Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp17.916 per Dolar AS Selasa Pagi
Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.916 per dolar AS pada perdagangan Selasa (6/10) pagi. Mata uang Garuda menguat 1 poin atau 0,01 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang menguat terhadap dolar AS. Yuan China naik 0,02 persen, ringgit Malaysia terapresiasi 0,04 persen, dolar Singapura menguat 0,01 persen, dan yen Jepang naik 0,03 persen.
Sementara itu, peso Filipina melemah 0,24 persen, won Korea Selatan terdepresiasi 0,22 persen, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen terhadap dolar AS.
Di pasar mata uang utama negara maju, euro Eropa menguat 0,01 persen dan poundsterling Inggris naik 0,03 persen. Di sisi lain, dolar Australia terkoreksi 0,01 persen dan franc Swiss melemah 0,04 persen, sementara dolar Kanada bergerak datar.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang tertekan setelah data aktivitas sektor jasa Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan.
"Rupiah diperkirakan akan menguat terhadap dolar AS yang terkoreksi setelah data ISM Services AS yang lebih lemah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Namun, menurutnya, ruang penguatan rupiah masih terbatas oleh imbal hasil obligasi AS yang masih tinggi serta kenaikan harga minyak mentah dunia.
"Namun penguatan diperkirakan terbatas oleh masih tingginya imbal hasil obligasi AS dan minyak mentah dunia," katanya.
Pelaku pasar juga masih akan mencermati sejumlah data ekonomi domestik yang dijadwalkan rilis pekan ini, termasuk cadangan devisa, keyakinan konsumen, dan penjualan ritel.
"Investor juga masih wait and see menantikan rilis data ekonomi domestik pekan ini, di antaranya cadangan devisa, kepercayaan konsumen, dan penjualan ritel," ujar Lukman.
Ia memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan hari ini.