Bank Sentral Jepang Naikkan Suku Bunga ke Level Tertinggi Sejak 1995

CNN Indonesia
Sabtu, 19 Sep 2026 04:30 WIB
Japanese state flag waving on the wind against the sky
BOJ menaikkan suku bunga acuan menjadi 1,25 persen dari sebelumnya 1 persen pada Jumat (18/9), menjadi level tertinggi dalam 31 tahun. (Foto: iStockphoto/blinow61)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga acuan ke level tertinggi dalam 31 tahun pada Jumat (18/9). Kenaikan tersebut sekaligus menandai sinyal bank sentral Jepang masih membuka ruang untuk menaikkan biaya pinjaman guna meredam tekanan inflasi.

BOJ menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 1,25 persen dari sebelumnya 1 persen. Keputusan tersebut diambil melalui pemungutan suara dengan hasil 7-2, dengan anggota dewan Toichiro Asada dan Ayano Sato menentang kenaikan.

Kenaikan suku bunga tersebut merupakan yang pertama dalam tiga bulan dan membawa suku bunga BOJ semakin mendekati level yang dinilai netral bagi perekonomian Jepang. Kebijakan itu juga menjadi langkah lanjutan BOJ untuk meninggalkan era suku bunga ultra-rendah yang telah berlangsung selama beberapa dekade.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Inflasi grosir masih tinggi dan tekanan harga dari transaksi antarbisnis mulai merembet ke harga konsumen," kata BOJ dalam pernyataan yang mengumumkan keputusan tersebut, mengutip Reuters, Jumat (18/9).

BOJ juga mengatakan inflasi yang mendasari telah mendekati target 2 persen. Kondisi tersebut terjadi ketika perusahaan terus meneruskan kenaikan biaya upah kepada konsumen dan ekspektasi inflasi meningkat.

"Inflasi yang mendasari telah mendekati 2 persen," kata BOJ.

Bank sentral Jepang menilai perkembangan ekonomi dan harga masih bergerak sesuai dengan proyeksi dasarnya. Namun, BOJ memperingatkan terdapat risiko inflasi yang mendasari dapat menyimpang dari target 2 persen.

Kenaikan tersebut membawa suku bunga BOJ masuk ke dalam estimasi kisaran suku bunga netral nominal Jepang sebesar 1,1-2,5 persen. Suku bunga netral merupakan tingkat yang dinilai tidak mendorong maupun menekan pertumbuhan ekonomi.

Pasar kini menantikan konferensi pers Gubernur BOJ Kazuo Ueda untuk memperoleh petunjuk mengenai kecepatan dan waktu kenaikan suku bunga berikutnya pada Jumat sore ini.

Meski demikian, suku bunga Jepang masih berada di bawah bank sentral utama lainnya. Suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) berada di 2,5 persen setelah kenaikan pekan lalu, sedangkan Federal Reserve AS berada di kisaran 3,75-4 persen.

Perbedaan suku bunga yang masih lebar tersebut berpotensi menjaga yen tetap lemah terhadap mata uang lainnya. Kondisi itu dapat meningkatkan biaya impor dan menambah tekanan inflasi di Jepang.

BOJ mengakhiri kebijakan stimulus selama satu dekade pada 2024 dan telah beberapa kali menaikkan suku bunga, termasuk pada Juni. Kenaikan dilakukan sekitar dua kali dalam setahun seiring keyakinan bank sentral bahwa Jepang semakin dekat untuk mencapai target inflasi 2 persen secara berkelanjutan.

Namun, lambatnya kenaikan suku bunga BOJ dinilai sejumlah pihak menjadi salah satu faktor yang membuat yen tetap lemah. Pelemahan yen, ditambah lonjakan biaya energi akibat perang Iran, kemudian mendorong kenaikan inflasi grosir yang berpotensi merembet ke harga konsumen.

Inflasi konsumen inti Jepang tercatat bertahan di sekitar target 2 persen pada Agustus. Data tersebut menunjukkan perusahaan masih meneruskan kenaikan biaya ke konsumen, terutama untuk berbagai produk makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Pasar sebelumnya hampir sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga pada September setelah sejumlah sinyal hawkish dari BOJ.

Salah satunya, peringatan pada Juli mengenai risiko inflasi melampaui target akibat kenaikan biaya bahan bakar, biaya impor yang terdorong pelemahan yen, serta tingginya permintaan investasi kecerdasan buatan (AI).

Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyatakan dukungannya terhadap langkah moneter yang "tegas" untuk mengatasi pelemahan yen dalam pertemuannya dengan Ueda bulan ini.

Namun, sejumlah pejabat BOJ, termasuk Ueda, masih belum memberikan gambaran jelas mengenai kecepatan dan besaran kenaikan suku bunga berikutnya. Mereka menilai kebijakan tersebut akan sangat bergantung pada prospek inflasi serta dampak kenaikan suku bunga sebelumnya terhadap kondisi keuangan.

Dalam jajak pendapat Reuters terhadap para analis, BOJ diperkirakan menaikkan suku bunga menjadi 1,5 persen pada akhir Maret 2027 dan kembali menjadi 1,75 persen pada kuartal II 2027. Mayoritas analis memperkirakan tingkat suku bunga terminal setidaknya berada di 1,75 persen.

[Gambas:Video CNN]

(lau/pta)