Amerika Serikat (AS) membukukan defisit perdagangan membengkak ke US$105,6 miliar pada Agustus, lebih besar dari perkiraan. Defisit dipicu lonjakan barang impor terkait pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan imbas penerapan tarif impor Presiden AS Donald Trump.
Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan AS yang dirilis Selasa (6/10), bengkaknya defisit terjadi di tengah penerapan tarif impor agresif Trump saat ia berupaya menekan jurang defisit perdagangan. Laporan juga mencatat AS mengalami rekor defisit perdagangan barang dengan tiga negara, yakni Meksiko, Vietnam dan Malaysia.
Pada Selasa (6/10) Departemen Perdagangan AS merilis laporan impor AS melonjak pada Agustus dan memperlebar angka defisit. Angka ini turut mencerminkan lonjakan 13,7 persen dari catatan Juli dan melampaui perkiraan konsensus Dow Jones yang hanya US$102 miliar, melansir CNBC.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angka tersebut juga melampaui estimasi para ekonom dalam survei Reuters yang memperkirakan defisit berada di angka US$102 miliar. Sebagai pembanding, defisit perdagangan AS berada di level US$79,8 miliar ketika Trump memenangkan pemilu presiden pada November 2024.
Lihat Juga : |
Angka ini juga merupakan defisit terbesar sejak rekor kesenjangan tertinggi AS pada Maret 2025, tepat sebelum Presiden Donald Trump mengumumkan "hari pembebasan" terkait penerapan tarif "timbal balik" terhadap mitra dagang AS.
Meskipun total bulanan meningkat, defisit kumulatif tahun berjalan (year-to-date) neraca perdagangan AS mencapai US$138,2 miliar, alias turun hampir 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Kenaikan harga membuat pergerakan angka ini tampak lebih besar dari kenyataannya, namun demikian perdagangan neto diperkirakan akan menghambat pertumbuhan PDB kuartal ketiga," ujar ekonom keuangan di Nationwide Oren Klachkin.
Umumnya, impor dapat mengurangi nilai dalam perhitungan produk domestik bruto (PDB). Namun, jika impor mencerminkan p
Melansir Reuters, para ekonom menilai AS tidak memiliki kapasitas produksi yang cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan konsumsi dalam negerinya. Sejumlah analis pun mulai menurunkan proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) untuk periode Juli hingga September.
"Kebijakan perdagangan pemerintah sebagian besar dinilai gagal. Penerapan tarif tidak terbukti mengurangi ketergantungan Amerika terhadap barang impor," ujar Kepala Ekonom FWD BONDS Christopher Rupkey.
Rupkey juga menilai, tingginya biaya tenaga kerja di AS membuat barang yang diproduksi di Negeri Paman Sam menjadi sulit bersaing secara harga dengan kebutuhan konsumen.
"Bahkan jika produsen domestik bersedia, pembangunan pabrik baru tidak akan cukup cepat untuk mengejar permintaan pasar," jelas Rupkey.