8 Komoditas Jadi Penanda Keberhasilan Swasembada Pangan
CNN Indonesia
Kamis, 24 Sep 2026 14:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pemerintah menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada pangan untuk delapan komoditas mulai dari beras, telur ayam, hingga bawang merah. (ANTARA FOTO/Henry Purba).
Stok Beras Bulog dan Peluang Ekspor
Di tengah klaim keberhasilan swasembada tersebut, stok beras yang dikuasai Perum Bulog juga berada pada level jutaan ton.
Adapun total stok beras yang dikuasai Bulog mencapai sekitar 4,705 juta ton, terdiri atas 4,697 juta ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan sekitar 7.220 ton beras komersial (KOM).
Stok tersebut disebut telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan siap untuk didistribusikan.
Ketersediaan stok tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah membuka peluang ekspor setelah kebutuhan dalam negeri dinilai tercukupi.
Pada Maret 2026, Indonesia mengirim sekitar 2.280 ton beras premium ke Arab Saudi untuk kebutuhan jemaah haji Indonesia. Saat itu, pemerintah juga menyebut sedang menjajaki pasar beras ke Papua Nugini, Malaysia, dan Filipina.
Peluang ekspor tersebut kemudian berlanjut ke Malaysia. Pada Agustus 2026, Indonesia mengirim 1.000 ton beras premium ke Malaysia, dengan pasar Sarawak disebut berpotensi menyerap hingga 200 ribu ton per tahun.
Selain pasar tersebut, pemerintah juga menyebut Indonesia sebelumnya pernah mengekspor beras ke Palestina dan Mesir.
Dengan demikian, pasar yang telah disebut dalam rangkaian ekspor maupun penjajakan Indonesia mencakup Arab Saudi, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Palestina, dan Mesir.
Ito mengatakan ketersediaan pangan juga diupayakan berjalan bersama dengan peningkatan kesejahteraan petani. Salah satu indikator yang digunakan pemerintah adalah Nilai Tukar Petani (NTP).
Berdasarkan data BPS, NTP nasional pada Mei 2026 mencapai 127,73 atau naik 1,99 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik 2,53 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,53 persen.
Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) nasional pada Mei 2026 tercatat 132,84 atau naik 1,95 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Ito mengatakan peningkatan produksi beras menjadi salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menjaga kesejahteraan petani sekaligus ketersediaan pangan.
"Nah, tani ini sekarang lebih kepada begini, kita mencoba untuk semua petani itu bagaimana kesejahteraannya tinggi, NTP-nya naik. Salah satunya adalah meningkatkan produksi beras," ujarnya.
Ia menambahkan pemerintah juga menjaga kesinambungan produksi dengan mempersiapkan panen berikutnya serta mengoptimalkan penyaluran bantuan pangan berbasis beras.
"Kita ini sebenarnya sudah banyak. Tapi sustain, kita membuat sustain. Nanti di bulan Februari akan ada panen lagi, dan seterusnya. Nah, sekarang beras-beras bantuan pangan dan semua itu kita kejar untuk itu," kata Ito.
Hadapi El Nino
Untuk mempertahankan produksi di tengah ancaman iklim seperti El Nino, pemerintah akan meningkatkan indeks pertanaman serta menjaga ketersediaan benih dan pupuk.
"Meningkatkan IP. Benih kita kasih, pupuk kita tetap kita jaga. Ini jadi benih yang benih unggul, pupuk jangan sampai terlambat seperti itu kan," ujar Ito.
Selain itu, pemerintah melanjutkan peningkatan pertanaman dan pencetakan sawah di sejumlah wilayah, termasuk Papua dan Kalimantan.
Untuk komoditas yang masih bergantung pada impor, Ito mengatakan pemerintah akan mengurangi ketergantungan tersebut secara bertahap.
Ia mencontohkan pengembangan sapi perah yang masih membutuhkan impor sapi, dengan target mengubah komposisi pasokan secara perlahan agar produksi dalam negeri memiliki porsi yang lebih besar.
(del/sfr)
Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas)Andi Amran Sulaiman menyebut delapan komoditas pangan telah mencapai swasembada.
Menurutnya, sejumlah komoditas bahkan sudah mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri hingga mencatatkan ekspor.
"Ada delapan (komoditas yang sudah swasembada pangan). Beras, jagung untuk pakan (peternak), bawang merah, ayam, telur. Pakan ini ada ekspor kan. Beras ekspor, telur ayam ekspor," ujar Amran di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Rabu (16/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Amran mengatakan indikator swasembada tersebut tak hanya dilihat dari penghentian impor, tetapi juga kemampuan produksi dalam negeri dalam mencukupi kebutuhan masyarakat. Menurutnya, ketika produksi domestik sudah cukup, pemerintah dapat menghentikan impor.
"Oh, dua-duanya. Kita karena produksi cukup, ya kita hentikan impor," katanya.
Ia mencontohkan kondisi beras yang kini disebut tidak lagi menjadi penyumbang inflasi. Hal serupa terlihat pada komoditas telur dan ayam yang mengalami penurunan harga ketika pasokannya meningkat.
"Terakhir itu, bukan lagi untuk beras ya. Bukan lagi beras sebagai penyumbang inflasi. Tapi baru-baru ini lihat, (harga) telur dengan ayam turun enggak di bawah? Turun kan harganya? Berarti supply-nya melimpah," ujar Amran.
Amran mengatakan pemerintah juga tetap mengawasi harga komoditas pangan tersebut agar ketersediaannya dapat dirasakan masyarakat.
Senada, Sekretaris Utama Bapanas Ito Hediarto mengatakan pemerintah menetapkan 11 komoditas pangan pokok sebagai sasaran swasembada.
Dari jumlah tersebut, delapan komoditas disebut sudah mencapai swasembada, bahkan sebagian telah diekspor.
"Di Peraturan Presiden yang kemarin itu kan ada 11 (komoditas pangan) ya. Dari 11 itu kita delapan sudah swasembada, bahkan sudah ada yang ekspor. Memang kita masih ada tiga (komoditas) lagi PR kita yang kita kejar sekarang kan, ada sapi, susu, sama kedelai," kata Ito.
Menurut Ito, tiga komoditas tersebut masih membutuhkan waktu karena produksi dalam negeri masih bergantung pada pasokan dari luar negeri. Ia mengklaim pemerintah akan mengurangi ketergantungan tersebut secara bertahap.
"Perlu waktu, memang perlu waktu. Kita perlu waktu. Karena untuk sapi, untuk susu, termasuk untuk kedelai tidak semudah seperti kita ngurusin jagung dengan beras," ujarnya.
Untuk menjaga swasembada dalam jangka panjang, pemerintah tidak hanya mengandalkan penghentian impor. Ito mengatakan peningkatan produksi dilakukan antara lain melalui kenaikan indeks pertanaman (IP), yakni meningkatkan frekuensi panen di lahan yang sama.
"Nah, itu kita meningkatkan nilai IP ya. Nanti panennya bertambah yang tadinya satu kali jadi dua kali, dua kali (jadi) tiga kali," kata Ito.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan pencetakan sawah baru untuk menjaga keberlanjutan produksi dalam lima hingga 10 tahun mendatang. Program tersebut antara lain dikerjakan di Papua dan Kalimantan.
"Namun untuk menjaga sustain untuk lima tahun, 10 tahun ke depan, kita harus cetak (sawah) lagi. Makanya sedang dikerjakan di Papua, di Kalimantan, dan seterusnya itu," ujarnya.
Ito mengatakan indikator swasembada juga berkaitan dengan ketersediaan pangan bagi masyarakat. Menurutnya, pemerintah saat ini berupaya memastikan kebutuhan pangan, khususnya beras, tetap tersedia.
"Jadi itu dua-duanya kita jalankan. Tapi sekarang yang kita jaga adalah bagaimana untuk pangannya Indonesia, khususnya untuk beras itu ada. Kalau itu jaga, aman," kata Ito.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Stok Beras Bulog dan Peluang Ekspor
Pemerintah menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada pangan untuk delapan komoditas mulai dari beras, telur ayam, hingga bawang merah. (ANTARA FOTO/Henry Purba).
Stok Beras Bulog dan Peluang Ekspor
Di tengah klaim keberhasilan swasembada tersebut, stok beras yang dikuasai Perum Bulog juga berada pada level jutaan ton.
Adapun total stok beras yang dikuasai Bulog mencapai sekitar 4,705 juta ton, terdiri atas 4,697 juta ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan sekitar 7.220 ton beras komersial (KOM).
Stok tersebut disebut telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan siap untuk didistribusikan.
Ketersediaan stok tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah membuka peluang ekspor setelah kebutuhan dalam negeri dinilai tercukupi.
Pada Maret 2026, Indonesia mengirim sekitar 2.280 ton beras premium ke Arab Saudi untuk kebutuhan jemaah haji Indonesia. Saat itu, pemerintah juga menyebut sedang menjajaki pasar beras ke Papua Nugini, Malaysia, dan Filipina.
Peluang ekspor tersebut kemudian berlanjut ke Malaysia. Pada Agustus 2026, Indonesia mengirim 1.000 ton beras premium ke Malaysia, dengan pasar Sarawak disebut berpotensi menyerap hingga 200 ribu ton per tahun.
Selain pasar tersebut, pemerintah juga menyebut Indonesia sebelumnya pernah mengekspor beras ke Palestina dan Mesir.
Dengan demikian, pasar yang telah disebut dalam rangkaian ekspor maupun penjajakan Indonesia mencakup Arab Saudi, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Palestina, dan Mesir.
Ito mengatakan ketersediaan pangan juga diupayakan berjalan bersama dengan peningkatan kesejahteraan petani. Salah satu indikator yang digunakan pemerintah adalah Nilai Tukar Petani (NTP).
Berdasarkan data BPS, NTP nasional pada Mei 2026 mencapai 127,73 atau naik 1,99 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik 2,53 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,53 persen.
Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) nasional pada Mei 2026 tercatat 132,84 atau naik 1,95 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Ito mengatakan peningkatan produksi beras menjadi salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menjaga kesejahteraan petani sekaligus ketersediaan pangan.
"Nah, tani ini sekarang lebih kepada begini, kita mencoba untuk semua petani itu bagaimana kesejahteraannya tinggi, NTP-nya naik. Salah satunya adalah meningkatkan produksi beras," ujarnya.
Ia menambahkan pemerintah juga menjaga kesinambungan produksi dengan mempersiapkan panen berikutnya serta mengoptimalkan penyaluran bantuan pangan berbasis beras.
"Kita ini sebenarnya sudah banyak. Tapi sustain, kita membuat sustain. Nanti di bulan Februari akan ada panen lagi, dan seterusnya. Nah, sekarang beras-beras bantuan pangan dan semua itu kita kejar untuk itu," kata Ito.
Untuk mempertahankan produksi di tengah ancaman iklim seperti El Nino, pemerintah akan meningkatkan indeks pertanaman serta menjaga ketersediaan benih dan pupuk.
"Meningkatkan IP. Benih kita kasih, pupuk kita tetap kita jaga. Ini jadi benih yang benih unggul, pupuk jangan sampai terlambat seperti itu kan," ujar Ito.
Selain itu, pemerintah melanjutkan peningkatan pertanaman dan pencetakan sawah di sejumlah wilayah, termasuk Papua dan Kalimantan.
Untuk komoditas yang masih bergantung pada impor, Ito mengatakan pemerintah akan mengurangi ketergantungan tersebut secara bertahap.
Ia mencontohkan pengembangan sapi perah yang masih membutuhkan impor sapi, dengan target mengubah komposisi pasokan secara perlahan agar produksi dalam negeri memiliki porsi yang lebih besar.