47 Tahun KFC Indonesia Buka Babak Baru, Transformasi QSR Menuju QXR
Memasuki usia ke-47, KFC Indonesia menjadikan perjalanan panjangnya sebagai momentum untuk membuka babak baru.
Setelah hampir lima dekade tumbuh bersama masyarakat Indonesia, KFC membawa pengalaman restorannya ke arah yang lebih modern dengan bertransformasi dari Quick Service Restaurant (QSR) menuju Quick Experience Restaurant (QXR).
Transformasi tersebut menjadi bagian dari upaya KFC Indonesia untuk tetap relevan di tengah perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi, serta dinamika budaya yang membuat pengalaman bersantap semakin beragam.
Direktur V KFC Indonesia Wachjudi Martono mengatakan perjalanan 47 tahun KFC menunjukkan bagaimana perusahaan terus beradaptasi mengikuti perkembangan zaman.
"Memasuki usia ke-47, kami melihat ini sebagai momentum untuk terus berkembang bersama konsumen. Modernisasi bukan berarti meninggalkan apa yang telah menjadi kekuatanKFC, tetapi membawa pengalamanKFC ke tahap berikutnya tanpa kehilangan cita rasa original yang telah menjadi bagian dari perjalanan kami,"ujarWachjudi dalam konferensi pers peringatan 47 tahunKFC Indonesia di GeraiMelawai, Jakarta, Selasa (29/9).
Ia mengatakan, perjalanan KFC di Indonesia dimulai dari satu gerai pada 1979 hingga kini berkembang menjadi 683 gerai yang beroperasi di 181 kota di 34 provinsi. Menurutnya, pertumbuhan tersebut tidak hanya menunjukkan perkembangan bisnis, tetapi juga kedekatan KFC dengan masyarakat Indonesia dari generasi ke generasi.
"Bagi kami, hal yang terpenting adalah dapat bertumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia dalam menikmati produk ayam, khususnya ayam goreng yang selalu kami coba dan kami sajikan secara fresh, dengan cita rasa yang baik, mutu yang berstandar tinggi, dan dibuat dengan kesungguhan hati untuk dapat menyajikan rasa original kami," katanya.
Sejalan dengan perjalanan tersebut,KFC terus melakukan adaptasi melalui inovasi produk, peningkatan pengalaman pelanggan di restoran, pemanfaatan teknologi, serta penguatan kanal digital.
Direktur VII KFC Indonesia Dio May Avico mengatakan perubahan perilaku masyarakat menjadi salah satu alasan KFC perlu melakukan transformasi.
"Cara orang makan, cara orang ngobrol, cara orang memilih tempat nongkrong, semuanya berubah. Dan jika kita berdiri diam, kita akan ketinggalan," ujarnya.
Dio menegaskan keberadaan KFC di berbagai wilayah Indonesia saja tidak lagi cukup. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengalaman yang diberikan tetap relevan bagi konsumen.
Karena itu, momentum ulang tahun ke-47 tidak hanya dimaknai sebagai perayaan perjalanan KFC, tetapi juga sebagai awal dari fase baru.
"Jadi ulang tahun ke-47 ini, bagi kami, bukan hanya perayaan. This is us, starting a new chapter," kata Dio.
Ia menjelaskan perubahan QSR menjadi QXR pada dasarnya hanya mengubah satu huruf, tetapi memiliki makna yang lebih luas bagi arah bisnis KFC ke depan.
"Dulu kami hanya berfokus pada quick, tetapi sekarang kami mengerti bahwa future customers dan current customers tidak hanya mengharapkan quick service, tetapi juga experience yang mereka dapatkan setiap kali melakukan transaksi di KFC," ujarnya.
Dengan konsep QXR, KFC ingin setiap kunjungan pelanggan tetap berlangsung cepat, tetapi sekaligus menghadirkan pengalaman yang lebih berkesan.
"Jadi sekarang kami ingin setiap kunjungan itu berkesan untuk customer kami. Tetap cepat, tetapi ada experience-nya," kata Dio.
Untuk mendukung transformasi tersebut, KFC menyiapkan empat elemen utama, yakni modern experience, modern assets, modern menu, dan modern communication. Keempatnya akan disatukan oleh prinsip cultural relevance agar perubahan yang dilakukan tetap dekat dengan generasi berikutnya.
Dalam aspek modern experience, KFC memperkuat layanan digital melalui kios di gerai, KFCku App, dan web order. Aplikasi juga dikembangkan dengan pendekatan yang lebih personal serta dilengkapi gamification agar transaksi memberikan pengalaman yang lebih menarik bagi pelanggan.
Namun, transformasi digital tidak berarti menghilangkan sentuhan manusia. KFC justru menilai hospitality tetap memiliki peran penting ketika interaksi digital semakin kuat.
"Jadi bagi kami, human hospitality in digital-first world justru semakin penting," ujar Dio.
Selain pengalaman digital, modernisasi juga menyasar aset atau gerai KFC. Salah satu contohnya terlihat di KFC Banyuwangi yang menggunakan identitas visual baru dengan desain yang terinspirasi dari rumah Osing khas Banyuwangi.
"Jadi modern assets, tetapi tetap terasa lokal. Ini contoh bagaimana kami menggabungkan elemen modern dan cultural elements di dalam store kami," katanya.
Sementara itu, GM Marketing KFC Indonesia Alfiya Rahman mengatakan transformasi tersebut dilakukan untuk mempersiapkan KFC menghadapi generasi berikutnya.
Menurut Alfiya, generasi berikutnya bukan kelompok yang masih jauh, melainkan sudah menjadi bagian dari konsumen KFC saat ini. KFC melihat konsumen usia 14-22 tahun sebagai cultural catalyst yang ikut membentuk budaya melalui hal-hal yang mereka sukai dan bicarakan.
"Karena itu, kalau kami ingin dekat dengan mereka, tidak bisa hanya speak to them, tetapi we need to speak with them," ujar Alfiya.
Transformasi juga mencakup identitas visual dan pola komunikasi. KFC memperkenalkan visual identity yang lebih fresh, dynamic, playful, dan versatile, sembari tetap mempertahankan karakter yang selama ini melekat pada merek tersebut.
"Namun ini bukan sekadar perubahan look. Ini adalah bagian dari evolusi KFC untuk tetap relevan tanpa kehilangan apa yang membuatnya menjadi KFC," ujar Alfiya.
Ia menambahkan KFC juga ingin berkembang menjadi social-first brand dengan komunikasi yang tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi mendorong konsumen untuk ikut berinteraksi.
Pada akhirnya, modernisasi tersebut diarahkan untuk membawa karakter KFC yang telah dikenal selama 47 tahun kepada generasi berikutnya.
"Jadi, ketika kami berbicara tentang modernisasi, kami tidak sedang meninggalkan apa yang membuat KFC dekat dengan masyarakat Indonesia. Kami justru membawa DNA tersebut ke generasi berikutnya," kata Alfiya.