Sosok Silfester Matutina memantik rasa penasaran publik usai ia dicopot dari jabatan Komisaris Independen PT Pelindo Jasa Maritim padahal baru 5 hari menjabat.
Silfester resmi ditunjuk sebagai komisaris independen Pelindo Jasa Maritim pada Jumat (18/9) lalu. Pemegang saham lalu memecatnya Rabu kemarin (23/9).
Pelindo Jasa Maritim (PJM) merupakan anak usaha BUMN PT Pelabuhan Indonesia (Persero). Anak usaha ini fokus pada penyediaan dan pengelolaan layanan jasa maritim untuk mendukung kelancaran, keselamatan, dan efisiensi operasional kepelabuhanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SVP Sekretaris Perusahaan Pelindo Jasa Maritim Tubagus Patrick membenarkan adanya perubahan susunan Dewan Komisaris perseroan, termasuk pengangkatan Silfester Matutina sebagai Komisaris Independen.
"Benar, terdapat perubahan susunan Dewan Komisaris PT Pelindo Jasa Maritim, termasuk pengangkatan Pak Silfester Matutina sebagai Komisaris Independen," kata Tubagus dalam jawaban tertulis kepada wartawan, dilansir Jumat (25/9).
Menurutnya, pemegang saham memutuskan untuk memberhentikan Silfester dari jabatan tersebut pada Rabu (23/9).
"Dalam perkembangannya, setelah melakukan evaluasi dan mempertimbangkan berbagai hal, pemegang saham PT Pelindo Jasa Maritim telah memutuskan untuk memberhentikan Pak Silfester Matutina dari jabatan Komisaris Independen pada 23 September 2026 sesuai dengan mekanisme dan ketentuan yang berlaku," jelasnya.
Siapa Silfester Matutina dan bagaimana sepak terjangnya sehingga ia sempat ditunjuk menjadi komisaris di anak usaha BUMN Pelindo?
Silfester lahir pada 19 Juni 1971 di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dirangkum dari berbagai sumber, kiprah Silfester lebih banyak di dunia politik ketimbang bisnis. Ia merupakan pengacara yang banyak terlibat di aktivitas politik, termasuk pemilu.
Ia meraih gelar Sarjana Hukum di Universitas Wiraswasta Indonesia pada 2020. Pada 2023, 'kampus ruko' tersebut dicabut izinnya karena telah melakukan kuliah fiktif dan jual beli ijazah.
Lalu pada 2024, Silfester melanjutkan studi Magister Hukum di Universitas Krisnadwipayana.
Ia dikenal sebagai pendukung Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Pada 2013, Silfester mendirikan sekaligus menjadi ketua umum Solidaritas Merah Putih (Solmet), kelompok relawan yang vokal mendukung Jokowi di Pipres pertamanya.
Silfester kerap tampil di acara debat televisi dalam rangka membela pemerintahan Jokowi. Gaya komunikasinya yang keras beberapa kali memicu kontroversi. Salah satunya saat terlibat debat panas dan mengeluarkan umpatan kasar kepada Rocky Gerung yang vokal mengkritik pemerintahan saat itu.
Pada 2023, Silfester menjadi salah satu inisiator Gerakan Setia Tegak Lurus Bersama Jokowi. Gerakan ini tergabung dalam 30 organisasi relawan Jokowi mengikrarkan sumpah setia enam poin kepada Jokowi, termasuk mendukung calon yang dijagokan Jokowi di Pilpres 2024.
Masih di tahun yang sama, ia didapuk sebagai Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran yang bertarung di Pilpres saat itu. Silfester pernah bilang mendukung tim Prabowo melalui Gibran merupakan perpanjangan dari kepemimpinan Jokowi
Pada 2025, Silfester diangkat sebagai Komisaris Independen ID Food (PT Rajawali Nusantara Indonesia), BUMN pangan.
Pengangkatan Silfester sebagai komisaris BUMN menuai sorotan. Pasalnya, ia berstatus terpidana kasus fitnah terhadap mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla lantaran menuduh terlibat korupsi pada 2017.
Pada 2019, Kejaksaan Agung memvonis Silfester hukuman 1,5 tahun penjara dalam kasus fitnah itu. Namun, Silfester tak kunjung menjalani hukumannya.
(pta/ins)
