Direktur Eksekutif Visi Indonesia Raya Emisi Nol Bersih (ViriyaENB) Suzanty Sitorus mengungkap tantangan Indonesia dalam menurunkan emisi dalam sektor industri dan teknologi.
"Tantangannya sangat besar, tadi Pak Wamenperin sudah menyebutkan beberapa hal. Jadi, baik sektor industri maupun transportasi di Indonesia kita masih bertumpu pada bahan bakar fosil," ujar Suzanty dalam acara EVolution Forum yang diadakan CNN Indonesia, Rabu (30/9).
Suzanty mengatakan ketergantungan pada bahan bakar fosil ini berdampak pula pada polutan lokal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan kalau dari segi dampaknya, bukan hanya emisi tapi juga ada polutan lokal, ya, PM2.5. Itu sudah dirasakan langsung jadi tidak menunggu sampai ada konsentrasi lalu dampaknya baru kelihatan akhir tahun," katanya.
Lihat Juga : |
Selain itu, kata Suzanty, tantangan juga ada pada penanganan industri yang menggunakan batu bara. Penanganan yang bersifat segera menjadi sulit karena persoalan teknologi dan biaya.
"Ini semua tantangannya berlangsung secara simultan tapi tadi kita sudah mendengar ya dari misalnya industri, industri itu menggunakan batu bara baik secara langsung ya terutama seperti semen, baja, lalu kimia dan smelter untuk memproses mineral baik secara langsung batu bara untuk hitnya maupun juga melalui PLTU yang ada di kawasan industrinya," katanya.
Suzanty menyebut di sektor transportasi, bahan bakar yang digunakan pun masih memiliki kandungan sulfur yang tinggi.
"Sehingga di banyak perkotaan terjadi konsentrasi polusi udara dari sektor transportasi dan sudah melampaui batas ambang mutu di nasional maupun yang ditetapkan organisasi kesehatan dunia," ujarnya.
Lihat Juga : |
Lebih lanjut, Suzanty mengatakan persoalan ini pun tak bisa diselesaikan oleh satu pihak, satu sektor, maupun satu wilayah saja. Menurutnya, sejumlah pihak dari berbagai sektor dan pemerintah harus terlibat bersama.
"Juga yang untuk transportasi ada bagian dari kementerian perindustrian juga dan jangan lupa ada pemerintah daerah juga karena polusi tidak mengenal batas wilayah," lanjutnya.
Maka dari itu, Suzanty mendorong adanya pembentukan sistem sehingga mampu menangani masalah secara lebih komprehensif.
"Tantangannya besar di sini lebih pada bagaimana kita mengimplementasikan tadi sudah ada strategi yang sangat baik dari pak wamenperin di tengah banyak kita kelemahan dalam institusi dalam koordinasi dan juga biaya untuk tadi semua baik dari segi teknologinya maupun sistemnya," jelas Suzanty.
(mou/fra)

