HARI TANI 2026

8 Komoditas Jadi Penanda Keberhasilan Swasembada Pangan

CNN Indonesia
Kamis, 24 Sep 2026 14:15 WIB
Sejumlah pedagang beras toko kelontong di sejumlah pasar tradisional. Jakarta, Rabu, 27 Agustus 2025. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Pemerintah menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada pangan untuk delapan komoditas mulai dari beras, telur ayam, hingga bawang merah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menyebut delapan komoditas pangan telah mencapai swasembada.

Menurutnya, sejumlah komoditas bahkan sudah mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri hingga mencatatkan ekspor.

"Ada delapan (komoditas yang sudah swasembada pangan). Beras, jagung untuk pakan (peternak), bawang merah, ayam, telur. Pakan ini ada ekspor kan. Beras ekspor, telur ayam ekspor," ujar Amran di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Rabu (16/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Amran mengatakan indikator swasembada tersebut tak hanya dilihat dari penghentian impor, tetapi juga kemampuan produksi dalam negeri dalam mencukupi kebutuhan masyarakat. Menurutnya, ketika produksi domestik sudah cukup, pemerintah dapat menghentikan impor.

"Oh, dua-duanya. Kita karena produksi cukup, ya kita hentikan impor," katanya.

Ia mencontohkan kondisi beras yang kini disebut tidak lagi menjadi penyumbang inflasi. Hal serupa terlihat pada komoditas telur dan ayam yang mengalami penurunan harga ketika pasokannya meningkat.

"Terakhir itu, bukan lagi untuk beras ya. Bukan lagi beras sebagai penyumbang inflasi. Tapi baru-baru ini lihat, (harga) telur dengan ayam turun enggak di bawah? Turun kan harganya? Berarti supply-nya melimpah," ujar Amran.

Amran mengatakan pemerintah juga tetap mengawasi harga komoditas pangan tersebut agar ketersediaannya dapat dirasakan masyarakat.

Senada, Sekretaris Utama Bapanas Ito Hediarto mengatakan pemerintah menetapkan 11 komoditas pangan pokok sebagai sasaran swasembada.

Dari jumlah tersebut, delapan komoditas disebut sudah mencapai swasembada, bahkan sebagian telah diekspor.

"Di Peraturan Presiden yang kemarin itu kan ada 11 (komoditas pangan) ya. Dari 11 itu kita delapan sudah swasembada, bahkan sudah ada yang ekspor. Memang kita masih ada tiga (komoditas) lagi PR kita yang kita kejar sekarang kan, ada sapi, susu, sama kedelai," kata Ito.

Menurut Ito, tiga komoditas tersebut masih membutuhkan waktu karena produksi dalam negeri masih bergantung pada pasokan dari luar negeri. Ia mengklaim pemerintah akan mengurangi ketergantungan tersebut secara bertahap.

"Perlu waktu, memang perlu waktu. Kita perlu waktu. Karena untuk sapi, untuk susu, termasuk untuk kedelai tidak semudah seperti kita ngurusin jagung dengan beras," ujarnya.

Untuk menjaga swasembada dalam jangka panjang, pemerintah tidak hanya mengandalkan penghentian impor. Ito mengatakan peningkatan produksi dilakukan antara lain melalui kenaikan indeks pertanaman (IP), yakni meningkatkan frekuensi panen di lahan yang sama.

"Nah, itu kita meningkatkan nilai IP ya. Nanti panennya bertambah yang tadinya satu kali jadi dua kali, dua kali (jadi) tiga kali," kata Ito.

Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan pencetakan sawah baru untuk menjaga keberlanjutan produksi dalam lima hingga 10 tahun mendatang. Program tersebut antara lain dikerjakan di Papua dan Kalimantan.

"Namun untuk menjaga sustain untuk lima tahun, 10 tahun ke depan, kita harus cetak (sawah) lagi. Makanya sedang dikerjakan di Papua, di Kalimantan, dan seterusnya itu," ujarnya.

Ito mengatakan indikator swasembada juga berkaitan dengan ketersediaan pangan bagi masyarakat. Menurutnya, pemerintah saat ini berupaya memastikan kebutuhan pangan, khususnya beras, tetap tersedia.

"Jadi itu dua-duanya kita jalankan. Tapi sekarang yang kita jaga adalah bagaimana untuk pangannya Indonesia, khususnya untuk beras itu ada. Kalau itu jaga, aman," kata Ito.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Stok Beras Bulog dan Peluang Ekspor BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2