Mentan Amran Geram RI Jadi Incaran Penyelundupan Beras Ilegal

CNN Indonesia
Selasa, 22 Sep 2026 14:33 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melakukan inspeksi mendadak (sidak) di kawasan Bea Cukai Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, menyusul penangkapan ribuan ton beras ilegal yang diduga kuat diselundupkan tanpa prosedur karantina dan kepabeanan.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengungkapkan Indonesia jadi target penyelundupan beras. Ia desak penegak hukum bertindak tegas untuk melindungi petani. (FOTO:Dok. Istimewa).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi incaran praktik penyelundupan komoditas pangan, khususnya beras. Hal itu seiring keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan nasional.

Amran menyebutkan upaya pemasokan beras secara ilegal tersebut sudah terjadi berulang kali melalui berbagai modus. Ia menilai maraknya penyelundupan ini didorong oleh besarnya potensi pasar di dalam negeri serta tekanan dari negara-negara eksportir dunia yang kehilangan pasar akibat Indonesia menghentikan keran impor beras.

"Ini kejadian yang ketiga kalinya. Yang pertama dulu di Sabang 200 ton, kemudian Batam 1.000 ton, kemudian masuk Surabaya, bawang. Kemudian Semarang, ini sudah masuk Jakarta. Ini sudah sangat keterlaluan," ujar Amran dalam konferensi di Kantor Pusat Bea dan Cukai, Jakarta Timur, Selasa (22/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Amran, upaya penyelundupan pangan tidak boleh dipandang sebelah mata hanya dari volume barang yang ditangkap. Ia mengingatkan terkait dari kasus-kasus sebelumnya, masuknya komoditas ilegal ke Indonesia berpotensi membawa dampak buruk yang masif, mulai dari ancaman penularan penyakit hewan hingga kerugian triliunan rupiah yang langsung menghantam perekonomian petani lokal.

"Jangan melihat jumlahnya, dampaknya. Indonesia pernah kecolongan, itu 2022-2023, itu masuk daging hanya satu kontainer ilegal waktu itu, tetapi dampaknya merugikan petani Rp40 triliun, 2 juta sapi yang kena penyakit kuku dan mulut, foot and mouth disease," tegasnya.

Amran menambahkan aksi penyelundupan beras ilegal ini merupakan ancaman serius yang mencederai sekitar 115 juta petani Indonesia yang tengah menikmati hasil positif dari kemandirian pangan.

Oleh karena itu, ia mendesak aparat penegak hukum agar memberikan hukuman seberat-beratnya kepada para pelaku maupun residivis mafia pangan guna menimbulkan efek jera.

"Kami memohon dari Kabareskrim, kami memohon. Yang dulu banyak yang bertanya, 'Mana tersangkanya?' Sudah 102 yang tersangka yang dulu. Kemudian itu perintah Bapak Presiden, memang ditindak tegas. Yang kemarin kami sudah kirim ke Pak Kapolri, ini tersangkanya. Nah, moga-moga ini kalau bisa dihukum seberat-beratnya dari Reskrim," tandas Amran.

(fln/ins)