakan harga minyak dan sejumlah faktor lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip AFP, keputusan kenaikan suku bunga ini diambil dengan suara bulat 12-0 oleh anggota FOMC.

"Inflasi masih berada di level tinggi. Kebijakan yang diambil hari ini diharapkan dapat mendukung kembalinya inflasi ke target The Fed sebesar 2% secara lebih cepat," tulis The Fed dalam rilis resminya.

Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan stabilitas harga menjadi fokus utama dalam mandat lembaganya itu. Ia menegaskan inflasi masih terlalu tinggi dan telah bertahan pada level tersebut dalam waktu yang terlalu lama.

"Faktanya, inflasi masih terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama," ujarnya dalam konferensi pers.

Warsh juga menekankan stabilitas harga merupakan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi AS.

"Kami harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju target kami secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Hari ini, FOMC memutuskan bahwa standar tersebut belum terpenuhi," papar Warsh menambahkan.

Sebagai catatan, inflasi umum AS mencapai 3,4% (year on year/YoY) pada Agustus 2026.

The Fed mempertahankan suku bunga sejak Januari, memilih menunggu untuk menilai dampak guncangan harga energi akibat perang dengan Iran serta membiarkan dampak tarif terhadap harga menyebar ke seluruh perekonomian.

Namun, sejak Juli, semakin banyak pejabat The Fed mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga mungkin diperlukan untuk meredam inflasi, seiring perang yang terus berlangsung dan harga-harga yang tetap tinggi.

Pada Jumat, data indeks harga konsumen (CPI) untuk Agustus tercatat sebesar 3,4 persen-tidak berubah dari bulan sebelumnya, tetapi masih jauh di atas target jangka panjang The Fed sebesar 2 persen.

(rds)
placeholder