Bos BGN Ungkap Banyak Kasus Keracunan MBG Dipicu Lauk-Sayur Rusak

CNN Indonesia
Jumat, 18 Sep 2026 04:45 WIB
Bos BGN Sudaryono ungkap banyak kasus keracunan setelah konsumsi Makan Bergizi Gratis. Penyebab utama adalah makanan rusak, terutama lauk protein hewani. (FOTO:CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkap banyak kasus keracunan yang terjadi usai konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) berkaitan dengan kondisi makanan, terutama lauk dan sayuran yang rusak.

Ia mengatakan lauk dengan sumber protein hewani menjadi jenis makanan yang paling banyak ditemukan dalam kasus tersebut.

"Sampai dengan sejauh ini, saya kan 50 hari ya jadi kepala BGN. Kasus adanya gangguan kesehatan karena MBG banyak sekali terjadi karena faktor rusaknya makanan itu lauk dan sayur. Lebih banyak lauk. Lebih banyak didominasi oleh protein hewani, apakah ayam, telur, ikan, daging dan lain sebagainya dengan olahan-olahannya," kata Sudaryono di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Kamis (17/9).

Menurut Sudaryono, kondisi bahan baku menjadi salah satu hal yang perlu diperketat dalam penyelenggaraan MBG. Ia menilai proses memasak yang sudah sesuai prosedur tetap tidak akan mencegah gangguan kesehatan apabila bahan makanan yang digunakan sejak awal sudah dalam kondisi buruk.

"Mau masaknya benar, kalau bahan bakunya sudah busuk ya enggak, tetap aja orang akan keracunan," ujar Sudaryono.

Karena itu, BGN mulai menerapkan pemeriksaan saat bahan baku diterima oleh dapur MBG. BGN juga tengah menyiapkan sistem semacam marketplace untuk pengadaan bahan baku, khususnya protein hewani yang membutuhkan penanganan khusus.

Sistem tersebut ditujukan untuk memastikan kualitas bahan yang diterima sesuai dengan yang dibeli sekaligus mengawasi harga pengadaan agar tidak terjadi markup.

"Jangan sampai beli katanya beli harga, beli kualitas A tapi ternyata yang datang kualitasnya D, gitu misalnya," kata Sudaryono.

Selain bahan baku, BGN juga melakukan pemeriksaan terhadap atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG. Sudaryono mengatakan pemeriksaan dilakukan secara bertahap dan dapur yang tidak memenuhi standar dapat dihentikan operasionalnya.

"Yang tidak sesuai sudah kita tutup, orang-orang kepala dapur, orang yang bekerja di dapur yang tidak kompeten sudah kita keluarkan, dan ini terus akan kita lakukan," ujarnya.

Ia mengatakan pemeriksaan telah dilakukan terhadap lebih dari separuh dapur MBG. Dapur yang tidak memenuhi persyaratan akan dikenai penghentian sementara atau suspend. Jika tidak melakukan perbaikan dan memenuhi ketentuan, dapur dapat ditutup secara permanen.

BGN juga sebelumnya menyatakan sekitar 1.276 SPPG yang belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) telah ditutup atau dihentikan sementara. Penutupan mencakup dapur yang belum mendaftar, sudah mendaftar tetapi belum lolos, maupun yang masih dalam proses pemenuhan persyaratan.

Ia juga mengatakan BGN mewajibkan kepala dapur berada di lokasi saat proses memasak. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari perubahan tata kelola setelah BGN mengevaluasi praktik sebelumnya.

Sudaryono menyebut penyelenggaraan MBG memiliki tantangan berbeda dibandingkan memasak makanan untuk konsumsi pribadi karena makanan diproduksi dalam jumlah besar setiap hari.

"Jadi ini tidak simpel, ya memang kelihatannya simpel, simpel kalau masak kita untuk diri kita sendiri, ini masak untuk sekian ribu orang setiap hari," ujarnya.

Karena itu, ia mengatakan setiap tahapan harus mengikuti standar operasional prosedur (SOP), mulai dari bahan baku, proses memasak hingga tingkat kematangan makanan.

"Makanan itu harus aman. Makanan itu harus supaya aman bagaimana? SOP-nya harus dijalankan. Masaknya harus benar, matangnya harus benar, sesuai kaidah-kaidah yang benar, bahan bakunya harus sesuai, dan lain sebagainya," imbuh kata Sudaryono.

BGN juga mengantisipasi potensi kejenuhan pekerja dapur karena proses produksi dilakukan setiap hari. Untuk memperkuat pengawasan, BGN menyebut akan berkolaborasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Kesehatan, serta dinas kesehatan di daerah.

Pernyataan Sudaryono disampaikan di tengah sejumlah laporan gangguan kesehatan setelah konsumsi MBG di berbagai daerah.

Salah satunya terjadi di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Sebanyak 193 siswa SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi MBG. Hasil pemeriksaan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Makassar menemukan cemaran bakteri Escherichia coli (E. coli) pada sampel ayam masak bumbu kuning.

Sementara itu, di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, sebanyak 352 siswa dari sejumlah sekolah dasar di Kecamatan Batukliang dilaporkan mengalami keluhan seperti muntah-muntah dan pusing setelah mengonsumsi MBG. Saat itu, pihak berwenang masih melakukan penanganan dan pendataan korban.

Kasus lain dilaporkan di Sidoarjo, Jawa Timur. Sebanyak 748 santri dan pelajar di 19 sekolah di kawasan Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi MBG. Dapur SPPG yang menyuplai makanan tersebut kemudian dihentikan sementara sambil dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Dugaan gangguan kesehatan setelah konsumsi MBG juga dilaporkan di Pati, Bantul, dan Madiun. Penyebab masing-masing kejadian masih bergantung pada hasil pemeriksaan dan investigasi pihak berwenang.

(del/ins)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK