Digelar 6-7 Oktober, ISF 2026 Dorong Pertumbuhan Ekonomi Hijau Global

ISF 2026 | CNN Indonesia
Sabtu, 03 Okt 2026 16:25 WIB
Penyelenggaraan ISF 2025. (Foto: ISF 2026)
Jakarta, CNN Indonesia --

Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 akan digelar pada 6-7 Oktober di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta dengan tema "Investing for a Resilient, Sustainable, and Prosperous World".

Memasuki tahun keempat penyelenggaraan, forum ini mempertemukan pemimpin pemerintahan, dunia usaha, investor, lembaga keuangan, akademisi, dan organisasi internasional untuk membahas kontribusi pertumbuhan ekonomi, inovasi, teknologi, dan pembiayaan bagi masa depan yang lebih tangguh dan sejahtera.

Sejumlah tokoh global dipastikan hadir, di antaranya Wakil Sekretaris Jenderal sekaligus Sekretaris Eksekutif UNESCAP, Armida Salsiah Alisjahbana; Utusan Khusus Presiden RI Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo; serta Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Anindya Bakrie, bersama puluhan pemimpin perusahaan dan pengambil kebijakan tingkat global lainnya.

Forum ini lahir dari ambisi yang sama-sama dimiliki Indonesia dan banyak negara lain, yakni menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sambil mempercepat transisi rendah karbon, memperkuat ketahanan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Lewat ISF, Indonesia berupaya memposisikan diri sebagai simpul penting dalam percakapan global soal masa depan pertumbuhan berkelanjutan.

Pembahasan dibagi dalam dua fokus besar yang saling melengkapi. Hari pertama mengangkat tema "Powering Low-Carbon Growth", membahas sektor-sektor strategis pendorong pertumbuhan rendah karbon.

Sementara hari kedua yang bertema "Enabling a Resilient & Liveable Future", menyoroti berbagai faktor pendukung bagi fondasi pertumbuhan yang tangguh dan inklusif.

(Foto: Arsip ISF 2026)

Ketua Pelaksana ISF 2026, Rachmat Kaimuddin, menilai konsistensi menjaga agenda keberlanjutan menjadi semakin krusial di tengah dinamika global saat ini.

"Di tengah perubahan arah dan dinamika global, menjaga konsistensi agenda keberlanjutan menjadi semakin penting. Bagi Indonesia, tantangannya adalah bagaimana menjaga momentum pertumbuhan sekaligus mendorong transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan," ujar Rachmat.

Menurutnya, pertumbuhan hijau semestinya dilihat sebagai bagian dari strategi pembangunan, bukan sekadar agenda tambahan.

"Kami melihat pertumbuhan hijau perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan untuk memperkuat ketahanan ekonomi, membuka peluang baru, dan menciptakan nilai jangka panjang bagi masyarakat. Berangkat dari kepentingan nasional justru dapat membuat agenda keberlanjutan lebih relevan, berkelanjutan, dan membuka ruang kolaborasi global," katanya.

Pandangan serupa disampaikan Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Keberlanjutan Kadin Indonesia, Shinta Kamdani. Ia menilai keberlanjutan kini sebagai bagian dari strategi pertumbuhan dan daya saing dunia usaha.

"Sustainability semakin menjadi bagian dari bagaimana dunia usaha melihat pertumbuhan, daya saing, dan peluang di masa depan. Bagi perusahaan, transisi ini membuka ruang untuk berinovasi, menciptakan nilai, dan membangun daya saing jangka panjang. ISF 2026 mempertemukan dunia usaha, investor, pemerintah, dan berbagai mitra strategis untuk melihat peluang tersebut dan mendorong kolaborasi yang dapat mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan dan resilient," kata Shinta.

Rachmat menambahkan, forum ini dirancang sebagai ruang bertukar pengalaman lintas sektor sekaligus mengeksplorasi solusi yang benar-benar bisa diterapkan.

"ISF 2026 membuka ruang bagi pemerintah, dunia usaha, investor, dan berbagai pemangku kepentingan untuk bertukar pengalaman, melihat tantangan dari berbagai perspektif, dan mengeksplorasi solusi yang dapat diterapkan. Bagi Indonesia, kolaborasi seperti ini penting untuk mendorong inovasi, memperkuat daya saing, dan membangun pertumbuhan yang lebih berkelanjutan dan resilient dalam jangka panjang," ujarnya.

ISF 2026 menghadirkan lebih dari 200 pembicara internasional dalam rangkaian sesi plenary maupun tematik, mewakili unsur pemerintah, organisasi internasional, dunia usaha, lembaga keuangan, akademisi, dan berbagai institusi global.

Beberapa nama yang telah dikonfirmasi antara lain Sigit Puji Santosa (CTO Danantara Indonesia), Helen Clarkson OBE (CEO The Climate Group), Justin Ma (Head of Transition Finance & Advisory ASEAN and South Asia, Standard Chartered Bank), Allen Tom Abraham (Global Head of Sustainable Materials, BloombergNEF), Felipe Carazo (Tropical Forest Alliance).

Lalu, juga Frederick Teo (CEO GenZero), hingga Jeremy Oppenheim (Founding Partner Systemiq). Secara keseluruhan, forum ini akan menggelar lebih dari 20 sesi dan diperkirakan dihadiri ribuan peserta dari kalangan pemerintah, dunia usaha, akademisi, think tank, investor, serta organisasi filantropi.

Skala besar ini bukan hal baru bagi ISF. Sejak pertama digelar pada 2023, forum ini terus bertumbuh sebagai platform yang mempertemukan kepala negara, dunia usaha, investor, lembaga internasional, dan akademisi.

ISF 2023 mencatat lebih dari 2.000 peserta dari lebih dari 40 negara, sementara ISF 2024 dan 2025 masing-masing dihadiri lebih dari 11.000 dan 10.000 peserta, dengan lebih dari 100 pembicara pada tiap penyelenggaraan. Dari pertemuan-pertemuan itu, lebih dari 30 nota kesepahaman (MoU) di bidang transisi energi berhasil difasilitasi.

Capaian itu menjadi modal bagi ISF 2026 untuk memperluas ruang kolaborasi sekaligus memperkuat keterkaitan antara agenda keberlanjutan, pertumbuhan ekonomi, dan ketahanan nasional.

ISF 2026 terbuka bagi masyarakat umum, pelaku usaha, akademisi, media, investor, maupun pemangku kepentingan lainnya. Pendaftaran dapat dilakukan melalui situs resmi Indonesia International Sustainability Forum hingga 5 Oktober 2026.

(rea/rir)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK