Mengupas Tuah Kemenko Baru Prabowo, Bawa Berkah atau Justru Bencana?

Endrapta Ibrahim Pramudhiaz | CNN Indonesia
Rabu, 07 Okt 2026 07:20 WIB
Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi merangkap Menteri ESDM.
Presiden Prabowo bentuk Kemenko Hilirisasi dan Transisi Energi, dipimpin Bahlil. Namun, struktur kementerian belum jelas, menimbulkan kritik dan keraguan. (FOTO:Tangkapan Layar Youtube Setpres).

Koordinator Nasional PWYP Indonesia Aryanto Nugroho mengatakan penggabungan dua mandat yang saling bertentangan ini berisiko menjebak Indonesia dalam "solusi palsu".

Aryanto mencontohkan proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol milik Arutmin dan KPC melalui PT Bumi Etam Chemical.

Proyek tersebut membutuhkan sekitar 7,7 juta ton batubara kalori rendah per tahun. Nilai investasinya US$2,5 miliar dan produksi ditargetkan mulai akhir 2029.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia juga mencontohkan masifnya pembangunan smelter nikel yang ditopang Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) captive justru akan memperpanjang umur permintaan batu bara.

Aryanto pun mengingatkan saat KTT G20 Rio de Janeiro pada November 2024, Prabowo sebenarnya menyampaikan rencana menghentikan PLTU batu bara dan pembangkit fosil dalam 15 tahun, serta optimisme mencapai net zero emission sebelum 2050.

"Janji itu sulit diukur ketika pos yang sama justru mendorong proyek yang mengunci permintaan batu bara untuk jangka panjang," kata Koordinator Nasional PWYP Indonesia Aryanto Nugroho dalam keterangan tertulis, Selasa (6/10).

Lebih lanjut, ia khawatir kehadiran kemenko ini tidak menyelesaikan masalah keekonomian proyek hilirisasi, melainkan sekadar menjadi saluran untuk meloloskan insentif seperti royalti 0 persen bagi proyek fosil yang sebenarnya tidak layak.

Pada akhirnya, beban tersebut akan ditanggung oleh negara melalui hilangnya potensi penerimaan royalti.

Sementara itu, Peneliti PWYP Indonesia Ariyansah NK mengkritik absennya prinsip "berkeadilan" dalam nomenklatur kemenko tersebut.

Menurut dia, transisi yang sekadar berorientasi pada kecepatan eksekusi akan memindahkan beban penderitaan kepada kelompok yang paling lemah.

Dampak rapuhnya ekosistem hilirisasi tersebut telah terbukti lewat pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang menimpa ribuan pekerja PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) di Morowali Utara.

Sejak 5 Agustus 2026, PT GNI di Morowali Utara memulai PHK bertahap terhadap sekitar 1.900 dari 6.325 pekerjanya, di tengah proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU).

Selain itu, kerapuhan ekosistem hilirisasi juga dinilai menimbulkan deforestasi dan pencemaran lingkungan yang meminggirkan hak masyarakat adat, dalam hal ini di kawasan industri nikel Morowali dan Halmahera.

"Transisi energi yang hanya dikejar kecepatannya akan memindahkan beban ke pihak yang paling lemah. Kemenko ini perlu menjawab satu pertanyaan sejak awal: transisi untuk siapa?" ujar Ariyansah.

[Gambas:Video CNN]

(ins)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2