Kapasitas Pelabuhan Naik, Rantai Logistik Darat Diperkuat

Pelindo | CNN Indonesia
Kamis, 24 Sep 2026 12:49 WIB
Foto: Arsip foto pelindo
Jakarta, CNN Indonesia --

Peningkatan kapasitas pelabuhan peti kemas dinilai perlu diikuti penguatan ekosistem logistik di sisi darat. Langkah tersebut penting agar percepatan bongkar muat di terminal tidak justru memindahkan titik hambatan ke rantai distribusi berikutnya.

Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM Kuncoro Harto Widodo mengatakan pertumbuhan arus peti kemas perlu diimbangi dengan penguatan seluruh simpul dalam ekosistem logistik.

Menurutnya, peningkatan layanan logistik tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur fisik. Integrasi data, kapasitas sumber daya manusia, dan dukungan regulasi juga menjadi bagian penting untuk memastikan pergerakan barang tetap lancar.

"Hambatan pada satu simpul akan berdampak pada simpul lainnya," ujar Kuncoro saat dihubungi Jumat (11/9).

Karena itu, Kuncoro mendorong integrasi data antara terminal, perusahaan pelayaran, depo, trucking, kawasan industri, dan pemerintah. Pemanfaatan National Logistics Ecosystem (NLE) juga dinilai perlu terus dioptimalkan agar pergerakan informasi dapat mengikuti bahkan mendahului pergerakan barang.

"Yang diidealkan itu aliran informasi mestinya setiap saat bahkan kalau bisa mendahului aliran barang," katanya.

Selain integrasi sistem informasi, Kuncoro menilai pengembangan angkutan barang berbasis kereta api perlu diperkuat sebagai alternatif distribusi menuju pelabuhan. Menurutnya, pengembangan moda tersebut juga dapat mendukung upaya penanganan kendaraan ODOL di jalur darat.

Produktivitas Terminal

Dari sisi pelayaran, peningkatan kapasitas dan produktivitas terminal tetap dinilai penting untuk mendukung efisiensi operasional kapal.

Ketua DPC INSA Semarang, Hari Ratmoko, mengatakan produktivitas terminal peti kemas saat ini sebenarnya sudah cukup baik. Namun, peningkatan kapasitas dermaga dan kedalaman alur tetap diperlukan untuk mengakomodasi pertumbuhan trafik kapal.

"Semakin lancar bongkar muat, maka akan semakin efisien dan efektif waktunya dan shipping line akan senang," ujarnya.

Menurutnya, peningkatan produktivitas di terminal harus berjalan beriringan dengan kesiapan fasilitas penyangga di luar terminal. Dalam konteks tersebut, depo kontainer memiliki peran penting dalam menjaga kelancaran rantai pasok.

"Depo kontainer itu cukup punya peran penting dalam supply chain," katanya.

Depo tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan kontainer kosong, tetapi juga dapat menjadi buffer ketika lapangan penumpukan di dalam pelabuhan mulai mengalami kepadatan.

Sementara, Ketua DPC Aptrindo Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Supriyono, mengatakan kondisi pada awal semester II 2026 di sisi darat Pelabuhan Tanjung Emas Semarang saat ini relatif lancar. Perputaran truk tidak lagi menghadapi kepadatan seperti pada awal tahun.

Meski demikian, menurut Supriyono, masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu dibenahi untuk menjaga kelancaran operasional. Salah satunya perubahan jadwal kapal yang dapat membuat truk harus menunggu lebih lama.

Begitu pula dengan implementasi Terminal Booking System (TBS) yang masih bisa dioptimalkan terkait ketersediaan slot kendaraan. Aptrindo turut mendorong agar depo kontainer di Semarang dapat beroperasi selama 24 jam sehingga pergerakan kontainer dapat lebih fleksibel dan antrean kendaraan dapat ditekan.

Tantangan di Kawasan Timur

Persoalan kesiapan simpul darat terjadi di kawasan timur Indonesia. Kepala Cabang PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) Merauke, Puji Hermoko, mengatakan kebutuhan paling mendesak di wilayah tersebut adalah keberadaan depo kontainer di luar kawasan pelabuhan sebagai fasilitas penyangga.

"Kontainer harus bisa keluar, dalam arti harus ada backup depo di luar karena Merauke 100% deponya di dalam," ujarnya saat dihubungi, Minggu (6/9).

Menurut Puji, keterbatasan ruang penumpukan berdampak pada meningkatnya biaya logistik. SPIL beberapa kali menurunkan muatan di Timika sebelum kemudian digabungkan dengan kapal lain menuju Merauke.

Selain menambah biaya dan memperpanjang rantai distribusi, kondisi tersebut juga meningkatkan risiko terhadap komoditas, khususnya muatan pangan.

"Harapan kami, ada kebijakan dari Pemda maupun Pemprov sehingga kami bisa membuat depo di luar," katanya.

Kebutuhan itu menjadi perhatian pengelola TPK Merauke. Terminal Head TPK Merauke, Muhammad Rasul Irmadani, mengatakan pihaknya menyiapkan revitalisasi lapangan penumpukan seluas 1,4 hektare untuk meningkatkan kapasitas pelayanan peti kemas.

Revitalisasi tersebut mencakup perbaikan infrastruktur, penguatan akses, serta penambahan peralatan bongkar muat berupa rubber tyred gantry crane (RTG). Pekerjaan tersebut saat ini masih dalam proses lelang di kantor pusat.

"Pekerjaan revitalisasi itu nanti luasannya 1,4 hektare yang mau diperbaiki. Untuk penguatan, perbaikan akses, pembuatan jalur alat RTG. Dengan adanya RTG itu, kami berharap kapasitas bertambah ke atas," ujar Rasul saat dihubungi Rabu (23/9).

Selain revitalisasi, Rasul menilai keberadaan depo di luar kawasan pelabuhan diperlukan agar aktivitas penumpukan tidak membebani ruang operasional terminal. Namun, pengembangannya masih menghadapi kendala investasi serta daya dukung jalan.

Menurut Rasul, pemerintah daerah telah menawarkan lokasi untuk pengembangan depo. Pihaknya berharap dukungan Pemda dapat mempercepat penyediaan depo eksternal sekaligus pengembangan kawasan pelabuhan.

Gambaran mengenai pentingnya kesinambungan arus peti kemas juga terlihat di TPK New Makassar.

Terminal Head TPK New Makassar, Teguh Firdaus, mengatakan operasional terminal sejauh ini berjalan dengan baik. Saat ini TPK Makassar berperan sebagai salah satu hub utama distribusi menuju kawasan timur Indonesia.

"Makassar jadi hub untuk Indonesia Timur. Jadi simpul utama distribusi berbagai komoditas yang bergerak menuju kawasan timur Indonesia," ulasnya saat dihubungi, Senin (14/9/2026).

Teguh mengatakan Pelindo berfokus menjaga kesiapan infrastruktur dan peralatan bongkar muat agar pelayanan terminal dapat berlangsung secara konsisten.

Namun, kelancaran distribusi tidak hanya ditentukan oleh aktivitas bongkar muat di dermaga. Pergerakan kontainer setelah keluar dari terminal juga perlu dijaga agar tidak terjadi penumpukan pada simpul berikutnya.

"Karena kelancaran distribusi tidak hanya bergantung pada kecepatan bongkar muat di dermaga, tetapi juga kesinambungan pergerakan kontainer setelah keluar dari kapal menuju sisi darat," tuturnya.

Teguh mengatakan kapasitas yang tersedia di Makassar saat ini masih memadai untuk mendukung sirkulasi peti kemas. Dalam menjaga kelancaran tersebut, koordinasi antara operator terminal, shipping line, perusahaan trucking, pengelola depo, hingga pemilik barang menjadi bagian penting dalam kesinambungan rantai logistik.

Sementara itu, di TPK Ambon, Pelindo berupaya mengantisipasi potensi bottleneck di sisi darat dengan memperkuat koordinasi bersama para pemangku kepentingan. Koordinasi dan evaluasi dilakukan secara berkala bersama stakeholder maupun pengguna jasa untuk memastikan kelancaran arus barang dan logistik.

"Pelindo selalu koordinasi dan evaluasi dengan beberapa stakeholder dan customer terhadap kelancaran arus barang atau logistik," ujar Terminal Head TPK Ambon, Yandi Sofyan Hadi, dalam keterangan tertulis, Senin (21/9).

Menurut Yandi, salah satu kebutuhan infrastruktur yang mendesak untuk mengimbangi pertumbuhan arus peti kemas di TPK Ambon adalah peremajaan peralatan. Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan ketersediaan peralatan yang andal dan siap beroperasi.

Pelindo juga menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Ambon untuk mendukung penambahan kapasitas lapangan penumpukan guna mengantisipasi pertumbuhan arus peti kemas.

(inh)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK