Menkeu Suahasil Kenang Ketika Inflasi RI Tembus 650 Persen

CNN Indonesia
Kamis, 01 Okt 2026 20:45 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara dalam acara Memorial Lecture Edisi Khusus 100 Tahun Frans Seda di Universitas Atma Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (1/10).
Menkeu Suahasil mengenang peran Frans Seda dalam menghadapi hiperinflasi 650 persen di Indonesia. Kebijakan berimbangnya kini jadi fondasi ekonomi. (FOTO:CNN Indonesia/Endrapta Ibrahim Pramudhiaz).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara mengenang ketika RI dilanda hiperinflasi hingga 650 persen di era Menteri Keuangan periode 1966-1968 Franciscus Xaverius Seda atau Frans Seda.

Suahasil mengatakan Frans Seda memimpin Indonesia keluar dari masa gejolak ekonomi yang sangat berat. Menurut dia, saat itu cadangan devisa negara terkuras habis, ekspor tertahan, dan utang luar negeri menumpuk masif.

Selain itu, RI mengadapi tantangan kredibilitas fiskal lantaran pengeluaran negara melonjak hingga tiga kali lipat dari penerimaannya. Defisit tersebut dibiayai melalui ekspansi moneter yang justru semakin mengerek tingkat inflasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau inflasi 650 persen itu berarti bukan hanya harga meroket, biasanya orang antre cari barang. Jadi, itu dua fenomena," ujarnya dalam acara Memorial Lecture Edisi Khusus 100 Tahun Frans Seda di Universitas Atma Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (1/10).

Namun, berkat tangan dingin Frans Seda, laju inflasi berhasil ditekan secara drastis dari 650 persen pada 1966 menjadi 110 persen pada 1967, lalu kembali menyusut ke 85 persen pada 1968.

Suahasil menilai penanganan hiperinflasi 650 persen menuntut asesmen yang cermat. Langkah merespons krisis tersebut harus mempertimbangkan kondisi riil masyarakat, dunia usaha, dan sektor keuangan.

[Gambas:Youtube]

"Saya membayangkan pasti Pak Frans Seda ketika mewarisi perekonomian dengan hiperinflasi 650 persen, beliau dalam hari-harinya, saya yakin dalam doa-doanya juga mencari imbangan ini," ujarnya.

Menurut dia, keseimbangan tersebut mencakup upaya untuk terus menumbuhkan perekonomian dan mengundang sektor usaha bekerja, sedangkan di sisi lain negara dituntut untuk melindungi masyarakat.

Belajar dari situ, Suahasil menekankan pentingnya menjaga kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). APBN harus difungsikan secara optimal sebagai alat untuk menumbuhkan ekonomi sekaligus tameng untuk melindungi rakyat.

"Kredibilitas inilah pesan utama dari Bapak Frans Seda ketika beliau dua tahun menutup periode yang sangat-sangat berat, tapi pada saat yang bersamaan membuka ruang fondasi bagi pelita (pembangunan lima tahun) satu, selanjutnya sampai dengan saat ini," ujar Suahasil.

Sebagai bagian dari pemerintahan saat ini, Suahasil menyatakan akan terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan kredibilitas APBN melalui kombinasi kebijakan yang seimbang.

Frans Seda merupakan tokoh kelahiran Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur pada 4 Oktober 1926. Ia menjabat sebagai Menteri Keuangan pada 25 Juli 1966 hingga 6 Juni 1968 di awal masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Saat ia memimpin, Frans Seda menerapkan kebijakan anggaran berimbang yang menyesuaikan belanja dengan kemampuan penerimaan negara.

Dalam menyusun APBN 1967, ia menggunakan pendekatan yang lebih realistis dan disiplin dengan menekan pengeluaran nonprioritas serta proyek-proyek mercusuar.

Ia juga menata struktur belanja menjadi pengeluaran rutin dan pembangunan agar lebih berorientasi pada pemulihan ekonomi.

Di samping itu, Frans Seda juga berani mengambil keputusan sulit, termasuk memberlakukan penyesuaian harga BBM guna menertibkan postur anggaran.

(dhz/ins)