Kuota BBM-LPG 3 Kg Dipangkas 2027, Beban Energi Pindah ke Rakyat?

CNN Indonesia
Senin, 28 Sep 2026 16:47 WIB
Warga dan pemilik warung kecil membeli gas elpiji 3 kg di pangkalan gas kawasan Manggarai Selatan, Jakarta, Kamis, 30 Juni 2022. Pertamina akan memperketat penjualan LPG 3 kg dengan mewajibkan pembeli daftar ke aplikasi MyPertamina. Pengetatan sama d
Agar Si Rentan Tak Jadi Korban. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)

Untuk jangka panjang, Syafruddin menilai dampak pemangkasan kuota subsidi energi akan bergantung pada siapa yang kehilangan subsidi dan ke mana penghematan anggaran dialihkan.

Menurutnya, jika pembatasan berhasil mengeluarkan rumah tangga mampu dari penikmat Pertalite Cs, maka efek terhadap konsumsi agregat dapat relatif kecil dan kualitas belanja justru membaik.

"Kajian pemerintah dan Bank Dunia sejak lama menunjukkan subsidi energi berbasis harga cenderung bocor kepada kelompok berpendapatan lebih tinggi, sehingga transfer langsung yang tepat sasaran dapat melindungi kelompok miskin dengan biaya fiskal lebih efisien," ia menjelaskan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebaliknya, jangan sampai pemangkasan kuota subsidi ini membuat kelompok rentan tak bisa menikmati Pertalite Cs karena langka. Karena itu, pemerintah perlu memisahkan dua agenda yakni mengurangi kebocoran subsidi dan mengurangi perlindungan kepada kelompok rentan.

Pemerintah juga perlu memastikan pengurangan subsidi tidak justru membuat rumah tangga rentan dan usaha mikro terdorong menggunakan energi nonsubsidi. Menurut Syafruddin, keberhasilan kebijakan akan sangat bergantung pada ketepatan sasaran subsidi dan penggunaan ruang fiskal yang diperoleh dari pengurangan subsidi.

Pembenahan data penerima, pengaturan kuota, penguatan distribusi, serta pengembangan sumber energi alternatif menjadi bagian yang perlu berjalan bersamaan dengan pengurangan volume subsidi.

"Prioritasnya ialah menyelesaikan integrasi data penerima melalui DTSEN, NIK, data usaha mikro, nelayan, dan petani sasaran, lalu menerapkan pembatasan secara bertahap dengan masa transisi yang jelas," ucapnya.

CEO Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa melihat pemangkasan anggaran subsidi energi akan pararel dengan penurunan volume LPG 3 kg hingga Pertalite. Jika kebijakan ini tak dibarengi pembatasan dan pengendalian penerima, maka bisa berujung kelangkaan.

"Kecuali memang ada dalam waktu yang 2 bulan ke depan pemerintah berhasil ketemu dengan formula bagaimana mengendalikan penjualan LPG 3 kilo dan lainnya," ujar Febby.

Menurutnya, tantangan terbesar pemerintah sebenarnya mengendalikan subsidi LPG bersubsidi yang angkanya cukup tinggi. Ironisnya, banyak pengguna LPG 3 kg saat ini justru bukan berasal dari kelompok yang menjadi sasaran subsidi. Penikmat gas melon adalah restoran besar, rumah makan, hingga rumah tangga mampu.

"Dari data kami mungkin sekitar 30 persen-40 persen, cukup besar sebenarnya LPG 3 kilo itu dibeli bukan oleh kelompok rumah tangga miskin dan UMKM," imbuhnya.

Ia memandang persoalan utama pemangkasan subsidi energi bukan hanya pada besaran volume yang dikurangi, tetapi bagaimana pemerintah mengatur distribusinya agar subsidi tetap diterima kelompok sasaran.

"Siapa yang boleh berhak untuk membeli LPG 3 kg, ini yang sampai hari ini belum ketemu formulanya. Karena distribusi LPG 3 kg kan dibuat terbuka, siapa saja bisa beli," katanya.

Selain soal salah sasaran penerima, masalah lainnya adalah 80 persen kebutuhan gas nasional dipenuhi dari impor. Dengan kondisi terganggunya pasokan akibat geopolitik global, maka biaya impor ikut membengkak. Neraca perdagangan RI pun terganggu.

"Saya lihat pemerintah memang berusaha untuk mengendalikan LPG 3 kg. Sehingga muncul wacana untuk program kompor listrik, yang kedua CNG," ucapnya.

Namun, mengganti gas melon dengan kompor listrik untuk kelompok rumah tangga rentan dinilai kurang pas karena daya listrik rumah tangga kurang mampu juga rendah. Sementara, program CNG juga masih sebatas pilot project.

"Kenapa ada penurunan LPG 3 kg, karena memang pemerintah berharap program-program alternatif seperti kompor listrik dan CNG itu bisa dilaksanakan tahun depan," ujar Fabby.

Pemerintah perlu menentukan siapa yang berhak membeli LPG 3 kg sekaligus membatasi jumlah pembelian. Mekanisme tersebut, kata Fabby, dapat dilakukan menggunakan identitas khusus atau barcode. Namun, penerapannya perlu mempertimbangkan masyarakat di daerah pedesaan yang belum tentu memiliki telepon seluler.

Fabby menilai pengurangan subsidi LPG juga perlu dibarengi diversifikasi energi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap LPG impor. Selain kompor listrik dan CNG, biomassa juga dapat dikembangkan sebagai sumber energi untuk memasak, khususnya di wilayah pedesaan.

"Ada diversifikasi bahan bakar, yang tadinya LPG mungkin bisa kembali ke tungku biomasa modern yang lebih bersih, dan bahan bakarnya bisa diproduksi secara lokal," imbaunya.

Ia mendorong pemerintah merumuskan diversifikasi ini menjadi program. Jadi, konsekuensi penurunan LPG 3 kg dibarangi dengan program untuk membangun pasokan bahan bakar yang tersedia sampai ke desa-desa, bahkan daerah terpencil.

"Jika diversifikasi energi itu terjadi, ketahanan energi justru meningkat, tetapi kuncinya itu harus direncanakan dan dijadikan program oleh pemerintah, tidak bisa hanya diomongkan atau diharapkan atau inisiatif itu muncul di masyarakat," pungkasnya.

[Gambas:Youtube]

(lil/pta)

HALAMAN:
1 2