Menjaga Surplus Pupuk RI di Tengah Krisis Bahan Baku Global
Tantangan sektor pertanian nasional semakin kompleks di tengah volatilitas rantai pasok global dan instabilitas geopolitik yang mengganggu rantai pasok bahan baku pupuk.
Kendati demikian, industri pupuk dalam negeri terus berupaya menjaga ketersediaan pasokan agar swasembada pangan dapat tercapai secara berkelanjutan.
Melalui sinergi antara BUMN dan sektor swasta, berbagai strategi inovatif serta teknologi modern diterapkan untuk mendongkrak produktivitas tanpa mengorbankan kualitas tanah.
Sebagai produsen pupuk swasta nasional, PT Saraswanti Anugerah Makmur Tbk (SAMF) berfokus menjaga kontinuitas produksi dan ketersediaan produk di wilayah pemasarannya. Direktur Utama SAMF Yahya Taufik menegaskan surplus pupuk nasional merupakan hasil kerja kolektif seluruh ekosistem pertanian.
"Sebagai produsen pupuk swasta nasional memiliki fokus menjaga kontinuitas produksi dan ketersediaan produk di wilayah pemasaran. Namun, perlu kami tegaskan terciptanya surplus pupuk secara nasional merupakan hasil kerja seluruh ekosistem, yakni pemerintah, produsen, importir, distributor, penyedia logistik, dan sektor perkebunan," ujar Yahya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (17/9).
Yahya menjelaskan, ketahanan pasokan tidak sekadar soal stok besar di gudang, melainkan memastikan bahan baku tersedia konsisten, pabrik beroperasi tanpa hambatan, serta distribusi menjangkau wilayah perkebunan secara tepat waktu dan dosis.
Untuk itu, SAMF mengembangkan teknologi formulasi tailor-made yang disesuaikan dengan jenis dan umur tanaman, karakteristik tanah, curah hujan, hingga target produktivitas. Formulasi ini juga diperkaya unsur makro sekunder, mikro, dan humic substance guna memperbaiki keseimbangan nutrisi serta memperkuat akar.
Terkait ketergantungan impor bahan baku, Yahya mengatakan potensi material lokal belum bisa menjadi pengganti instan, tetapi vital sebagai fondasi jangka panjang.
"SAMF melihat potensi lokal bukan sebagai pengganti instan seluruh bahan impor, tetapi sebagai fondasi untuk membangun portofolio bahan baku yang lebih beragam," jelas Yahya.
Strategi ini diyakini SAMF membuat industri nasional lebih tangguh terhadap guncangan eksternal seperti fluktuasi kurs dan gangguan logistik global.
Langkah serupa ditempuh PT Sentana Adidaya Pratama (SADP). Presiden Direktur SADP Riki mengungkapkan perusahaannya memandang volatilitas pasar global sebagai momentum strategis untuk mempertajam keunggulan kompetitif.
"Volatilitas pasar internasional untuk komoditas pupuk akibat instabilitas geopolitik merupakan tantangan sistemik yang tidak dapat dihindari. Namun, PT SADP memandang situasi ini bukan sekadar tantangan, melainkan momentum strategis untuk memperkuat keunggulan kompetitif," ungkap Riki.
Strategi utama SADP bertumpu pada presisi perencanaan dan sinkronisasi rantai pasok dengan kalender pemupukan tahunan konsumen perusahaan kelapa sawit skala besar.
Dari sisi pabrik, efisiensi difokuskan pada optimasi proses, peningkatan kapasitas SDM, utilisasi energi, dan manajemen pergudangan, dengan komposisi bahan baku standar (Urea, Rock Phosphate, dan KCl). Pelestarian tanah jangka panjang juga didukung lewat pendekatan agronomi holistik seperti perbaikan drainase dan penambahan bahan organik.
Terkait bahan baku makro yang terikat realitas geologis dunia, Riki menyarankan penguatan diplomasi perdagangan.
"Oleh karena itu, masukan kami bagi ekosistem industri nasional adalah pentingnya memperkuat diplomasi perdagangan dan mendiversifikasi rantai pasok global. Selain itu, regulasi yang berlaku saat ini, khususnya terkait pengawasan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan izin edar, sudah sangat krusial dan relevan untuk terus ditegakkan secara konsisten guna menjamin mutu, keamanan, serta efikasi pupuk bagi sektor pertanian nasional," tambah Riki.
Sebagai pilar utama pupuk nasional, PT Pupuk Indonesia (Persero) mengokohkan ketahanan pangan dengan kapasitas produksi Urea mencapai 9,4 juta ton per tahun dari pasokan gas bumi domestik. Sementara untuk bahan baku fosfat dan kalium, Pupuk Indonesia memitigasi risiko pasokan melalui diversifikasi jalur impor.
"Fosfat antara lain dipasok dari Maroko, Tunisia, dan Aljazair, sementara Kalium dipasok dari Kanada dan Laos," ujar Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira.
Dari aspek operasional, holding BUMN pupuk tersebut menjalankan revitalisasi delapan pabrik dalam 5 tahun ke depan untuk menekan konsumsi energi.
Salah satunya, perusahaan sukses memangkas konsumsi gas dari 38,8 MMBTU menjadi 34,8 MMBTU per ton sehingga terjadi penghematan 10 persen lebih. Perusahaan juga mendorong pertanian presisi melalui mobil uji tanah, edukasi pemupukan berimbang, dan pupuk bio-organik.
Transformasi besar turut dilakukan pada tata kelola distribusi pupuk bersubsidi. Berlandaskan Perpres Nomor 6 Tahun 2025 dan Perpres Nomor 113 Tahun 2025, pemerintah memangkas 145 regulasi rumit untuk memperpendek rantai pasok.
Digitalisasi lewat aplikasi i-Pubers dan Command Center memperkuat pengawasan distribusi secara real-time, yang berdampak langsung pada penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar 20 persen.
Hingga pertengahan September 2026, Pupuk Indonesia mencatat volume penebusan pupuk bersubsidi mencapai 6,66 juta ton atau 68 persen dari alokasi, melonjak 25 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
"Untuk pupuk nonsubsidi, Pupuk Indonesia menjaga ketersediaan produk melalui efisiensi operasional, manajemen stok, dan penguatan jaringan distribusi, dengan tetap mempertimbangkan kondisi pasar serta keterjangkauan bagi petani, sehingga kebutuhan input pertanian tetap dapat dilayani," terang Yehezkiel.