Kuota BBM-LPG 3 Kg Dipangkas 2027, Beban Energi Pindah ke Rakyat?

CNN Indonesia
Senin, 28 Sep 2026 16:47 WIB
Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis pertalite pada kendaraan konsumen di SPBU Jalan Veteran, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (18/10/2024). Kementerian Keuangan melaporkan realisasi belanja subsidi pemerintah yang meliputi s
Pemangkasan anggaran subsidi BBM dan LPG tanpa pengendalian sasaran penerima yang akurat bisa berpotensi memindahkan beban negara ke kelompok rentan. (Foto: ANTARA FOTO/Makna Zaezar)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah dan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI sepakat memangkas anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan LPG 3 kilogram (kg) dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

Ketua Banggar Said Abdullah mengatakan subsidi BBM dan LPG 3 kg pada 2027 disepakati Rp131,39 triliun, turun Rp11,4 triliun dari usulan RAPBN 2027 sebesar Rp142,8 triliun.

Anggaran tersebut terdiri dari subsidi Jenis BBM Tertentu (JBT) sebesar Rp28,34 triliun dan subsidi LPG tabung 3 kg sebesar Rp103,05 triliun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana dampak pemangkasan volume subsidi energi terhadap masyarakat dan siapa yang paling terpukul kebijakan tersebut?

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan penurunan subsidi dapat membuat ruang pemerintah untuk menahan kenaikan harga energi menjadi lebih terbatas.

Menurut Faisal, jika anggaran subsidi 2027 tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan, pemerintah berpotensi harus menaikkan harga barang yang disubsidi.

"At some point pada 2027 akan ada kenaikan harga, entah itu Pertalite atau Solar yang BBM... ataukah di LPG 3 kg," kata Faisal.

Namun, kenaikan BBM dan gas yang disubsidi akan berdampak pada daya beli masyarakat menengah ke bawah. Pasalnya, kelompok ini merupakan konsumen utama Pertalite Cs. Faisal pun mewanti-wanti pukulan lemahnya daya beli kelompok ini terhadap ekonomi dan bisnis.

"Kelas menengah ini berpengaruh besar terhadap konsumsi secara keseluruhan dan sektor produksi, maka permintaan terhadap barang dan jasa juga akan mengalami penurunan dan akan mempengaruhi bisnis secara keseluruhan," imbuhnya.

Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafrudin Karimi mengatakan pengurangan volume subsidi energi tidak serta-merta membuat harga naik. Dampak paling cepat dirasakan masyarakat adalah berkurangnya ketersediaan Pertalite Cs.

Menurutnya, jika kuota BBM bersubdi dan LPG 3 kg dikurangi sementara permintaan tetap tinggi, masyarakat akan menghadapi pembatasan hingga mengularnya antrean beli. Kondisi tersebut juga dapat membuat masyarakat beralih ke produk nonsubsidi yang harganya lebih mahal.

"Pengurangan volume subsidi paling cepat terasa di risiko ketersediaan, bukan otomatis kenaikan harga resmi," kata Syafrudin.

Ia mengatakan kelompok yang paling rentan terpukul pemangkasan kuota subsidi energi antara lain rumah tangga berpendapatan rendah, pekerja informal, usaha mikro makanan, nelayan, petani sasaran, serta keluarga di daerah dengan pilihan energi terbatas.

"Bagi kelompok tersebut, energi bukan hanya komponen konsumsi, tetapi input untuk bekerja dan memperoleh pendapatan," imbuhnya.

Karena itu, Syafrudin menyarankan pengurangan volume subsidi perlu diimbangi dengan pengetatan sasaran penerima. Jika kebocoran kepada kelompok mampu bisa ditekan, beban penyesuaian dapat dialihkan dari masyarakat rentan menuju pengguna yang sebenarnya tidak berhak menerima subsidi.

Ia memandang ancaman inflasi tetap muncul meski harga BBM dan LPG subsidi tak naik. Sebab, pemangkasan kuota akan memicu kelangkaan. Akibatnya, konsumen beralih ke produk nonsubsidi yang berujung naiknya biaya produksi.

"Sebagian biaya kemudian diteruskan ke harga makanan, transportasi lokal, dan jasa, sehingga muncul efek inflasi tidak langsung," ujarnya.

Daya beli juga terancam rontok akibat naiknya harga barang. Konsumen harus mengalihkan anggaran dari pangan, pendidikan, atau kebutuhan lain untuk membeli BBM dan gas.

Agar Si Rentan Tak Jadi Korban BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2