Hilirisasi Pangan Lokal, Strategi Pemerintah Dorong UMKM Naik Kelas

Tim | CNN Indonesia
Senin, 28 Sep 2026 14:04 WIB
Tape Singkong or Peuywum, Indonesian Fermented Cassava with Natural Process
Ilustrasi pangan lokal. Foto: iStockphoto/Ika Rahma
Jakarta, CNN Indonesia --

Hilirisasi pangan menjadi salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekaligus mengerek nilai tambah komoditas lokal.

Melalui pengolahan berbasis teknologi, bahan pangan yang selama ini dipasarkan dalam bentuk segar atau mentah dapat dikembangkan menjadi produk dengan masa simpan lebih panjang, kualitas lebih terjaga, serta nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Upaya tersebut mulai menyasar sejumlah komoditas pangan lokal, termasuk sorgum dan singkong. Badan Pangan Nasional (Bapanas), misalnya, mendorong pengembangan sorgum melalui dukungan teknologi pengolahan, salah satunya penggunaan freeze dryer.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Teknologi tersebut memungkinkan produk berbasis sorgum seperti nasi, bubur, hingga sari sorgum memiliki masa simpan lebih panjang dengan tetap mempertahankan kandungan gizinya.

Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Susanto mengatakan pengembangan pangan lokal perlu dilakukan beriringan dengan inovasi serta penguatan kapasitas pelaku usaha.

"Seluruh rantai dikerjakan di dalam negeri dengan memaksimalkan potensi lokal dan teknologi yang sesuai kebutuhan masyarakat. Petani memproduksi, hasilnya diserap oleh UMKM, lalu diolah menjadi produk pangan siap konsumsi yang bernilai tambah," ujar Andriko saat kunjungan ke Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Andriko menyebut penguatan teknologi dan UMKM menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pangan lokal yang berkelanjutan. Produk pangan olahan berbasis komoditas lokal pun didorong agar tidak hanya berhenti di pasar daerah, tetapi mampu menembus pasar yang lebih luas.

Bapanas memberikan dukungan peralatan produksi sekaligus mendorong pengembangan pangan lokal berbasis UMKM yang berjalan beriringan dengan peningkatan teknologi, perluasan akses pasar, serta kolaborasi bersama pemerintah daerah.

Peralatan yang diberikan antara lain mesin parut, drum pencuci, alat peniris atau pengering dengan konveyor, ayakan, heat exchanger, dan bak penampung.

Salah satu penerapannya terlihat dalam pengolahan singkong di Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pelaku UMKM di wilayah tersebut mulai beralih dari proses produksi tradisional ke penggunaan mesin pengolahan dengan dukungan Bapanas.

"UMKM adalah penggerak penting dalam penganekaragaman pangan. Dengan peralatan yang lebih baik, UMKM bisa meningkatkan kualitas, memperluas pasar, dan ikut memperkuat ketahanan pangan nasional," tambah Andriko.

Salah satu pelaku UMKM pengolahan singkong di Bogor, Andi, mengatakan sebagian proses produksi sebelumnya masih dilakukan secara manual. Setelah mendapat bantuan peralatan, ia melihat perubahan terutama dari sisi kebersihan dan konsistensi produk.

"Dulu pengolahan masih manual dan sangat bergantung pada cara tradisional. Sekarang, dengan bantuan dari Bapanas, prosesnya lebih higienis dan kualitas produk lebih stabil," kata Andi saat menerima kunjungan Andriko di Bogor.

Andi mengatakan, bantuan dari Bapanas tersebut juga membuka peluang baru karena singkong dapat dikembangkan menjadi berbagai variasi produk turunan lain, salah satunya tepung tapioka. Selain itu singkong juga dapat diolah menjadi produk lain seperti mocaf yang memiliki pasar lebih luas.

Tingkatkan Nilai Tambah

Dorongan hilirisasi juga menjadi bagian dari kebijakan Kementerian Pertanian (Kementan). Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menekankan pengolahan komoditas pertanian diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah.

"Hilirisasi produk pertanian merupakan jalan cepat Indonesia untuk menjadi negara mandiri dan berpengaruh secara global," kata Amran dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta beberapa waktu lalu.

Besarnya ruang bagi industri pengolahan juga terlihat dari data makro. Berdasarkan data BPS yang dikutip Kementerian Perindustrian, industri pengolahan tumbuh 5,30 persen pada 2025, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen.

Kontribusi industri pengolahan terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 19,07 persen pada tahun yang sama. Angka tersebut mencakup industri pengolahan secara keseluruhan, bukan hanya industri pengolahan nonmigas.

Industri makanan dan minuman menjadi salah satu penopang sektor tersebut. Pada level industri kecil dan menengah (IKM), Kementerian Perindustrian mencatat industri makanan dan minuman pada 2025 mencakup sekitar 39,7 persen dari total unit usaha IKM serta menyerap 36,5 persen tenaga kerja IKM.

Besarnya porsi tersebut menunjukkan IKM pangan memiliki peran dalam menopang aktivitas ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja dan memberdayakan masyarakat.

Karena itu, hilirisasi bagi UMKM pangan tidak cukup hanya dengan menambah atau mengganti mesin produksi. Penguatan teknologi perlu berjalan bersama peningkatan kualitas produk, penerapan standar keamanan pangan, pengembangan kemasan, standardisasi, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar.

Jika seluruh rantai tersebut dibangun secara terintegrasi, mulai dari petani sebagai pemasok bahan baku hingga UMKM sebagai pengolah produk, komoditas lokal tidak lagi sekadar dijual sebagai bahan mentah dengan margin yang terbatas.

Pangan lokal dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang memiliki daya saing di pasar nasional. Pada saat yang sama, semakin panjang rantai nilai yang terbentuk di daerah, semakin besar pula peluang manfaat ekonomi dari komoditas tersebut untuk dinikmati masyarakat di wilayah penghasil.

(ory/ory)
placeholder