Pemerintah dan DPR RI menyepakati target penciptaan lapangan kerja baru pada 2027 pada angka 2,57 juta hingga 3,49 juta orang.
Selain mematok target penciptaan lapangan kerja baru, Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah mengungkap peningkatan proporsi pekerja formal ditentukan di 40,81 persen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Mei 2026 jumlah penduduk RI yang bekerja sebagai pekerja formal seperti buruh, karyawan, atau pegawai sebesar 37,09 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Proporsi lapangan kerja formal 40,81 persen, penciptaan lapangan kerja baru tahun 2027 2,57 sampai 3,49 juta orang," ujar Said dalam Rapat Paripurna DPR RI Ke-7 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026-2027 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (29/9).
Menurut Said, dengan kucuran belanja negara yang sangat besar, sekadar menurunkan angka pengangguran tidak lagi cukup.
Serapan tenaga kerja harus dibarengi dengan kualitas pekerjaan yang lebih baik, mencakup pemberian jaminan sosial, jaminan hari tua, serta hubungan ketenagakerjaan yang mendapat perlindungan hukum.
"Itulah sebabnya kami menyepakati agar proporsi lapangan kerja formal semakin membesar dan secara gradual menggeser proporsi tenaga kerja informal," ujar Said.
Dalam konferensi pers usai rapat paripurna, Menteri Keuangan Suahasil Nazara sepakat dengan apa yang disampaikan Said mengenai urgensi peningkatan lapangan kerja formal.
Ia menegaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan terus diarahkan dan dikelola secara kredibel untuk menumbuhkan serta melindungi perekonomian nasional.
"Tadi pidato dari Bapak Ketua Banggar salah satunya menyebutkan juga pentingnya pada saat ini kita memikirkan bagaimana menciptakan employment, serapan tenaga kerja semakin formal semakin baik," ujar Suahasil.
Di sisi lain, Suahasil mengatakan kinerja ekspor nasional perlu didorong lagi mengingat tingginya volatilitas ekonomi dunia saat ini.
Ketidakpastian global tersebut salah satunya dipicu oleh manuver Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, yaitu perang dengan Iran.
Namun, ia meyakini ketahanan ekonomi domestik Indonesia masih sangat kuat untuk menahan gejolak tersebut.
Capaian pertumbuhan ekonomi di level 5,45 persen pada semester I 2026 dinilai menjadi bukti konkret bahwa roda kegiatan ekonomi terus berputar, transaksi berjalan, penerimaan pajak mencatatkan pertumbuhan, dan inflasi dapat dikendalikan.
"Ini semua adalah modal kita untuk terus menciptakan employment tadi dan juga modal kita untuk terus bisa melakukan ekspor ke pasar dunia dan ini akan berakibat baik untuk negara kita," ujar Suahasil.