Sejumlah Negara Mulai Blokir Penerbangan Maskapai Iran usai Diancam AS

CNN Indonesia
Rabu, 23 Sep 2026 11:41 WIB
An Airbus A321 airliner arrives at the Mehrabad international airport during the delivery of the first batch of planes to the Iranian state airline Iran Air in the  capital Tehran on Jaunary 12, 2017. The aircraft arrived as part of an order for 100
Sejumlah negara membatasi penerbangan Iran setelah ancaman sanksi AS. Penerbangan ke Baghdad dan Muscat dihentikan, dampak sanksi masih belum jelas. (FOTO:AFP/ATTA KENARE).
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah negara mulai menghentikan atau membatasi penerbangan maskapai Iran setelah Amerika Serikat (AS) mengancam akan menutup seluruh maskapai Teheran melalui sanksi ekonomi. Kebijakan tersebut berlaku pada Rabu (23/9), di tengah upaya Washington menekan Teheran.

Melansir AFP, media Iran melaporkan penerbangan ke ibu kota Irak, Baghdad, dan Oman, Muscat, akan dibatalkan mulai Rabu. Namun, penerbangan internasional lainnya, termasuk rute ke Istanbul, Turki, disebut masih beroperasi sesuai jadwal.

Kantor berita Tasnim mengutip juru bicara penerbangan sipil Iran yang mengatakan Bandara Baghdad dan Muscat tidak lagi menerima penerbangan dari Iran mulai Rabu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bandara Baghdad dan Muscat tidak lagi menerima penerbangan Iran," demikian laporan Tasnim seperti dikutip AFP, Rabu (23/9).

Tasnim melaporkan otoritas penerbangan Iran tengah membahas pengalihan penerbangan ke Baghdad ke Najaf, yang menjadi salah satu tujuan utama peziarah Iran. Langkah pembatasan penerbangan Iran juga mulai diterapkan sejumlah negara.

Georgia pada Senin (21/9) melarang maskapai Iran beroperasi di wilayahnya. Sementara itu, Mahan Air maskapai swasta Iran, mengatakan telah menghentikan penerbangan ke Turki atas permintaan pemerintah negara tersebut.

[Gambas:Youtube]

Sebelumnya, Iran Air mengatakan belum menerima pemberitahuan atau instruksi resmi dari otoritas penerbangan sipil Turki, Azerbaijan, maupun Irak terkait penghentian penerbangan.

"Belum menerima pemberitahuan atau instruksi resmi dari otoritas penerbangan sipil Turki, Republik Azerbaijan, atau Irak," kata Iran Air, menurut AFP.

Namun, pemerintah Irak disebut mulai bersiap menjalankan pembatasan tersebut. Pemerintah Irak belum secara terbuka mengumumkan rencana untuk melarang penerbangan Iran, tetapi sejumlah sumber, termasuk seorang pejabat senior pemerintah, mengatakan kepada AFP bahwa Baghdad akan mematuhi langkah AS.

Irak menjadi salah satu tujuan utama maskapai Iran, terutama untuk mengangkut peziarah yang melakukan perjalanan menuju sejumlah situs suci.

Ancaman terhadap maskapai Iran merupakan bagian dari sanksi AS yang semakin diperketat terhadap sektor penerbangan negara tersebut.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan langkah terbaru tersebut pada Senin (21/9). Kebijakan itu melanjutkan berbagai sanksi penerbangan yang telah diberlakukan Washington terhadap Iran sebelumnya.

Bessent mengatakan AS akan menekan maskapai Iran melalui pembatasan akses terhadap layanan penting dalam penerbangan internasional.

"Semua maskapai penerbangan Iran akan ditutup di seluruh dunia," kata Bessent, seperti dikutip AFP.

Ia juga memperingatkan pihak yang tetap memberikan layanan kepada maskapai Iran.

"Jika mereka mendarat, Anda tidak boleh menyediakan bahan bakar, Anda tidak boleh memberikan layanan pendaratan, Anda tidak boleh menjual tiket kepada mereka, atau Anda akan dikeluarkan dari sistem dolar," ujarnya.

AS sebelumnya juga mengancam langkah yang disebut Bessent sebagai "D-Day ekonomi" untuk menekan Iran agar tunduk, setelah upaya mengakhiri perang di Timur Tengah melalui jalur militer mengalami kebuntuan.

Dampak penuh dari sanksi terbaru tersebut masih belum jelas. Pasalnya, sektor penerbangan Iran telah menjadi sasaran berbagai sanksi selama bertahun-tahun.

Potensi penghentian penerbangan antara Iran dan Irak mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan agen perjalanan Irak.

Di Najaf, salah satu kota suci bagi umat Syiah, agen perjalanan Haidar Shamaa mengatakan sebagian besar perusahaan perjalanan di kota tersebut bergantung pada pemesanan penerbangan menuju bandara-bandara di Iran.

"Sebagian besar perusahaan perjalanan di kota ini bergantung pada pemesanan penerbangan ke bandara-bandara Iran," kata Shamaa kepada AFP.

Sejumlah agen perjalanan juga mengatakan pelanggan mulai menghubungi mereka untuk meminta kepastian mengenai penerbangan. Sebagian bahkan mempertimbangkan beralih menggunakan jalur darat, meski perjalanan tersebut membutuhkan waktu jauh lebih lama.

Kebijakan AS tersebut juga mendapat penolakan dari China yang merupakan salah satu mitra dagang utama Iran.

China menyatakan menentang sanksi sepihak AS terhadap Iran yang dinilai tidak memiliki dasar dalam hukum internasional ataupun otorisasi dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"China menentang sanksi sepihak ilegal yang tidak memiliki dasar dalam hukum internasional atau otorisasi dari Dewan Keamanan PBB," kata pemerintah China.

Sanksi terbaru tersebut berpotensi semakin membatasi kemampuan warga Iran untuk bepergian ke luar negeri maupun kembali ke negaranya, sekaligus mengganggu jaringan penerbangan internasional yang selama ini menghubungkan Iran dengan negara-negara di kawasan.

(lau/ins)