Dunia kerja menuntut lulusan perguruan tinggi memiliki kemampuan lain di luar indeks prestasi kumulatif. Riset gabungan Harvard Business School dan Kellogg School of Management yang menganalisis lebih dari 1.000 jenis pekerjaan dan 70 juta perpindahan karier menemukan bahwa pemilik soft skill kuat lebih mudah beradaptasi dan berpenghasilan lebih tinggi.
Persoalan itu coba dijawab Tanoto Foundation, organisasi filantropi di bidang pendidikan yang didirikan Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto sejak 1981, lewat Program Transformasi Edukasi untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan (TELADAN). Berbeda dari beasiswa pada umumnya yang hanya memberi dukungan finansial, program ini dirancang sebagai program pengembangan kepemimpinan dan soft skill yang terstruktur.
Program ini terus berjalan dengan menjaring angkatan baru setiap tahun. Angkatan 2026 misalnya, telah dikukuhkan sebagai 176 Tanoto Scholars baru melalui seleksi berlapis yang berlangsung sejak Juli hingga November 2025 dari total 9.283 pendaftar di seluruh Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ke-176 Scholars itu berasal dari 10 perguruan tinggi mitra Tanoto Foundation, yakni Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, dan Universitas Diponegoro. Selain itu ada pula mahasiswa dari IPB University, Universitas Riau, Universitas Sumatera Utara, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Mulawarman.
Selama tujuh semester, para Scholars angkatan ini akan dibentuk melalui sembilan karakter inti yang menjadi fondasi program. Kesembilan karakter tersebut meliputi kesadaran diri, pola pikir berorientasi target, kemampuan berinovasi, semangat belajar berkelanjutan, kepedulian terhadap sesama, kemampuan memberdayakan orang lain, ketangguhan, integritas, dan jiwa kewirausahaan.
Pada peluncuran program ini beberapa waktu lalu, Wakil Gubernur Jakarta, Rano Karno, menyampaikan dukungan terhadap upaya Tanoto Foundation menciptakan kesempatan yang setara bagi masyarakat lewat pendidikan. Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa kesempatan yang diterima para Scholars merupakan bentuk kepercayaan besar.
"Kesempatan yang kalian dapatkan hari ini adalah bentuk kepercayaan besar, bahwa pendidikan mampu mengubah hidup seseorang, bahkan arah suatu bangsa," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9).
Ia pun berpesan agar di titik-titik penting kehidupan mereka kelak, para Scholars mengingat momen pengukuhan itu sebagai pengingat untuk menjadi teladan lewat nilai dan dampak positif yang mereka bawa ke sekitarnya.
Rano juga menegaskan bahwa keberuntungan bukan sesuatu yang diwariskan, melainkan harus diperjuangkan.
"Esensi Program TELADAN bukan soal kenyamanan pribadi, melainkan bagaimana beasiswa ini bisa membuka jalan bagi orang lain, menjadi cahaya dan menciptakan dampak bagi banyak orang," tegas dia.
Senada dengan Rano, Chief Executive Officer Tanoto Foundation, Benny Lee, menegaskan bahwa Program TELADAN merupakan bagian dari komitmen jangka panjang yayasan untuk menyiapkan pemimpin masa depan Indonesia. Menurut dia, pemimpin tersebut harus unggul secara akademik sekaligus kuat secara karakter.
"Program TELADAN merupakan bagian dari komitmen jangka panjang yayasan untuk menyiapkan pemimpin masa depan Indonesia yang tidak hanya unggul secara akademik, tapi juga kuat secara karakter," tuturnya.
Ia menyebut integritas dan empati sebagai bekal bagi para Scholars untuk menciptakan dampak nyata bagi masyarakat.
Benny juga mendorong para Tanoto Scholars memanfaatkan kesempatan ini lewat semangat pay it forward, yakni menyalurkan manfaat yang mereka terima kepada masyarakat yang lebih luas.
"Terpilih dari ribuan pendaftar bukan alasan untuk berpuas diri, melainkan menjadi titik awal untuk terus belajar dengan rendah hati sembari menciptakan dampak bagi komunitas sekitar," ucap dia.
3 Tahap Pemimpin
Program TELADAN sendiri dirancang berlangsung selama 3,5 tahun dan terbagi dalam tiga fase pengembangan bagi setiap angkatan. Fase pertama disebut Lead Self yang berlangsung pada semester dua hingga empat, berfokus membangun kesadaran dan kepemimpinan diri.
Fase kedua adalah Lead Others pada semester lima hingga enam, yang mengasah kemampuan memimpin dan berkolaborasi dengan orang lain. Fase terakhir berupa Persiapan Profesional pada semester tujuh hingga delapan, sebagai tahap pematangan menuju dunia kerja.
Sepanjang program berjalan, para Scholars mendapat berbagai kesempatan pengembangan diri, mulai dari pengabdian masyarakat hingga jejaring nasional sesama Tanoto Scholars. Mereka juga memperoleh pengalaman magang serta program pengembangan diri berskala global dan persiapan karier.
Setelah lulus, para Scholars bergabung dengan jaringan alumni lintas negara. Jaringan ini merupakan komunitas kepemimpinan yang berkomitmen pada pembelajaran, kolaborasi, dan dampak positif berkelanjutan.
Klaim soal dampak program ini pun didukung data yang telah teruji. Berdasarkan TELADAN Programme Evaluation Report: Enhancing Leadership Capacity and Graduate Competitiveness in Indonesia yang dipublikasikan pada 2025, alumni TELADAN memiliki peluang 27 persen lebih tinggi untuk mendapatkan pekerjaan dibandingkan mahasiswa yang tidak mengikuti program ini.
Di samping itu, alumni TELADAN juga memiliki kemungkinan 36 persen lebih besar meraih pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan kelompok pembanding. Evaluasi tersebut menemukan bahwa Program TELADAN menggandakan peluang mobilitas sosial ke atas bagi para alumninya.
Sejumlah alumni bahkan tercatat mampu menyamai atau melampaui pendapatan orang tua mereka hanya dalam satu tahun pertama bekerja. Dari sisi dunia kerja, para pemberi kerja menilai alumni TELADAN memiliki daya adaptasi, kemampuan kepemimpinan, dan keterampilan komunikasi yang kuat.
Temuan tersebut menjadi bukti bahwa investasi pada pembentukan karakter dan soft skill membuahkan hasil yang terukur di dunia kerja. Hal ini sejalan dengan tujuan Program TELADAN yang tidak hanya menilai calon pemimpin dari prestasi akademik semata.
(rir)