Wanti-wanti Dolar AS Menguat, Bos BI Beber Strategi Jaga Rupiah

CNN Indonesia
Senin, 28 Sep 2026 15:50 WIB
Bank Indonesia (BI) mengungkap kerugian akibat serangan siber di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar US$6,2 miliar atau senilai Rp110,93 triliun (asumsi kurs Rp17.892 per dolar AS) pada 2026. Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan pesatnya adops
Gubernur BI Destry Damayanti mengingatkan penguatan dolar AS terhadap mata uang dunia masih menjadi tantangan bagi perekonomian. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Laurent Nabila).
Jakarta, CNN Indonesia --

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengingatkan penguatan dolar AS terhadap mata uang dunia masih menjadi tantangan bagi perekonomian.

Kondisi tersebut dipicu tren suku bunga tinggi bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) dan meningkatnya inflasi global.

Destry mengatakan penguatan dolar AS terjadi seiring keputusan The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin ke level 3,75-4 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bank sentral sendiri masih memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga sekali lagi pada kuartal IV 2026.

"Belum lama ini The Fed juga menaikkan suku bunga 25 bps dan kami masih perkirakan satu kali lagi di kuartal IV. Ini mendorong penguatan pada dolar ke mata uang kuat lainnya, DXY capai 101,11, di Asia 96,26," ujar Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, Senin (28/9).

Menurut Destry, kenaikan suku bunga global tersebut tidak terlepas dari inflasi dunia yang masih meningkat. Inflasi global saat ini tercatat 4,6 persen sehingga mendorong bank sentral di berbagai negara memperketat kebijakan moneternya.

"Inflasi global meningkat 4,6 persen dan ini mendorong mengetatnya kebijakan moneter global," tegasnya.

Tekanan inflasi tersebut turut dipengaruhi kenaikan harga komoditas energi akibat konflik geopolitik yang masih berlangsung, khususnya di Timur Tengah.

Destry mencatat harga minyak mentah pada 24 September 2026 mencapai US$125,53 per barel, jauh di atas rata-rata Agustus 2026 sebesar US$90,88 per barel.

"Harga minyak yang terus meningkat di mana posisi 24 September mencapai US$125,53 per barel dan ini lebih tinggi dibanding rata-rata Agustus 2026 yang kisaran US$90,88 per barel," ujarnya.

Destry mengatakan kondisi global tersebut membuat Indonesia menghadapi tantangan terhadap neraca pembayaran dan stabilitas nilai tukar. Oleh karena itu, BI akan mengarahkan kebijakan moneter lebih berorientasi pada stabilitas, dengan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.

"Ini akan memengaruhi kinerja neraca pembayaran Indonesia, termasuk stabilisasi nilai tukar kami. Jadi kesimpulannya di global kita akan hadapi situasi atau fenomena higher for longer," ujar Destry.

"Kebijakan moneter akan lebih pro stability, lainnya kita arahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," lanjutnya.

Di tengah tekanan tersebut, BI memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen pada September 2026.

Destry mengatakan keputusan tersebut telah mempertimbangkan berbagai risiko terhadap perekonomian, termasuk dampak suku bunga terhadap pertumbuhan ekonomi.

"Kami melakukan assessment, kami juga melakukan stress analysis. Kami melihat setiap dampak kenaikan BI Rate maupun pergerakan rupiah terhadap pertumbuhan ekonomi seperti apa," jelasnya.

Menurut Destry, inflasi masih menjadi jangkar utama dalam menentukan arah kebijakan moneter BI. Saat ini, BI menilai kondisi inflasi masih terkendali dengan inflasi inti berada di sekitar 2 persen, sementara inflasi umum tercatat 3,19 persen.

"Kenapa BI tidak menaikkan suku bunga? Karena anchor kami adalah inflasi. Saat ini kami masih merasa nyaman dengan kondisi inflasi," ujarnya.

Ia mengatakan inflasi umum tersebut terutama dipengaruhi komponen harga pangan bergejolak atau volatile food, bukan tekanan permintaan domestik. Karena itu, pengendalian inflasi pangan membutuhkan koordinasi lintas lembaga dan tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan suku bunga.

"Kita lihat ternyata komponen volatile food inflation. BI tidak bisa sendirian. Ini mengapa ke depan koordinasi itu is a must," ujar Destry.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI juga akan memperkuat sejumlah kebijakan, termasuk pengawasan lalu lintas devisa serta kecukupan likuiditas melalui operasi moneter repo untuk surat berharga non-SBN.

"Ke depan kami akan terus melakukan penguatan pada setiap pilar kebijakan yaitu untuk moneter, antara lain kami akan memperkuat pengawasan lalu lintas devisa, kemudian juga kami akan terus memperkuat kecukupan likuiditas melalui repo operasi moneter untuk non-SBN," ujarnya.

Destry mengatakan operasi moneter melalui repo tersebut telah dipersiapkan dan akan dilakukan bersama PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) mulai Oktober 2026.

Selain itu, BI akan memperkuat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing, termasuk mendorong diversifikasi penggunaan mata uang dalam transaksi internasional.

"Kita perlu melakukan diversifikasi dari mata uang valas lainnya dalam rangka mendukung kegiatan ekspor ataupun investasi Indonesia," ucapnya.

[Gambas:Youtube]

Menurut Destry, transaksi menggunakan Local Currency Transaction (LCT) terus menunjukkan pertumbuhan. Namun, peningkatan volume transaksi tersebut masih perlu diikuti dengan penguatan likuiditas mata uang terkait di pasar uang dan pasar valuta asing.

Selanjutnya, BI juga terus mendorong penguatan likuiditas renminbi China dan yen Jepang serta memperluas produk lindung nilai atau hedging yang dapat digunakan investor asing dan pelaku pasar.

Tak hanya itu, sambung Destry, BI akan terus memperluas kerja sama pembayaran lintas negara serta memperkuat kerja sama dengan bank sentral negara mitra.

Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat ketahanan eksternal Indonesia di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian.

(lau/sfr)