Analis Prediksi BI Rate Tetap 5,75 Persen Bulan Ini

CNN Indonesia
Rabu, 23 Sep 2026 06:55 WIB
FILE PHOTO: FILE PHOTO: Bank Indonesia's logo is seen at Bank Indonesia headquarters in Jakarta, Indonesia, September 2, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana/File Photo/File Photo
Sejumlah ekonom dan analis keuangan memperkirakan Bank Indonesia akan menahan suku bunga acuan BI Rate pada Rapat Dewan Gubernur September 2026. Ilustrasi. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana).

Analis Pasar Keuangan Ariston Tjendra juga menilai BI tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga. Ia melihat pergerakan rupiah yang relatif stabil setelah The Fed menaikkan suku bunga menjadi salah satu pertimbangan.

"Kalau kita lihat pergerakan rupiah yang tidak terlalu melemah ketika pengumuman kenaikan suku bunga acuan AS, masih di kisaran Rp17.750-an, jadi ada kemungkinan BI tidak terburu-buru menaikkan suku bunga acuannya," kata Ariston.

Menurut dia, peluang BI menahan suku bunga juga didukung oleh membaiknya aliran dana asing serta posisi cadangan devisa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini bisa didukung oleh membaiknya aliran dana asing dan kekuatan cadangan devisa kita. Data aliran dana asing Q3 juga masih cukup besar Rp141 triliun, cadangan devisa di Agustus 2026 juga masih naik jadi US$146 miliar," ujarnya.

Meski demikian, Ariston menilai arah kebijakan BI tetap akan bergantung pada perkembangan kebijakan The Fed dan pasar keuangan global.

"Kebijakan BI ke depan tentunya dinamis mengikuti perkembangan kebijakan The Fed dan pasar keuangan. Jadi kalau terjadi perubahan yang signifikan, BI pasti akan memperbarui kebijakannya," pungkasnya.

Risiko Tekanan Rupiah

Berbeda dengan empat analis sebelumnya, Lukman Leong menilai BI idealnya kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Menurut Lukman, inflasi domestik memang masih berada dalam target BI.

Namun, kenaikan inflasi tetap memberikan tekanan terhadap rupiah. Selain itu, harga minyak mentah dunia yang masih tinggi berpotensi menambah beban fiskal.

"Idealnya BI kembali menaikkan suku bunga," kata Lukman.

Ia memperkirakan kenaikan sebesar 25 basis poin dapat menjadi respons terhadap tekanan eksternal, terutama imbal hasil obligasi global dan harga minyak mentah dunia yang masih tinggi.

Lukman juga memperkirakan apabila bank sentral memilih mempertahankan BI Rate, rupiah berpotensi kembali melemah.

"Apabila dipertahankan, rupiah diperkirakan akan melemah," ujarnya.

(lau/sfr)

HALAMAN:
1 2