Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu per Kg di Sumut

CNN Indonesia
Jumat, 02 Okt 2026 03:45 WIB
Pedagang menata cabai rawit merah di Pasar Induk Kramatjati. Jakarta, Rabu, 8 Januari 2025. Harga cabai di Jakarta kembali melonjak drastis. Berdasarkan pantauan Badan Pangan Nasional (Bapanas) di Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ), cabai rawit merah men
Harga cabai di pasar tradisional di Sumatra Utara (Sumut) masih bertahan mahal pada Kamis (1/10). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Medan, CNN Indonesia --

Harga cabai di pasar tradisional di Sumatra Utara (Sumut) masih bertahan mahal pada Kamis (1/10). Selain faktor permintaan, tingginya curah hujan juga menjadi salah satu penyebab terganggunya produksi dan distribusi cabai.

Pengamat Ekonomi Sumatra Utara Gunawan Benjamin mengatakan harga cabai rawit tembus hingga Rp100 ribu per kg, cabai merah Rp85 ribu - Rp90 ribu per kg, cabai hijau Rp60 ribu per kg dan cabai caplak Rp95 ribu per kg.

"Dari hasil pengamatan langsung di pasar tradisional di Deliserdang, Medan dan Langkat, harga cabai cenderung mengalami kenaikan. Di Kabupaten Langkat harga cabai rawit bahkan diecer hingga Rp100 ribu per kg," ujar Gunawan, Kamis (1/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Gunawan, kenaikan harga cabai merah sebelumnya turut mendorong peralihan permintaan ke jenis cabai lainnya. Kondisi tersebut kemudian ikut mengerek harga cabai hijau, cabai rawit maupun cabai caplak.

"Kenaikan cabai merah sebelumnya membuat peralihan demand dan memicu kenaikan harga jenis cabai lainnya. Tidak berhenti di situ curah hujan yang sangat tinggi juga turut memicu gangguan produksi maupun distribusi yang turut mendorong kenaikan harga cabai," jelasnya.

Gunawan mengatakan kenaikan harga tersebut tidak terlepas dari sejumlah faktor fundamental yang menyebabkan pasokan cabai mengalami penurunan.

"Ketidakpastian terkait kesinambungan pasokan ke depan masih menghantui konsumen saat ini," ujarnya.

Kondisi cuaca yang berbeda antara Sumatra Utara dengan sejumlah wilayah lain, tambah Gunawan, juga membuat proyeksi harga cabai ke depan menjadi sulit dipastikan.

"Sejumlah daerah sentra produksi cabai di Sumut telah melewati masa panen, sementara permintaan dari luar Sumut masih relatif konsisten," sebutnya.

Kondisi ini berpotensi membuat tekanan terhadap harga terus berlanjut apabila pasokan baru belum mampu mengimbangi kebutuhan pasar.

Ia memperkirakan kenaikan harga cabai ini akan memukul usaha kuliner bahkan yang sudah memiliki nama besar tanpa terkecuali.

"Daya beli masyarakat pastinya tertekan saat ini. Bagi pelaku usaha kuliner seperti ayam penyet sangat terpukul dengan kenaikan harga tersebut. Selain mereka terbebani dengan harga daging ayam yang belakangan bertahan mahal, saat ini mereka harus menghadapi kenaikan harga cabai," urainya.

[Gambas:Youtube]

Pada awal Oktober 2026 ini, menurut Gunawan, cabai telah menebar ancaman inflasi. Sebagai salah satu komoditas yang dominan dalam perbumbuan dapur.

"Kenaikan harga akan memaksa para ibu rumah tangga untuk mengubah menu yang lebih akomodatif dengan isi kantong. Sementara bagi pelaku usaha kuliner baik kecil maupun besar, berpeluang mengurangi porsi sambal dibandingkan dengan menaikkan harganya," ucapnya.

(fnr/sfr)