Cerita Detik-detik Bandara Soetta Tutup Imbas Erupsi Anak Krakatau
PT Angkasa Pura Indonesia (AP) mengungkap momen sebelum Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, ditutup total imbas paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau pada 6 September 2026 dini hari.
Direktur Operasi PT Angkasa Pura Indonesia Agus Hariyadi mengatakan peringatan mengenai ancaman abu vulkanik sudah disuarakan sejak 5 September sore.
Menurut dia, maskapai Pelita Air menjadi pihak yang paling awal mendorong rencana penutupan bandara demi alasan keselamatan.
"Sebenarnya kalau boleh saya ceritakan, yang ribut pertama kali ini Pelita. Dari sore (tanggal 5 September) sudah ribut," ujarnya dalam acara Lokakarya Forum Wartawan Perhubungan di Bandung, Jawa Barat, Jumat (2/10).
Agus mengaku dihubungi berkali-kali oleh Direktur Utama Pelita Air Faik Fahmi pada sore itu.
Koordinasi intensif akhirnya dilanjutkan melalui panggilan WhatsApp bersama Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Lukman F. Laisa sekitar 16.30 WIB untuk mengantisipasi sebaran abu yang berpotensi meluas ke arah Jakarta.
Berdasarkan dinamika koordinasi tersebut, Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara (Otban) Wilayah I Soekarno-Hatta Putu Eka Cahyadhi akhirnya mengambil keputusan untuk menghentikan total operasional bandara. Agus menyebut keputusan tersebut sebagai sebuah sejarah.
"Sepanjang yang saya tahu, saya bekerja di Soekarno-Hatta dari tahun 1992 artinya sudah 35 tahun, belum pernah mengalami penutupan bandara secara total," ujar Agus.
Penutupan total semacam ini bahkan tidak diterapkan saat masa pandemi COVID-19. Bandara Soekarno-Hatta disebut hanya pernah mengalami penutupan sebagian (partial close), misalnya saat ada perbaikan landasan pacu (runway).
Dalam acara yang sama, Direktur Safety Pelita Air Eriza Muslim membenarkan pihaknya berulang kali memperingatkan otoritas saat abu vulkanik mulai mendekati Jakarta.
Menurut dia, peringatan tersebut didasarkan pada data dan pengalaman maskapai saat menghadapi erupsi Gunung Sinabung di Medan.
Ketika akhirnya kejadian serupa terjadi di Bandara Soekarno-Hatta, mereka mengumpulkan data dari BMKG serta Airnav dan berkoordinasi dengan Otoritas Bandara beserta pemangku kepentingan yang lain.
"Pada saat itu di kokpit sudah bau belerang. Jadi pada saat itu kita sudah mitigasi dan kita evaluasi data dari satelit Himawari setiap tiga hingga enam jam. Kita berkoordinasi dengan otoritas bandara dan akhirnya kita melakukan penutupan penerbangan malam hari dari Surabaya dan Denpasar," ujar Eriza.
Ia mengakui keputusan penutupan penerbangan bukanlah pilihan yang populis. Langkah tersebut memicu kerugian komersial bagi maskapai serta berdampak langsung pada ketepatan waktu penerbangan.
Namun, ia menegaskan keselamatan penumpang dan awak kabin merupakan komitmen utama Pelita Air.
"Keputusan yang sangat berat, tapi memang safety atas segalanya. Kita cuma kasih rekomendasi buat operasi, bukan mengambil keputusan. Keputusan itu dari pihak otoritas," ujar Eriza.
Adapun Bandara Soekarno-Hatta ditutup selama dua hari imbas paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau dari 6 September hingga 8 September.
(dhz/sfr)