BI Buka Suara soal Rupiah Kembali Tembus Rp18 Ribu Hari Ini
Bank Indonesia (BI) buka suara soal nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18 ribu per dolar AS pada perdagangan Selasa (29/9).
Pantauan CNNIndonesia.com melalui Bloomberg, rupiah berada di level Rp18.012 per dolar AS pada pukul 11.11 WIB. Rupiah melemah 34 poin atau 0,19 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi berlanjutnya kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global dan risiko fiskal.
Tekanan tersebut sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia yang telah menembus US$108 per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz.
"Kenaikan harga minyak hingga di atas USD108 per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz. Hal ini mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut," kata Erwin dalam keterangannya, Selasa (29/9).
Menurut Erwin, kondisi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury (UST) tenor 10 tahun ke level 5,23 persen. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2007.
Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kebutuhan valuta asing (valas) importir menjelang akhir kuartal III 2026. Arus keluar dana dari portofolio aset negara-negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi juga ikut menekan rupiah.
"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi," ujarnya.
Erwin mengatakan BI terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya.
Selain itu, BI mengelola struktur suku bunga di pasar uang melalui penguatan strategi operasi moneter yang pro-market. Efektivitas stabilisasi nilai tukar juga diperkuat dengan menjaga kecukupan likuiditas.
"Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya," kata Erwin.
BI juga meningkatkan insentif untuk instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai kepada BI dalam rangka pendanaan luar negeri.
Erwin menegaskan intervensi terhadap rupiah akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui sejumlah instrumen.
"Intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," jelasnya.
BI juga terus melakukan koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Meski rupiah tertekan, Erwin mengatakan pergerakannya secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan. Pelemahan rupiah secara quarter-to-date (qtd) tercatat sebesar 0,67 persen.
"Secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan pelemahan terbatas secara quarter-to-date (qtd) sebesar 0,67 persen," katanya.
Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia tercatat meningkat menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026. BI sebelumnya menyebut posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
(lau/pta)